Monday, July 27, 2020

SEJARAH JILBAB : DARI TIDAK WAJIB KE WAJIB ( Ringkas )

            Tulisan di blog ini telah di revisi tanggal 27 juli 2020.  Tulisan ini sengaja saya tulis dalam 3 versi yang berbeda tapi intinya sama. Versi pertamaTafsir Al Ahzab 59 dan An Nur 31 : Jilbab tidak wajib: berisi Sejarah singkat pemakaian Jilbab dalam Islam yang " sangat ringkas ". Versi keduaJilbab Tidak Wajib Bagi Wanita Muslim Indonesia:berisi Sejarah Orang-orang Arab ( diambil dari buku “ History of The Arabs“ karangan Prof. Philip K Hitti ) dan Sejarah penerapan Jilbab dalam Dunia Islam dalam tulisan yang " Ringkas ". Versi ketigaJilbab Tidak Wajib Bagi Wanita Muslim Indonesia: berisi Sejarah terjadinya Alam semesta ,terciptanya umat manusia sesuai Teori Evolusi yang banyak ditrima dikalangan masyarakat Ilmiah  dan terbentuknya budaya-budaya bangsa-bangsa di dunia. Termasuk sejarah turunnya Alquran , di tulisnya Hadis dan tentu saja Sejarah penerapan Jilbab dalam Agama Islam , saya sajikan dengan versi yang sangat Lengkap ". Bila anda ingin memahami secara utuh saya sarankan ke-3 tulisan ini di baca seluruhnya. 


Tafsir Al Ahzab 59 dan An Nur 31 : Jilbab tidak wajib (  Sangat Ringkas ) …Klik disini

 SEJARAH JILBAB : DARI TIDAK WAJIB KE WAJIB ( Ringkas )........Klik disini

 SEJARAH JILBAB : DARI TIDAK WAJIB KE WAJIB ( Lengkap )…Klik disini

LATAR BELAKANG PENULISAN   

                          “ Kebenaran yang kita yakini , boleh jadi adalah kesalahan yang belum kita sadari “ 

                 Mencari kebenaran adalah ajaran utama Islam. Orang yang mengetahui kebenaran tapi tetap menjalankan kesalahannya , menolak kebenaran atau menutupi kebenaran dalam Islam disebut Kafir. Google : arti Kafir menutup kebenaran. Itulah sebutan untuk kaum Quraisy karena mereka mngetahui kebenaran ajaran Nabi Muhammad tapi menolak kebenaran ajaran Sang Nabi yang mengajarkan agar seseorang bermanfaat dengan berbuat baik bagi orang lain . Demikian juga dengan Abu Jahal dan Abu Lahab ( nama julukan , bukan nama sebenarnya ) yang disebut sebagai orang Kafir. Kedua orang ini selalu menutupi kebenaran dengan mengabarkan ke khalayak ramai , dengan memberi stigma Sang Nabi sebagai seorang  pembohong , orang yang kehilangan ingatan dsb . 

                Mencari kebenaran tidak akan pernah selesai selama hidup kita didunia. Kebenaran yang diyakini seseorang mempunyai tahapan-tahapan. Kebenaran yang kita yakini saat taman kanak-kanak akan berbeda ketika kita SD. Kebenaran yang kita yakini saat SD akan berbeda dengan SMP , berbeda lagi saat SMA  demikian seterusnya sampai Universitas , dewasa berumah tangga dan terus sampai kita menua dan saat ajal menjemput kita. Kebenaran yang kita capai dalam berbagai hal itu tidak akan pernah selesai. Tuhan tentu saja mengerti hal ini , itulah sebabnya menyuruh kita untuk selalu meminta petunjuk dalam Doa / Shalat ( arti shalat : doa ) dengan mengucap : ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm yang berarti tunjukilah kami jalan yang lurus / benar , 17 kali setiap hari seumur hidup sampai sesaat sebelum ajal menjemput kita. Seperti itulah kebenaran harus dicari selama hidup kita. Demikian Emha Ainun Najib atau Cak Nun seorang budayawan dalam ceramahnya yang sangat inspiratif , penuh inspirasi. Youtube : Cak Nun. 

                Mencari kebenaran itulah yang saya lakukan sejak pulang naik haji 2003.  Saya bersungguh-sungguh mempelajari Agama Islam , agama yang saya anut. Yang sebelumnya hanya belajar membaca huruf Arab ( untuk mebaca Alquran ) dan hanya patuh mendengarkan dakwah para Ulama / Ustadz. Hal yang memicu saya untuk mencari kebenaran adalah ketika disana , saya menjumpai semua wanita di Arab Saudi memakai Jilbab hitam-hitam dan tak satupun ada wanita yang menari , menyanyi seperti layaknya di Indonesia. Kemudian saya berpikir inikah ajaran Islam yang sesunggguhnya? Karena bila ini adalah ajaran Islam sesungguhnya maka akan musnahlah budaya saya, bangsa Indonesia umumnya dan Jawa khususnya yang banyak melibatkan para wanita untuk menyanyi dan menari tarian tradisi. Musnahnya budaya bukan saja kita kehilangan Ekonomi kebudayaan yang melibatkan jutaan tenaga kerja tapi juga hidup damai antar warganya . Hal ini bisa kita lihat ketika jutaan wisatawan yang datang ke negara-negara Jepang , China , Korea , Inggris, Perancis  . Mereka ingin melihat kebudayaan lokal sambil membelajakan jutaan dolar yang menyejahterakan warga di negara tesebut. Hilangnya Budaya Lokal  yang berisi ajaran kebajikan lokal didalam pepatah , didalam pemaknaan tari-tarian , didalam cerita-cerita tradisi setempat ,  juga akan menghancurkan tatanan kehidupan damai antar warganya. Kita bisa melihat negara–negara di Arab / Timur Tengah seperti Suriah , Irak , Yaman , Libya , Afghanistan dan masih banyak lagi.

               Meneruskan Tradisi Budaya juga pesan dari kakek saya yang mewanti-wanti untuk menuruskan tradisi budaya Kraton Jawa dimana saya berasal ( kebetulan saya berasal dari Kraton Pakualaman Yogyakarta ).  Saudara kandung saya 5 orang. Dua kakak saya penari Jawa tarian klasik dan saya sendiri pernah menari menjadi pemain Hanoman dalam cerita Ramayana. Sepulang dari sana saya bertanya kepada para Ustadz , para ulama kenalan saya , mereka  mengatakan bahwa dalam agama Islam “ rambut adalah aurat “ oleh karena itu Jilbab diwajibkan. Tapi ketika saya cari di Alquran tidak satupun ada ayat yang mengatakan rambut adalah aurat . Kemudian ketika di tunjukkan Al Ahzab 59 dan An Nur 31 sebagai ayat yang mewajibkan jilbab , kok juga banyak tafsir yang berbeda-beda , ada yang membolehkan rambut terlihat tapi banyak juga yang mewajibkan jilbab . Yang mewajibkan jilbab juga banyak perbedaan  pendapat .  Ada yang berkata harus seluruh wajah ditutup , ada yang bilang kedua mata boleh terlihat . Dan di Indonesia paling banyak yang berpendapat wajah dan kedua telapak tangan yang boleh tampak . Nah , siapa yang benar dari semua ini , Kok membingiungkan ?...Akhirnya setelah beberapa tahun mempelajari dari berpuluh buku dan literatur , mungkin tulisan ini bisa menjawab atau minimal “ urun rembuk “ atau ikut memberikan pandangan , bagaimana semua perbedaan pendapat  itu menjadi masuk akal. Akal-lah yang selalu kita gunakan untuk mempertimbangkan baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari  dan inilah yang membuat kita selamat. Demikian pentingnya akal ( akal sehat ) atau logika , sehingga Tuhan / Allah akan murka bila kita tidak mengguanakan akal kita.


                   “...dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya “. ( Yunus 10 : 100 )


     
             Keterangan gambar : Agar tidak menjadi spekulasi yang cenderung memfitnah , saya akan menceritakan tentang diri saya. Saya adalah pegawai negeri di sebuah Rumah Sakit Daerah di Yogyakarta sekaligus dosen Fakultas Kedokteran disalah satu Universitas Swasta di Yogyakarta juga. Tampak gambar 1 : saya bersama anak didik saya para Dokter Muda ( Coass ). Gambar 2  : Anak didik saya yang berasal Italia , Rumania , Slovakia yang sedang magang sementara ( Summer Course ) . Gambar 3 : Tradisi / Budaya Kraton Pakualaman dimana penulis ( saya )  dibesarkan . Penulis ( saya ) bukanlah seorang Ustadz apalagi Ulama ,  melainkan umat Islam yang biasa saja yang mempelajari agamanya secara bersungguh-sungguh . Bila para Ulama kita dan para Ustadz kita berdasarkan Logika Formal yaitu logika yang berdasarkan “ katanya “ atau “ pendapat “ para Ulama-ulama  Bangsa Arab ( yang tentu saja sesuai budaya Arabnya )  terdahulu.  Kalau saya berdasarkan Logika Materiil yaitu logika ( akal sehat ) berdasarkan Fakta atau bukti yang bisa dipertanggung jawabkan secara Ilmiah ( Evidence Based )  . Bukti Ilmiah itu bisa berdasarkan Lukisan / foto kuno yang menggambarkan Fakta saat diambil gambarnya , Fosil , tulisan-tulisan kuno pada batu yang kemudian menjadi Ilmu Sejarah. Bukti-bukti yang kemudian menjadi sejarah adalah : Sejarah Paleogeografi Tanah Arab , sejarah perjalanan Homo Sapiens yang keluar dari Afrika 200.000  - 100.000 tahun yang lalu ( Google : Homo Sapiens out of Africa )  , Sejarah Bangsa Arab ( History of Arab karangan Philips K Hitty ) , Sejarah masuknya Islam ke Indonesia , Sejarah Revolusi Islam Iran 1979 . Selain ilmu sejarah juga berdasarkan Ilmu Antropology : yaitu suatu ilmu yang mempelajari tentang manusia secara keseluruhan / komprehensif dalam hubungannya secara sosial , dengan alam lingkungannya dan Humaniora. Dan tentu saja  Kitab suci Alquran sebagai Ucapan / Firman Tuhan  yang di terima oleh Nabi Muhammad yang di catat dibawah pengawasan semasa hidup beliau.  Dan tentunya  Kitab Hadits sebagai ucapan ( hadis artinya ucapan ) Nabi Muhammad dan para Sahabat yang ditulis oleh jutaan orang , 85 tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad di tahun 717 ( sehingga Nabi Muhammad tidak bisa mengawasinya ). Sebagai perbandingan juga akan saya tuliskan kutipan-kutipan pendapat  para Ulama didalam Negeri maupun luar Negeri. 


HOAX JILBAB WAJIB PENGARUH REVOLUSI ISLAM IRAN 1979
( Kata Pengantar )
                                                                                                                          

Hancurnya budaya menyebabkan hancurnya bangsa

 

       Banyak pembaca blog saya yang memberi komentar , pakai saja jilbab kenapa sih diributkan , apa yang berat, hanya tinggal pakai ! Tidak sesepele itu masalahnya. Wajib Jilbab dikaitkan dengan agama. Inilah masalahnya. Karena diwajibkan agama ( di perintahkan Tuhan ) apalagi diwajibkan Alquran , masalahnya menjadi sangat serius. Seseorang memahami jilbab  wajib secara agama ( apalagi sekarang mulai banyak yang meyakini jilbab harus berwarna hitam ) berarti menganggap pakaian lain termasuk kebaya yang terlihat rambutnya , kain batik dengan segala warana -warni nya  , selendang dan segala pernik budaya kita akan menjadi Haram dan punahlah budaya kita  lantaran tidak ada lagi yang mau memakainya. Siapakah yang mau memakai barang yang diharamkan agama ?. Bila ini dipahami seluruh wanita Indonesia , akan matilah para pengrajin batik yang berjumlah jutaan orang. Demikian pula pakaian -pakaian tradisi lain di seluruh Indonesia yang tentu saja sangat lain dengan jilbab.Para wisatawanpun enggan kesini lantaran tidak ada tradisi Indonesia yang akan dilihat  , seperti bila para wisatawan itu pergi ke Jepang , India , cina , Hongkong , Korea , Belanda , Inggris , Amerika dsb. Hotel -hotel yang memperkerjakan ratusan ribu orang akan tutup. Para sopir pengendara mobil wisata akan kehilangan pekerjaan. Jutaan orang akan menjadi pengangguran. Dan akhirnya yang tersisa hanya tenga tenaga kasar , seperti pembantu rumah tangga , kuli di negeri orang ( mohon maaf buka sedang melecehkan ). Karena di Indonesia mereka sudah tidak ada pekerjaan. Kita bisa lihat banyaknya TKI/TKW kita yang dilecehkan secara fisik , di hina secara verbal. Secara tidak sadar kita sedang membunuh bangsa kita dengan tangan kita sendiri. Itulah pentingnya memperthankan budaya lokal kita.                                                                                    

     Revisi blog saya yang kedua ini , didasarkan karena kembalinya Arab Saudi kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Kembali ke Alquran yang tidak mewajibkan budaya Arab Baduy di pedesaan gurun pasir tapi mengharuskan / mewajibkan semua orang berbuat sesuai adat nya , keadaannya atau kebiasaan   masing-masing Individu ( Al Isra 84 ). Sebuah ajaran yang menghargai Hak-Hak dasar ( Hak Azazi ) manusia. 

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “.( Al Isra 84 )


Ajaran Tuhan / firman Tuhan diatas bila diterapkan sehar-hari sungguh sangat bijaksana.  Biarlah orang Jawa seperti orang Jawa , orang Sunda seperti orang Sunda , orang Kalimantan seperti orang Kalimantan , orang Papua seperti orang Papua , orang Cina seperti orang Cina , orang Jepang seperti orang Jepang , orang Korea seperti orang Korea , orang Inggris seperti orang Inggris , orang Amerika seperti orang Amerika , orang Afrika seperti orang Afrika , orang Eskimo seperti orang Eskimo dan seterusnya. Demikianlah ajaran Islam atau ajaran Alquran / Tuhan yang sebenarnya. Bukannya malah kita diharuskan seperti orang Arab Baduy yang hidup ditengah gurun pasir , memakai jilbab . memisahkan pria dan wanita , melarang budaya lain yang non Arab dsb. 

    

Sekilas sejarah penerapan ajaran Alquran / Islam

 

       Ada dua penyebab berpindahnya manusia secara besar-besaran ( migrasi ) dari satu tempat ketempat lain , yaitu iklim yang berubah menjadi kering dan perang. Contoh yang pertama , ketika cuaca berubah menjadi kering bangsa Semit 3500 SM berpindah dari Jazirah Arab ( sekarang Arab Saudi ) kearah utara ( sekarang negara-negara Irak , Iran , Suriah , Israel, Yordania ). Dengan persoalan yang sama , sejarah juga mencatat sebagian bangsa Cina dari sungai Yangtze / Cina 4200 tahun yang lalu ( dikenal sebagai epos 4.2 k ) berpindah secara besar-besaran dengan membawa teknologi menanam padi . Sedangkan perang , kita dapat melihat sekarang akibat perang di Suriah dan Burma , ratusan ribu manusia mengungsi akibat kekejaman perang. Demikian pula ketika terjadi perang Karbala tanggal 10 Oktober 680 M antar umat Islam sendiri , yang saat itu sudah terpecah menjadi 2 golongan , yaitu : golongan pengikut keluarga Nabi atau pengikut Ali ( Syiah ) dan pengikut non keluarga Nabi ( Suni ). Perang yang di menangkan golongan Islam Suni ini menjadi petaka golongan Islam Syiah. Terjadilah pengungsian besar-besaran bangsa Arab golongan Islam Syiah ini keseluruh dunia. Yang menjadi catatan penting kita adalah , saat ini umat Islam berpedoman hanya pada kitab Alquran saja , yang sangat menghargai hak azazi manusia untuk berperilaku sesuai dengan kebiasaan sehari-hari atau adat budayanya sendiri. Ditahun pelarian 680 ini , kitab Hadis belum dituliskan ( hadis di tulis tahun 717 ) karena dilarang oleh Nabi Muhammad sendiri , lantaran Nabi menginginkan hanya Alquran saja sebagai pedoman umat Islam. Inilah tanggung jawab beliau sebagai seorang Nabi yang diutus menyampaikan firmannya ( yang di himpun di Alquran ). Sumber : Ensiklopedi pelajar Islam jilid 2 hal 65 dan di buku Pengantar Studi Ilmu Hadis  ( Alqaththan,Manna’, Syeikh,  48 hal 52 )  dan bila anda tidak punya bukunya silahkan ketik More info google ketik : Jejak sejarah pelarangan hadis oleh Nabi Muhammad. Nabi Muhammad , para sahabat dan umat Islam sampai saat terjadinya perang  tahun 680 ini , tidak kenal dengan para Ulama Mazhab yang menjadi pedoman memakai jilbab para Ulama kita sekarang , seperti Hanafi , Maliki , Syafi’I dan Hambali karena mereka belum lahir. Mari kita perhatikan tahun kelahiran beliau para ulama mazhab ini : Imam Abu Hanifah atau Hanafi (lahir di Kufah, Irak tahun 699 ) , Imam Maliki (lahir di Madinah pada tahun 714 ) ,  Syafii ( lahir di Gaza, Palestina  tahun 767  ),  Imam Hanbal atau Hambali ( lahir di Marw  , Turkmenistan tahun 780 ). Para pelarian politik bangsa Arab yang hanya berpedoman hanya Alquran ini ada yang menyebar sampai ke Indonesia. Google : Sejarah orang Arab di Indonesia. Tapi setelah Revolusi Islam Iran 1979  yang dipimpin oleh Khomeini seorang Ulama Mazhab yang berpedoman pada Alquran dan Hadis yang berisi budara Arab Baduy pedesaan di gurun pasir , seperti pria dan wanita dipisah , para wanita wajib memakai jilbab , menganggap wanita lemah dan tidak bisa memimpin dsb. Peristiwa politik in menjadi Viral keseluruh dunia termasuk ke Indonesia. Para Ulama kitapun , saat itu terpengaruh. Para Ulama kita yang dulunya sebagai penerus warga Arab pertama yang datang ke Indonesia yang berpedoman pada Alquran saja , setelah peristiwa tahun 1979 itu berangsur berpedoman pada Kitab Hadis yang berisi budaya Arab Baduy itu juga. Demikianlah garis besar penerapan Alquran / Islam di Indonesia.


Keterangan gambar : 


         MBS ( Muhammad bin Salman ) putra mahkota Arab Saudi , mengistilahkannya dengan Islam yang moderat , yang kembali tidak mewajibkan kerudung / Jilbab untuk para wanitanya, membolehkan mereka untuk menonton sepakbola , menyopir mobil sendiri dan lain sebagainya. Peristiwa pelarangan - pelarangan       terhadap wanita ini , tak lepas dari pengaruh peristiwa politik yang maha hebat , yang menjadikan dunia Islam tidak seperti dulu lagi. Peristiwa politik itu adalah “ Revolusi Islam Iran “ di tahun 1979 yang mengatas namakan Islam. Tidak ada peristiwa politik yang lebih hebat dari peristiwa yang mengatasnamakan agama. Seperti yang kita lihat sekarang dengan mengatas namakan islam , sekelompok orang di Suriah / Irak ingin berkuasa mendirikan negara. Kelompok itu bernama ISIS. Dengan propaganda mendirikan negara berlandaskan “  Islam yang murni “ beberapa orang di Indonesia , yang berjarak ribuan kilometer dan tidak mengenal satu sama lain , rela membunuh puluhan orang lain. Orang-orang ini sendirian , berkelompok bahkan bersama keluarganya melakukan bunuh diri . Mereka yang haus kekuasaan ini dengan cerdik “ menggunakan rasa cinta kita kepada Agama kita Islam dan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad “ . Sebuah taktik yang jitu sekaligus mematikan. Ketik saja di Google : Bom Bali , Bom Senayan , Bom Hotel Marriott , pelaku bom gereja di Surabaya sekeluarga dan masih banyak lagi. Dengan cerdik mereka memelintirkan ayat Alquran yang bertujuan untuk mengajak berbuat kebaikan terhadap orang lain tapi di plintir menjadi tafsir yang kejam sekaligus  menguntungkan kelompoknya di Suriah.

 

            Demikian pula saat terjadinya Revolusi Islam Iran tahun 1979. Negara yang terbentuk di bawah pimpinan Ulama Syiah : Khomeini yang merebut pemerintahan dari Rajanya Shah Iran dukungan Amerika ( baca barat ). Beliau Khomeini menjadikan Budaya Arab Baduy yang tertulis dalam kitab Hadis seperti Jilbab , memisahkan pria dan wanita , menolak segala budaya luar seperti melarang lukisan , patung dsb. Seiring berjalannya waktu , kewajiban berbudaya Arab baduy di Iran itu menjadi viral di seluruh dunia. Akibatnya Tafsir Alquran dan Hadis pun “ mengikuti “ , agar mendukung maksud tersebut. Kewajiban budaya yang viral itu  membutuhkan legalitas “ sesuai agama “ yang diambil dari Alquran dan ucapan / hadis Nabi Muhammad maupun ucapan / hadis sahabat “. Maka ada dua ayat Alquran yaitu ayat Al Ahzab 59 dan Anur 31 dan dua ucapan / hadis dari Nabi Muhammad dan Sahabat. Dua ayat itu Al Ahzab 59 yang ada Teks / kata-kata “ mengulurkan jilbabnya “ dan An Nur 31 yang ada teks  “ menutupkan kain kudung ke dadanya “ . Kata-kata ini  ditafsirkan secara Tekstual, karena ada kata /teks Jilbabnya dianggap sebagai wajib Jilbab. Padahal Ulama dulu yang Kontekstual menafsirkan ayat tersebut sesuai konteks / sejarah yang menimpa umat Islam saat itu. Bukannya sebagai ayat “ pewajib jilbab “. Selain dua ayat Alquran diatas sebagai ayat yang mewajibkan jilbab , juga dua buah Ucapan / Hadis ( hadis artinya ucapan )  dari Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Abu Daud , yang oleh Abu Daud sendiri di sebut Hadis yang tidak Shahih atau Hadis Mursal. Dan satu lagi Ucapan / Hadis dari Ibnu Abbas dan para Ulama ( yang tentu saja berbangsa dan berbudaya Arab ) yang mengatakan bahwa “ seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan “. Ucapan para sahabat inilah yang menjadi landasan aturan berpakaian Mazhab Syafi’I ( aliran/mazhab yang paling banyak di peluk masyarakat Indonesia ). 

 

       Demikianlah akibat hebatnya pengaruh politik itu kemudian sanggup memalingkan umat Islam dari kitab sucinya Alquran / ajaran atau Firman / ucapan Tuhan ke ajaran Hadis / ucapan orang / manusia yang terkait budayanya. Ajaran Tuhan ( Alquran ) yang mewajibkan setiap orang berbuat sesuai keadaan adat budayanya masing-masing ( yang menjadi pegangan / kiblat masyarakat Islam dulu ) menjadi kewajiban berbudaya orang-orang Arab Baduy di padang pasir berdasar ajaran ucapan / Hadis orang atau  manusia ( yang menjadi pegangan / kiblat masyarakat islam sekarang ) . Bola di tangan kita.  Akan kembali ke ajaran / ucapan Tuhan ( Alquran ) yang mewajibkan seseorang berperilaku sesuai keadaan adat budayanya masing-masing atau berperilaku sesuai ajaran / ucapan orang ( Hadis ) yang berbangsa dan berbudaya Arab ?. Padahal kita bangsa Indonesia mempunyai kebiasaan / adat budayanya sendiri. Penjelasan pada bagian pertengahan tulisan. 

 

                          

      Gambar kiri : Beliau adalah putra  Asli bangsa Arab yang sekarang jabatannya adalah Putra Mahkota Kerajaan Islam Arab Saudi dan sekaligus calon Raja yang memimpin sebuah negara Islam tempat lahirnya Islam sekaligus tempat lahirnya Nabi Muhammad sang penerima wahyu. Sebagai penerus masyarakat Islam , tentulah segala ucapan beliau bukan ucapan yang ngawur , tetapi tentu meliwati kajian yang mendalam dan berdiskusi dengan para Ulama-ulama yang paling top ( top artinya atas ). Karena bila salah ucap , bukan saja konsekuensi pemberontakan para Ulama beserta rakyat tapi juga ucapannya itu diminta pertanggungan jawab di akhirat. Beliau mengistilahkannya dengan “ pemulihan Islam “. Info selanjutnya ketik Google :  Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam ' dan Arab Saudi dalam kondisi tidak normal pada 30 tahun terakhir. Memang akibat dari Revolusi Islam Iran 1979 yang mewajibkan “ budaya suku Arab Baduy pedesaan di Gurun pasir “ , nenek moyang bangsa Arab ,  sebagai symbol perlawanan dominasi Barat 1970 an , membuat Islam berubah wajahnya di seluruh dunia. More info Google : Revolusi Islam Iran 1979. Islam yang ramah dan menghormati budaya lokal setiap suku bangsa pemeluknya , berubah menjadi kewajiban satu budaya : “ Budaya suku Arab Baduy pedesaan gurun pasir di semenanjung Arab “.

 

        Gambar kanan : Ulama sekarang ( yang tentunya di ikuti oleh umat Islam sekarang karena sebagai panutan ) mengatakan " Rambut adalah Aurat " . Aurat adalah anggota badan yang tidak senonoh untuk diperlihatkan pada orang lain. Oleh sebab itu Rambut harus ditutupi atau dibungkus oleh Jilbab. Tapi lain pandangan Ulama dulu sebelum Revolusi Islam Iran 1979. Rambut bukanlah aurat. Istri Ulama dulu hanya memakai Sari , kerudung yang masih terlihat rambutnya. Tampak diatas adalah Shinta Nuriyah istri Alm. Abdurrahman Wahid seorang Ulama Besar Indonesia. Pernah menjadi Ketua NU ( Nahdlatul Ulama ) sekaligus  mantan presiden Republik Indonesia. Ibu Sinta ini berpendidikan pesantren , melanjutkan S1 bidang Hukum Islam ( Syariah ) dan Pasca sarjana UI. Pernyataannya tentang jilbab tidak wajib bagi wanita Indonesia tentulah bukan pernyataan yang tanpa dasar mengingat kosekuensi ucapannya di dunia dan akherat. Tentang Jilbab bukan aurat ini anda bisa melihatnya sendiri.  google : Inilah jilbab para istri ulama besar  terdahulu.




Keluarga Prof. DR. Buya Hamka :  Jilbab tidak wajib. 

          Ulama dan umat sekarang adalah ulama Tekstual yang memahami penggalan Al Ahzab 59 ada kata-kata “ mengulurkan Jilbabnya “ dan pada An Nur 31 ada kata-kata “ menutupkan kain kerudung kedadanya sebagai “ ayat pewajib jilbab “ .  Para Ulama dulu Prof. DR. HAMKA , Prof. Nurcholis Majid , Gusdur , Prof. DR. Quraish Shihab adalah para Ulama Konteksteual yang memahami kedua ayat itu sebagai ayat sejarah , sebuah narasi yang terkait suatu kejadian saat itu yang menimpa umat Islam. Sehingga mengatakan bahwa ayat itu “ bukanlah suatu ayat yang mewajibkan jilbab “ .

            

             Gambar kiri atas : Foto keluarga Prof. DR. Buya Hamka. Diambil dari : Buku AYAH tentang Buya Hamka , karangan Irfan Hamka.


            Gambar bawah: Prof. DR. Buya Hamka adalah salah satu dari ulama besar dulu yang keilmuannya banyak di akui dunia Islam dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Selain tokoh terkemuka Muhammadyah, jasa beliau juga mendirikan MUI ( Majelis Ulama Indonesia ). Google : HAMKA. Di Internet banyak pernyataan beliau diplintir seolah-olah beliau mengatakan Jilbab adalah Wajib ( dalam masyarakat Islam artinya bila tidak dipakai seorang wanita muslim akan masuk neraka ). Foto keluarga beliau dan buku beliau diatas , yang menyatakan pakaian rok adalah pakaian yang sopan ( sekaligus membantah jilbab adalah wajib ) adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan. Gambar paling bawah : pernyataan beliau yang menyatakan bentuk pakaian adalah masalah kebudayaan. Beliau memberi contoh bahwa pakaian model rok sudah menutup aurat , sambil memberi contoh pakaian yang dipakai Ratu Inggris berkesopanan tinggi. Sumber buku beliau : 1001 Soal Kehidupan , hal 160. Buku yang bagus ini masih banyak di internet bila anda ingin membelinya.

 

            Untuk memahami mengapa Al Ahzab 59 dan An Nur 31 oleh ketiga tokoh utama itu bukan sebagai ayat pewajib Jilbab ,  kita harus paham dulu beda tafsir TEKSTUAL dan tafsir KONTEKSTUAL. Tafsir Ulama dulu dan Ulama sekarang yang berbeda ini disebabkan oleh peristiwa politik yang mengguncangkan dunia Islam , yang membuat Islam tidak sama lagi dengan Islam sebelumnya. Peristiwa politik itu adalah Revolusi Islam Iran di tahun 1979. Google : Revolusi Islam Iran 1979. Khusus untuk Ayat Al Ahzab 59 dan An Nur 31 penjelasan selengkapnya di halaman tengah        


               

Kesaksian Para Peneliti Dan Sejarawan : 

 

         Hingga 1970-an, jilbab( pakaian muslimah yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan ) belum populer di Indonesia. Kebanyakan perempuan mengenakan kerudung,kain tipis panjang penutup kepala yang disampirkan ke pundak, dengan leher masih terlihat. Selain Ibu Negara Fatmawati, istri-istri ulama mengenakan kerudung.

          “(Di kalangan –red.) Kelompok Islam sejak awal ada di Indonesia sampai tahun 1970-an, kerudung yang populer,” kata Samsul Maarif, peneliti di Center for Religious and Cross-Cultural Studies Universitas Gadjah Mada (CRCS UGM). Jilbab baru mulai dikenal pada 1980-an. Hal itu bermula dari pengaruh Revolusi Iran 1979.Penyebarluasan berita kemenangan Ayatollah Khomeiniyang berhasil mendirikan Republik Islam Iran mendorong rasa solidaritas dunia Islam,termasuk Indonesia. Pada 1980-an, tulis Wiwiek Sushartami dalam disertasinya diUniversitas Leidenyang berjudul Representation and Beyond: Female Victims in Post Suharto Media, kelompok diskusi informal di kalangan pelajar dan mahasiswa muslim mulai berkembang dibarengi dengan penerbitan buku-buku Islam. Semangat Revolusi Iran yang anti-Baratmasuk ke Indonesia dan menyebar lewat kelompok diskusi mahasiswa Islam. Hal itu mendorong para aktivis Islam menunjukkan identitas keislaman mereka, salah satunya dengan penggunaan jilbab. “Setelah Revolusi Iran, identitas Islam hadir bukan hanya merespons konteks nasional tapi internasional,” kata Samsul. Sumber Google : Historia : Membuka bab sejarah Jilbab.

 

              Untuk melihat keadaan Indonesia sebelum 1979 anda bisa membuka Youtube . Dan anda bisa melihat ratusan film lainnya yang membuktikan bahwa sebelum 1979 tak seorang pun di indonesia yang memakai jilbab.Artinya bahwa , saat itu para ulama yang menjadi panutan dalam beragama tak mewajibkan jilbab pada pengikutnya. Silahkan buka : Youtube  Dokumenter Berwarna Hindia Belanda tahun 1931 – 1939 atau Google gambar / Images : Foto SMA jadul , cover majalah Gadis jadul.

 

Selengkapnya silahkan mengikuti uraian saya dibawah ini. 

 

 

DAFTAR ISI :


SEJARAH PEMAKAIAN JILBAB DAN SEJARAH TAFSIR

AL AHZAB 59 DAN AN NUR 31 

 

A . I . Pentingya Budaya Lokal : Damai Dan Makmurnya Negara Korea , Hongkong Dan  Jepang 

                                                                                       

      II. Mengenal Budaya Arab ( Ringkas )

 

      III. Dunia Islam Sebelum dan Setelah Revolusi Islam Iran 1979 ( Ringkas )

 

    IV. Perbandingan Tafsir Ulama Sebelum dan Setelah Revolusi Islam Iran 1979 ( Ringkas ).    

 

B.  I . Mengenal Budaya Arab ( Lengkap )    

                                                                            

     II.  Dunia Islam Sebelum dan Setelah Revolusi Islam Iran 1979 ( Lengkap )

                                                                                                  

     III. Perbandingan Tafsir Ulama Sebelum dan Setelah Revolusi Islam Iran 1979 ( Lengkap ).  


MEMBACA TAPI TAK PAHAM
MENDENGAR TAPI TAK MENGERTI

         Kemunduran masyarakat Islam disebabkan salah satunya karena kita tidak tahu apa-apa tentang ajaran Tuhan / Alquran. Saya baru menyadari saat saya berumur 20an awal , sekitar tahun 1980an. Ketika itu saya ingin belajar Alquran dengan ikut les baca Alquran di jalan Krasak Yogyakarta. Ternyata les baca Alquran hanya sekedar les baca Bahasa Arab, karena saya tidak tahu apa-apa dengan yang saya baca. Maklumlah ini bukan Bahasa saya. Ini seperti halnya saya bisa membaca Bahasa Jerman tapi tidak tahu artinya. Saya akan mengajak anda untuk mengalaminya. Mari perhatikan lagu “ Du “ bahasa Jerman dibawah ini : 

Du bist alles, was ich habe auf der Welt
du bist alles, was ich will!
Du, du allein kannst mich versteh'n
Du, du darfst nie mehr von mir geh'n.

         Anda bisa membaca tapi tidak paham artinya. Anda bisa mendengar lagunya tapi tidak mengerti artinya. Hal yang wajar karena itu bukan Bahasa kita Bahasa Indonesia. Kecuali yang pernah sekolah Bahasa Jerman dan pernah mukim disana. Demikian pula ketika saya belajar  “ mengaji “ bisa membaca tapi tidak paham apa yang saya baca. Padahal Alquran berisi ajaran Tuhan untuk kedamaian hidup manusia. Sesuai dengan nama yang di berikan-Nya : “ Dienul Islam “ yang berarti “ sebuah jalan menuju kedamaian “. Saya akan memberi  contoh 2 ayat saja : 

  • a. Adil kepada warga Non muslim

Apakah anda bisa membacanya ? 

فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ وَقُلْ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ 
     

       Arab-Latin: Fa liżālika fad', wastaqim kamā umirt, wa lā tattabi' ahwā`ahum, wa qul āmantu bimā anzalallāhu ming kitāb, wa umirtu li`a'dila bainakum, allāhu rabbunā wa rabbukum, lanā a'mālunā wa lakum a'mālukum, lā ḥujjata bainanā wa bainakum, allāhu yajma'u bainanā, wa ilaihil-maṣīr

    
       Bisa ! .Tapi apakah mengerti artinya ? Hampiir 220 juta dari 230 juta  warga muslim di tahun 2020 ini menjawab tidak mengerti artinya. Hal yang wajar karena itu bukan Bahasa kita Bahasa Indonesia. Tentu saja kecuali yang pernah sekolah di madrasah , pondok pesantren yang sejenis atau sudah pernah lama bermukim di Arab Saudi. Padahal ayat itu berisi ajaran yang sangat luar biasa tentang kemanusiaan dan perdamaian. 

      Memang membaca kitab suci Alquran , walaupun tidak mengerti maksudnya tetaplah memberi efek ketenangan bathin. Tapi lebih bagus lagi paham maksudnya. Karena memang berisi ajaran Tuhan tentang kemanusiaan ( Humanisme ) . Dan inilah alasan yang paling utama ketika Alquran ini turun. Ketika Nabi Muhammad di perintahkan menjadi seorang utusan Tuhan ( Rasul ) , tentulah orang-orang disekitarnya tidak percaya. Wajar bila kemudian mengejeknya , memmbully beliau dengan mengatakan pembohong , orang yang kehilangan ingatan dan banyak lagi. Hal ini dapat di umpamakan ketika ada teman anda atau orang lain mengaku bahwa dia diutus Tuhan untuk meyampaiakan wahyu. Tentu dia akan memanen olokan , hinaan , sumpah serapah dsb. Demikian pula Nabi Muhammad , tapi beliau diperintahkan untuk tetap tenang , tidak mengikuti hawa nafsu mereka dengan membalas kemarahan juga. Sebaliknya beliau diperintahkan untuk adil terhadap mereka . Sebagai mana didalam Asy Syura 15 : 

           “ Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)".

  • b. Kewajiban berlaku adil walaupun benci terhadap suatu bangsa/kaum

         “ Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) 
karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. ( Al Maidah : 8 )

Ayat diatas tidak usah ditafsirkan karena sudah jelas. Departemen Agama seharusnya membuat terjemahan yang mudah dipahami oleh umat Islam , walaupun oleh anak SD. Para guru agama di SD pun harus sejak dini mengajak diskusi isi Alquran yang berupa ajaran Tuhan tentang penghargaan sesama manusia ini. Pola lama hanya menghafal ayat tanpa mengerti maknanya harus sudah ditinggalkan. Agar bila mereka dewasa bisa menghargai orang lain yang mempunyai agama/kepercayaan yang tidak sama dengan dirinya. Istilah-istilah Bahasa Arab di terjemahkan ke bahasa Indonesia semudah mungkin. Kita harus mencontoh Injil raja James di Inggris. Kitab Bibel / Injil ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris pasaran / sehari-hari sehingga mudah dimengerti rakyatnya. Google : Kitab Injil raja James. 

             Selanjutnya nanti dalam pembahasan , anda tidak akan pernah menjumpai huruf Arab atau latinnya hal ini untuk memudahkan pengertian dari para pembaca kita yang berbahasa Indonesia. Bila anda berminat dapat melihat langsung di Kitab Alquran maupun searching langsung dari Internet. Terima kasih.


A. I. PENTINGNYA BUDAYA LOKAL : DAMAI DAN MAKMURNYA 
NEGARA KOREA HONGKONG DAN JEPANG

Budaya lokal itu mewujudkan ajaran Agama

            Negara-negara yang maju dan rakyatnya makmur  adalah negara yang menganut agama tertentu dan  mengembangkan Budaya Lokalnya masing-masing untuk membentuk karakter agar masyarakatnya menjadi orang-orang baik / jujur yang menggunakan Ilmu pengetahuannya untuk berbuat baik pada orang lain. Sekarang negara yang damai dan makmur adalah negara yang mengembangkan agamanya seperti agama Kristen , Kong Hu Cu , Budha , Hindu , Shinto beserta budaya lokal dan Ilmu pengetahuannya . Sebut saja negara itu  Jepang , Cina , Korea , bangsa bangsa Eropa dan Amerika , mereka mereka itu sudah sejak dulu menyadarinya. Siapakah dari kita yang tidak mengenal Samsung , Honda , Toyota , Xiaomi, Huawei , Oppo , Canon , Nikon , Altec , Boeing , Mercedes , BMW dan masih sederet produk produk mereka . Mereka sukses membudayakan Tiga Pilar yaitu :  agama dan budaya lokal tentang keutamaan ajaran  mengajak perdamaian , pembentukan karakter manusia agar menjadi orang yang baik,  sekaligus mengembangkan Ilmu pengetahuan untuk berbuat kebajikan menolong manusia lainnya

           Di Asia ajaran tentang perdamaian dan mengajak orang menjadi baik dan banyak melakukan kebaikan biasanya diambil dari ajaran agama dan budaya lokal. Di Eropa dan Amerika mereka banyak menyitir kata bijak ( Quotes ) dari tokoh-tokoh yang banyak berbuat baik / berjasa terhadap kemanuisaan.            

Ajaran Kong Fu Tse : “ dalam kehidupan masyarakat terdapat keselarasan dan keseimbangan. Rakyat harus hormat dan taat kepada rajanya, seperti anak terhadap bapaknya. Sebaliknya, raja harus memerintah rakyat dengan baik dan bijaksana seperti bapak terhadap anaknya”.

Pepatah ( budaya sastra) Korea : Jika kata yang keluar baik, kata yang datang pun akan baik.

Makna: Harap selalu menjaga perkataan dan perbuatan kepada orang lain jika ingin diperlakukan dengan serupa oleh orang lain.


Quotes dari Helen Keller :   "The highest result of education is tolerance."  Dalam bahasa Indonesia   “ Hasil pencapaian tertinggi pendidikan adalah Toleransi “My Key of Life, 1926 .
  • Helen Keller : Seorang wanita buta dan tuli penulis hebat yang buku-bukunya diterjemahkan dalam 50 bahasa. More info Google ketik : Biografi Helen Keller.

                  Dan hampir semua pepatah lokal di dunia ini berisi ajaran kebaikan kepada diri sendiri dan ajaran kebaikan untuk orang lain. 

Kebudayaan sumber ekonomi bagi warganya

           Kita dan semua wisatawan asing pergi ke Jepang , Cina , Korea , Eropa ingin tahu tentang budaya mereka. Mereka , para turis itu , sudi membelanjakan uangnya milayaran dollar , trilyunan rupiah untuk menginap di hotel-hotel yang mempekerjalkan ratusan ribu waraganya dari bell boy , office boy , sopir , tukang masak , cleaning service. Para turis juga  , membeli souvenir , makanan , minuman khas daerah lokal. Para pelaku seni budaya seperti penari , pembuat baju tradisi , penjahit , perancang  semua merasakan dolar yang mengalir ini kekantong mereka. Sebaliknya malah orang Indonesia , karena salah paham dengan agamanya malah membunuh dan memusnhakan budayanya sendiri. Akibatnya jutaan lapangan kerja ekonomi kebudayaan ini musnah. Dan ketika mereka semakin makmur , orang Indonesia semakin sengsara. Marilah kita kembali keajaran Tuhan / Alquran untuk berbudaya Indonesia /  lokal kita masing-masing sesuai suku kita.
        Bangsa-bangsa lain mengembangkan budaya lokalnya , bangsa Indonesia malah meninggalkan budayanya dan mengadopsi budaya bangsa lain yang tidak mereka pahami : budaya bangsa Korea , Jepang , Amerika , Arab. Seharusnya tidak mengapa senang dengan budaya bangsa lain , tapi jangan lupa memahami  budaya bangsa sendiri. 



             Keterangan gambar diatas :   Zhou Qunfei pemilik Lens Technology, sebuah perusahaan pembuat layar Gadget ( HP , Smartphone)  dengan kekayaan 102 triliyun. Sebuah masyarakat yang cinta  akan kebudayaannya , cinta ilmu pengetahuan membuat rakyatnya damai dan sejahtera. Bangsa Indonesia malah beramai ramai meninggalkan budayanya. Sekarang ini hampir semua masyarakat Indonesia malah tergila-gila pada budaya asing , Korea , Jepang , Arab , Eropa . Budaya yang tidak mereka pahami.

Ajaran Islam : Orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain

              Kemakmuran bangsa Jepang , Korea , Cina , Eropa , Amerika tidak lepas dari banyaknya orang-orang yang baik / bermanfaaat bagi orang lain ( orang yang saleh ) , para insinyur yang membangun kota-kota bangunan , mobil , motor , jembatan , alat komunikasi Handphone , kelistrikan untuk pencahayaan manusia dan masih ribuan lagi macam yang dirasakan manfaatnya bagi masyarakatnya. Hal yang sama saat kejayaan Islam di Kekhalifahan Persia seperti : Ibnu Sina ( ilmu kedokteran , Al Khwarizmi ( penemu Alqoritma sebagai dasar pembuatan perangkat lunak computer , Handphone ditangan anda itu ) dan masih banyak lagi ilmuwan Islam yang menafsirkan Alquran sebagai sebagai orang saleh yaitu orang baik / jujur yang bermanfaat bagi orang lain dengan berbuat baik dengan Ilmu Pengetahuan. Google : 100 ilmuwan muslim. Inilah ajaran Habluminanas. Ini disebabkan jaman awal Islam mereka menganggap bermanfaat / berbuat baik bagi orang lain juga sebagai perintah Tuhan atau Ibadah ( arti Ibadah : perintah Tuhan ). Umat Islam sekarang memaknai Ibadah hanya Habluminallah seperti Shalat dan puasa .Akibatnya segala energi hanya untuk kegiatan ini. Bila keseimbangan Habluminanas dan Habluminallah di ajarkan kembali , kejayaan , kemakmuran , kedamaian negara-negara Islam akan kembali seperti saat Jaman keemas an Kekhalifahan Persia. Google : Kekhalifahan Abassyah

Pentingnya budaya lokal

             Setiap Bangsa , setiap suku , setiap orang mendambakan kebersihan. Kebiasaan bersih adalah kebiasaan / adat yang bisa di biasakan dengan pendidikan sejak kecil dari taman kanak-kanak , SD , SMP. Selanjutnya akan menjadi kebiasaan bersama setelah dewasa. Sebuah ajaran Habluminanas , bila lingkungan bersih orang lain akan menjadi sehat. Sebaliknya lingkungan kotor akan menyebabkan banyak orang yang sakit. Ini juga perintah Tuhan atau Ibadah. Bangsa Jepang , Korea terkenal sebagai bangsa yang mempunyai adat lokal bersih dan mereka mengembangkannya. Sayang bangsa Indonesia belum mulai membiasakan kebiasaan bersih ini sejak kecil. Padahal banyak sekali pepatah atau nasehat yang mencerminkan ajaran untuk bersih. Seperti : “ Bersih pangkal sehat “ , “ bersih itu indah , bersih itu anugerah “ , “ Lingkungan bersih untuk hidup yang lebh jernih “ dsb. Google : Pepatah bersih.

  
Alquran di abaikan umat Islam

           Akhir-akhir ini telah terjadi kerusakan di darat dan dilaut . Semakin sering kita mendengar ikan hiu , penyu dan hewan-hewan laut yang mati akibat makan plastik. Hal ini tidak lepas dari penumpukan beriibu ton plastik yang dibuang kelaut oleh semua negara dunia.Tapi saya akan menyoroti kerusakan di darat lantaran mengancam kehidupan manusia di masa depan. Sayangnya  mayoritas Ulama kita sekarang berdakwah hanya yang terkait dengan Hadis yang berhubungan dengan Habluimnallah , seperti pentingnya shalat dan puasa. Sehingga Shalat yang wajib hanya 5 waktu dan puasa yang wajib hanya 30 hari , berkembang sampai bermacam-macam. Sampai habis waktu kita untuk berkegiatan semacam itu. Ini hal yang baik , tapi melupakan ajaran Habluminannas bukan yang diharapkan Tuhan dalam Alquran. Tidak pernah sekalipun saya mendegar mereka mengajarkan tentang perbaikan lingkungan , apalagi mengajak jamaahnya turun kelapangan memberi contoh bersama -sama untuk menanam kembali pohon-pohon yang ditebangi. 

         Alquran bukan saja mengajarkan Habluminallah ( kegiatan yang berhubungan dengan Tuhan ) seperti shalat dan puasa , tapi malah sebagian besar Habluminanas ( suatu kegiatan yang berhubungan dengan manusia ) . Yaitu suatu kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain dengan berbuat berbagai macam kebajikan. Seperti memulihkan kerusakan alam kegiatan ini juga akan dirasakan manfatnya bagi orang banyak. Kerusakan sungai Ciliwung ( contoh gambar diatas ) hanyalah cerminan kecil dari kerusakan alam di seluruh Indonesia. Hutan-hutan ditebang , diambil kayunya tanpa ada usaha untuk menanamnya kembali. Akibat dari rusaknya hutan di seluruh Indonesia dan rusaknya sungai-sungai dapat dilihat dari terjadinya banjir dimana-mana diseluruh Indonesia. Pada musim kemarau sungai-sungai kehilangan sumber mata airnya lantaran tak ada pohon penyimpan air hujan. Sumur-sumur di kota dan desa mengering. Dampak ini seharusnya membuat kita sadar.
           Keterangan gambar 1 : Pembalakan liar dengan skala besar-besaran menyebabkan kerusakan alam dan menyebablan perubahan iklim dunia. Gambar 2 : Perubahan ini membuat banjir yang menciptakan kesengsaraan manusia dimana-mana di seluruh dunia. Gambar 3 : Untunglah banyak para pemuda dan pemudi yang menanam kembali hutan yang rusak / gundul. Mereka ini sangat bermanfaat bagi ribuan warga lain di hilir sungai. Air hujan yang turun deras dapat diserap oleh pohon-pohon itu. Sehingga banjir dapat diatasi dan sumur-sumur pun tidak kering kelak saat musim kemarau tiba. Marilah kita kembali ke-ajaran Alquran yang mengajarkan kesadaran  akan pentingnya menjaga alam semesta dengan menanam pohon di mana-mana. Tuhan mengistilahkan “ orang-orang yang kembali sadar dengan memulihkan alam “ dengan kata-kata “ mereka kembali “ . Dalam ayat yang turun 1300 tahun yang lalu ini , seolah-olah Tuhan telah “ meramalkan “ yang akan terjadi hari ini : 

         “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya  Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) “. ( Q.S. ar Rum: 41 )



AJARAN TUHAN ( ALQURAN ) ; MEMBANGUN PERADABAN BUDAYA LOKAL 

Buatan Cina hadiah di Surga

            Islam yang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini adalah Islam yang Anti Budaya yang mengharuskan / mewajibkan budaya Arab Baduy seperti Jilbab , memisahkan pria dan wanita , megharuskan wanita dirumah , tidak boleh mempercantik diri , tidak boleh menari , menyanyi. Ini jelas menghancurkan semua budaya Indonesia. Karena hal itu berkebalikan dengan  budaya Indonesia  seperti wanita dan pria menari bersama ,  berpakaian rambut terlihat dsb. Padahal budaya menempati puncak ajaran Alquran. Tuhan memberi hadiah di surga bagi orang yang berbuat baik / amal saleh ( amal : berbuat , saleh : baik ) hasil buatan Cina : Pakaian Sutera. Ada dua Tafsir untuk ayat ini. Pertama diartikan hanya sebatas seperti hadiah pada sebuah perlombaan balap sepeda misalnya , hanya sebuah hadiah pakaian sutera titik. Hanya itu saja. Yang kedua , Tuhan memberi isyarat penghargaan yang tinggi terhadap suatu hasil budaya. Karena pembuatan sutera yang sangat rumit , yang membutuhkan ketrampilan yang tinggi , ilmu pengetahuan tentang cara beternak ulat sutera , memintalnya menjadi benang , menggambar nya dengan pola bunga yang indah kemudian mewarnainya dengan warna – warni zat-zat tanaman. Tafsir yang lain adalah manusia wajib / harus mengembangkan budaya lokalnya.

          “  Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ( berbuat yang baik )  ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera “ ( Al Hajj : 23 )

NABI MUHAMMAD : MENJADI MANUSIA BAIK DULU KEMUDIAN ISLAM

Karakter Nabi hasil budaya lokal

                  “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21]

             Nabi Muhammad : menjadi manusia dulu kemudian beragama Islam. Kita lupa tentang realitas yang terjadi , bahwa Nabi Muhammad menjadi manusia yang baik , jujur , dapat dipercaya ( amanah ) , selalu menepati janji , selalu menolong orang , menjadi dermawan , barulah kemudian menerima wahyu Islam saat berusia umur 40 tahun. Hal ini memberi pelajaran pada kita bahwa pembentukan kemanusiaan beliau itu sebelum umur 40 tahun karena adat budaya lokal ( setempat ) , seperti dimana saja di dunia ini adat budaya lokal / setempat (sering juga disebut kearifan lokal )  selalu mengajarkan kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain. Sebuah ajaran yang sama , yang terdapat dalam Alquran . Kita ( umat Islam ) mundur sejak kejayan Kekhalifahan Islam Persia. Ketidak seimbangan terjadi secara berangsur dengan mengabaikan pendidikan kemanusiaan ( hubungan antar manusia atau Habluminanas ) dan hanya mengutamakan hal-hal yang bersifat ritual yang berhubungan dengan Tuhan ( Habluminallah ) seperti Shalat, Puasa yang cenderung berlebihan. Pengabaian Pendidikan tentang kemanusiaan ( Habluminanas )  dan mengutamakan Habluminallah ( ritual  yang berhubungan dengan Tuhan ) dengan sangat mudah di hasut oleh pihak pihak yang mengatas namakan Tuhan , mengatas namakan Agama dengan memelintir ayat-ayat Alquran  ( ayat Alquran : Ucapan Tuhan / Firman Tuhan ) demi  kepentingan politiknya. Tidak heran akhir-akhir ini kita sering melihat dan mendengar orang membunuh dan menindas mengatas namakan agama dengan tanpa rasa perikemanusiaan. Akibat dari ketidak seimbangan ini mengakibatkan umat Islam mundur dan puncaknya sekarang ini. Hal ini bisa dilihat dari terjadinya tragedi kemanusiaan disebagian besar negara Islam Timur Tengah. Saling bunuh antar saudara sebangsa ( perang saudara ) yang menyebabkan kesengsaraan tiada tara . Ratusan ribu , bahkan jutaan orang mengungsi dari tempat tinggal. Marilah kita belajar dari Nabi Muhammad yang menjadi orang yang bermanfaat bagi kaumnya dididik oleh budaya lokalnya dan negara lain yang mengembangkan budaya lokalnya yang berisi ajaran tentang kemanusiaan  dan agamanya secara seimbang.

 Agama dan budaya lokal : membangun peradaban

             Saat ini Ibadah / perintah Tuhan ditafsirkan sebagian umat Islam sebagai Shalat dan Puasa. Tapi sebelum Revolusi Islam Iran 1979 , menolong orang lain dengan Ilmu pengetahuan dipandang sebagai Ibadah ( perintah Tuhan ). Tidak heran bila dulu orang Islam berlomba-lomba berkarya dengan ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Tafsir Agama yang benar harus sama dengan realitas kehidupan sehar-hari. Karena pembuatnya sama Tuhan yang Maha Esa / Allah swt. Ibarat Buku petunjuk manual Honda harus sama dengan sepeda motor honda yang kita beli. Alquran adalah ajaran Tuhan yang mengingatkan betapa pentingnya budaya manusia secara keseluruhan yang intinya agar kita bermanfaat bagi orang lain. Dalam kehidupan sehari hari sekarang , kita lihat Negara kita yang tercinta ini sedang menuju kehancuran karena kehilangan Budaya lokalnya sendiri. Budaya lokal bukan saja berisi kearifan lokal tentang keindahan tatacara kesopanan berpakaian, tetapi budaya lokal itu juga sekaligus mengajarkan hubungan yang harmonis antar manusia . Ajaran Budaya yang tentu sesuai dengan ajaran Alquran / ajaran Tuhan itu , seperti menghormati yang yang lebih tua , mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih darurat , ajaran memohon maaf bila berbuat salah pada orang lain , ajaran memaafkan orang lain dan ribuan ajaran kebaikan lainnya yang terdapat dalam budaya lokal. Ajaran kearifan lokal ini berevolusi / berkembang selama ribuan tahun bersama perkembangan masyarakatnya. Bentuk ajaran itu juga tercermin dalam pepatah : yang berisi ajaran kepada setiap orang di sukunya agar berbuat baik satu sama lain sehingga terciptalah kedamaian. Belum lagi budaya musik , tari , cerita-cerita tradisi  yang menginspirasi kebaikan dan masih banyak lagi.  Ulama kita dulu mengutamakan Ajaran Tuhan / Alquran dan menganggap budaya Arab Baduy dalam kitab Hadis sebagai tidak wajib, karena kita punya budaya sendiri . Tetapi karena peristiwa politik Revolusi Islam Iran 1979 , menjadikan Kitab Hadis yang terkait ajaran Budaya Arab Baduy nenek moyang mereka mejadi sebuah kewajiban bagi umat Islam Indonesia.

Islam Budaya Lokal Turki tahun 1600an

    
        Saat Kesultanan Ottoman ( Ustmaniyah ) Negara Turki tidak pernah mewajibkan budaya Arab Baduy gurun pasir ( Baduy berasal dari Badawi : artinya gurun ) yang berupa jilbab , memisahkan laki-laki dan perempuan , melarang kesenian , melukis dan lain sebagainya. Mereka mengembangkan Islam dengan budaya lokal. Lukisan ini di buat oleh Abdulcelli Levi di abad 17. Google : Kesultanan Ustmaniyah 

Sumber google gambar : Levni Paint Ottoman women Classic.

Masjid peninggalan Kekhalifahan Islam Turki


  
         Ilmu pengetahuan dikembangkan menjadi terunggul di dunia . Gambar atas : Masjid “ Blue Mosque “  keindahan arsitektur luar dan dalam yang masih memukau hingga kini. Google Images : Keindahan Masjid peninggalan Kesultanan Ustmaniyah.

Dari Kitab Alquran ke kitab Hadis
          
                 Umat Islam dulu , sebelum Revolusi Islam Iran 1979 menerapkan ajaran Alquran yang mengajarkan setiap orang berbuat sesuai keadaan adatnya masing-masing ( Al Isra 84 ) . Tetapi setelah itu umat Islam dunia , khususnya Indonesia menerapkan Kitab Hadis yang berisi perilaku Nabi Muhammad yang terkait budaya Arab.nya. Perilaku / Sunah ( Sunah artinya perilaku )  Nabi hanya ditiru mentah-mentah 100 persen .  Akibatnya Kitab Hadis yang berisi ajaran budaya Arab Baduy pedesaan Gurun Pasir nenek moyang bangsa Arab ( termasuk Nabi Muhammad dan para Sahabat)  menjadikan  bangsa kita menjadi bangsa Arab KW ( istiah untuk barang tiruan yang tidak berkuaitas). KW karena budayanya Arab tapi penampilan kita secara fisik tetap orang Indonesia dengan ciri ras badan kecil , hidung pesek , kulit coklat dsb. Perilaku Nabi yang dicotoh :   Selamat pagi , sampurasun , sugeng siang diganti assalamualaikum. Ayah di ganti abi, ibu diganti umi , melayat diganti takziah. Potongan rambut beraneka macam dan sanggul tradisi diganti kerudung/jilbab. Pria dan wanita yang bukan saudara tidak boleh bersalaman. Wanita tidak boleh memimpin , tidak boleh berkesenian , menari, menyanyi . Patung/ lukisan dilarang. Dan masih banyak lagi. Tapi perilaku Nabi yang berkarakter seperti Jujur sehingga dapat dipercaya ( amanah ) , selalu menepati janji , berbuat baik pada tetang ( amal saleh ) malah diabaikan. Google : Indonesia termasuk terkorup. Bandingkan dengan negara-negara lain. Google : daftar negara terbersih


II. MENGENAL BUDAYA ARAB BADUY ( RINGKAS )


Terbentuknya Budaya Arab Baduy Di Jazirah Arab 10.000 tahun yang lalu

              Sejalan dengan apa yang di kemukakan oleh Paul K Hitti ( ditulis tahun 1937, edisi pertama) dalam Bukunya  “ Sejarah orang-orang Arab “ atau “ History of The Arabs “ , dengan Ilmu pengetahuan modern , para ahli sekarang dapat mengetahui bahwa dulu , 10.000 tahun yang lalu , semenanjung Arab adalah sebuah tanah yang diselimuti hutan rimba , layaknya seperti Indonesia. Pohon pohon tumbuh subur , ratusan sungai mengalir , hewan hewan seperti Ikan , Tapir , kuda nil hidup disana. Itu dibuktikan dari banyaknya sumber minyak bumi yang berasal dari tanaman dan juga fosil fosil yang ditemukan. Tapi , seperti halnya sekarang , iklim berubah drastis. Lambat laun hujan yang turun mengikuti siklus bumi sepanjang 6 bulan setiap hari , di susul musim kemarau 6 bulan , menjadi hanya hujan setahun hanya 1-2 kali. Akibatnya terjadilah deforestry  ( hutan yang menggundul ) menuju desertisasi ( penggurunan )  yaitu tanah subur menjadi gurun pasir dengan panas matahari yang membakar . Suhu di padang pasir itu   mencapai 45 bahkan bisa sampai 50 derajat celcius. Sebagai perbandingan Jakarta yang saat sangat panas mencapai 32-36 derajat C.

     
Diatas adalah gambar peta seluruh Jazirah Arab dengan luas 3.151.000 km2 ( yang luasnya 3 kali gabungan pulau Jawa dan pulau Kalimantan ) berwarna hijau. Dibagian kanan karena perubahan iklim , dibagian barat menjadi gurun , di bagian timur masih hijau. Daerah tanah hijau yang subur , banyak tumbuh tanaman , pohon2an , banyak air mengalir masih tersisa di Jazirah Arab bagian Timur seperti negara Oman . Silahkan ketik Google Image Dhofar green atau Youtube Wadi Al Bardani atau Tak Hanya Indonesia, Ternyata Arab Saudi Juga Punya Lembah Yang Indah , Youtube Al Fayfa Mountain , Youtube Dhofar waterfall, Kheef Dhufar.

          Sumber Google : Arabia was once a lush Paradise of grass and woodsland on BBC dan Alluvial fan records from southeast Arabia reveal multiple windows for human dispersal atau Ancient Saudi Arabia was once lush and Green.

Perubahan tanah di Jazirah Arab


       Keterangan Gambar 1 : Karena perubahan iklim bagian barat Jazirah Arab ( termasuk daerah Mekkah dan Medinah ) tanah yang dulunya subur menjadi gurun . Google : Desert of Mecca. Gambar 2 dan 3 : Dibagian timur Jazirah Arab khususnya negara Oman , tanah masih subur. Banyak sungai mengalir , air terjun sehingga tanaman masih tumbuh subur. Google Images : River of Dhofar dan Waterfalls in Dhofar mountain.

Lingkungan membuat adat manusia

          Lingkungan alam tentulah sangat mempengaruhi adat kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi budaya. Cuaca yang sangat dingin seperti di kutub bumi / Alaska membuat manusia berpakaian tebal dan tertutup agar menjadi hangat. Cuaca yang sejuk dan hangat ( saat kemarau ) seperti di Indonesia membuat pakaian sedikit terbuka agar terasa semilir ketika angin bertiup. Cuaca di Gurun pasir Arab Saudi yang panas membakar , membuat para penduduk aslinya berpakaian tertutup ( Jilbab ) yang terdiri dari kerudung dan jubah. 




            Setiap orang mempunyai adat kebiasaannya masing-masing tergantung dari lingkungan alamnya. Dengan sangat bijaksana Tuhan / Allah di Al Isra 84 berkata / berfirman , tentang keharusan / kewajiban setiap orang berperilaku sesuai keadaan adat kebiasaannya / budayanya masing-masing : 

       Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

         Keterangan Gambar 1 dan 2 : Sinar matahari yang membakar kulit membuat penduduknya baik pria dan wanita memakai pakaian yang tertutup yang hanya menyisakan kedua mata untuk melihat. Tertutupnya hampir seluruh wajah selain berguna untuk melindungi wajah dari matahari juga untuk menutupi / melindungi hidung bila pasir/ debu berterbangan. Gambar 3 dan 4 . Tukang sapu di pinggir jalan Bantul Yogyakarta Indonesia , ketika bekerja dibawah terik panas matahari jam 12 siang. . Pakaian jenis ini hanyalah reaksi yang wajar sebagai reaksi manusia terhadap alam lingkungan sekitar. Kesalah pahaman menganggap pakaian jilbab ini , sebuah pakaian yang suci dan sebagai penanda orang bertakwa harus diluruskan . Karena ini hanyalah sekedar pakaian pelindung panas yang juga dipakai di Indonesia oleh para penyapu jalanan , pengaspal jalan , tukang parkir , pemudik lebaran , pengendara sepeda motor di siang hari , buruh tani penanam padi dan segala profesi yang berpanas-panas dibawah teriknya sinar matahari.

           Keterangan gambar atas : Para pemudik hari raya  juga memakai pakaian tertutup untuk menghindari panas teriknya sinar matahari. Reaksi yang sama saat orang Arab Baduy  ( bangsa Semit ) , nenek moyang orang Arab . Mereka hidup 24 jam di bawah panas teriknya sinar matahari gurun pasir. 

SUKU ARAB BADUY YANG MEMISAHKAN PRIA DAN WANITA

Pemisahan pria dan wanita karena perang setiap hari

            Bencana nasional ( nasion : artinya bangsa , bencana yang menimpa suatu bangsa ) yang menimpa suatu daerah yang luas sekaligus akan merubah budaya masyarakatnya. Ketika bencana Virus corona di Indonesia tahun 2020 ini menyebabkan Social Distancing , pemisahan jarak / hubungan setiap orang baik pria maupun wanita sejarak 1- 2 meter. Demikian pula ketika bencana kekeringan yang menimpa Jazirah Arab seluas 3.151.000 km2 ( 3 kali gabungan luas pulau Jawa dan pulau  Kalimantan ) menyebabkan berubahnya budaya masyarakat Arab yang ada di dalamnya. Sudah menjadi hukum alam , ketika sumber daya alam terbatas maka terjadilah konflik . Karena tanaman penghasil makanan nyaris musnah ( menyisakan pohon kurma di sekitar oasis ) membuat masyarakatnya berperang memperebutkan makanan antar desa. Peperangan ini menyebabkan social distancing , pemisahan jarak antara pria dan wanita. Pria yang lebih agresif setiap hari maju berperang akan memisahkan para wanitanya untuk dirumah saja. Secara alamiah pemisahan ini berlangsung karena tenaga pria lebih kuat dan wanita yang sifatnya lebih lembut yang sangat cocok mengasuh anak dirumah , membereskan urusan rumah tangga. Majunya wanita ke medan perang menyebabkan resiko terbunuh karena sifat alaminya yang lebih lemah.


               Gambar 1 : Di Indonesia yang alamnya subur tanaman-tanaman yang menghasilkan makanan melimpah ruah. Puluhan ton makanan terbuang, tidak ada perang memperebutkan makanan antar desa. Gambar 2 dan 3 : Tampak masyarakat Arab Baduy ( anak cucu bangsa Semit ) yang terpisah pria dan wanitanya akibat perebutan makanan  antar penduduk / antar desa setiap hari. Sumber gambar di google : Bedouin Old Foto.Kondisi ini karena kondisi gurun yang tak ada tanaman yang menghasilkan makanan . Secara alamiah kondisi ini menyebabkan para penduduknya saling berebut makanan . Gambaran ini semacam “perang antar desa” yang terjadi setiap hari. Mereka menamakan hari-hari itu sebagai “ Hari-harinya orang Arab “ atau “ Ayyam al-Arab “ yang berarti permusuhan antar suku yang secara umum muncul akibat persengketaan seputar hewan ternak , padang rumput dan mata air (Paul K.Hitti : pada History of Arabs hal 116 ). Ketika tetangga propinsinya bangsa Sumeria mengembangkan budaya yang tinggi di Mesopotamia di  lembah diantara dua sungai Euprat dan Tigris ( sekarang Irak )  mereka ini masih sibuk berperang.  Kesuburan lembah Mesopotamia membuat penduduk nya ( bangsa Sumeria ) makmur dan sejahtera membuat mereka sempat mengembangkan kebudayaan yang tinggi. Berkebalikan dengan bangsa Semit penduduk di Jazirah Arab ini yang setiap hari selalu berperang  dan tidak ada lahan yang subur membuat mereka menjadi “ bangsa Nomad “  , yang selalu berpindah mencari air dan tanah yang subur untuk mengembala ternak ( kambing dan Unta). Kemudian Paul K. Hitti meneruskan tulisannya tentang kepindahan bangsa Semit nenek moyangnya ( tahun 3500 SM ) ke utara  : “ Bangsa Semit tiba di lembah tersebut sebagai  bangsa “ Nomad barbar “ ( barbar : belum beradab. Bangsa barbar : bangsa yang belum beradab yang sifatnya kasar dan kejam ), tapi kemudian belajar dari bangsa Sumeria , pendiri peradaban sungai Efrat , bagaimana cara membangun dan tinggal di rumah , bagaimana cara mengairi tanah , dan paling penting bagaimana cara menulis ( hal 13 )  .” Siapapun yang hidup dalam kondisi berperang setiap hari akan mempunyai sifat yang kasar dan kejam. Meskipun demikian , lanjut beliau , Ayyam al-Arab merupakan cara alami untuk mengendalikan jumlah populasi ( penduduk) orang-orang Baduy , yang biasanya hidup semi kelaparan dan telah menjadikan peperangan sebagai jatidiri dan watak sosial ( hal  110) 

KEDUDUKAN WANITA LEBIH RENDAH DARI PRIA
(Sebuah Tinjauan Antropology )

Budaya Traumatis bangsa Arab

             Keterangan gambar atas : Gambar 1 : Para pria Arab dengan bangga menarikan tarian perang yang merupakan budaya nenek moyang mereka. Google : Bedouin War Dance . Gambar 2 : wanita yang hidup terpisah dengan pria karena perang setiap hari. Budaya Traumatis ini masih dapat kita kita lihat sekarang. Pria yang secara alamiah mempunyai sifat agresif , lebih kuat daripada wanita maju ke medan laga . Wanita yang mempunyai sifat lebih halus dan tenaga tak sekuat pria menjadi lebih mudah terbunuh di medan perang. Akibatnya  mereka diatur agar di rumah saja untuk mengurusi urusan rumah tangga , memasak , bersih-bersih rumah termasuk mengasuh anak. Otomatis wanita dianggap tidak layak menjadi pemimpin dan bahkan pelarangan wanita menjadi pemimpin. Situasi perang setiap hari ini menghasilkan adat paranoid ( selalu curiga ) terhadap orang baru / orang asing ,   seperti : pelarangan ( pengharaman ) persentuhan pria dan wanita dengan orang asing  yang bukan saudara. Wanita tidak boleh keluar. Bila keluar rumah  harus selalu ditemani anggauta keluarga ( ditemani muhrimnya )  karena sudah dikenal setiap hari. Tidak boleh pergi dengan orang asing yang bukan keluarga ( bukan muhrimnya ). Tandus nya tanah gurun membuat pohon-pohonan tanaman keras tidak tumbuh. Akibatnya tidak ada alat musik yang seperti gitar , biola , gamelan dsb. Tidak ada tanaman kapas dan tanaman pewarna menyebabkan mereka hanya menghasilkan pakaian hitam dan putih. Karena perang setiap hari membuat orang sibuk berperang , tidak ada budaya seperti di negara kita atau negara lain yang damai. Bandingkan dengan negara kita dibawah ini.

KEDUDUKAN WANITA SETARA DENGAN PRIA DI BUDAYA AGRARIS

Berbaurnya pria dan wanita pada saat panen raya

          Seperti sudah di bahas diatas akibat bencana perubahan iklim yang menyebakan sebagian besar tanaman pangan musnah , terjadilah pertempuran antar desa selama ribuan tahun yang menyebabkan terpisahnya kehidupan pria dan wanita. Pemisahan ini karena  pembawaan wanita yang lembut dan tidak sekuat pria maka ditempatkan di rumah untuk menurusi urusan rumah tangga , mengasuh anak , mempersiapkan makanan dll.  Oleh sebab itu dalam tradisi mereka wanita dianggap tidak layak menjadi pemimpin. Lantas bagaimana kedudukan wanita pada tradisi budaya agraris yang pria dan wanitanya bercampur ?    
          Gambar 1 dan 2  : Di negara Agraris ( pertanian ) yang tanahnya subur banyak hidup tanaman pangan , kedudukan pria dan wanita relatif setara. Ini bisa dibuktikan 5 orang raja wanita di negara kita diantaranya Ratu Shima Kerajaan Kalingga 670-730 , Tribuwana Wijayatunggal dewi berkuasa di Kerajaan Majapahit tahun  1328-1351 dll. Google : Raja Wanita di Nusantara.  Pada budaya ini pria dan wanita malah diharuskan / diwajibkan berbaur / bergabung untuk bersama sama saat menanam maupun saat panen raya.  Kegiatan ini dinamakan gotong royong . Suatu hal yang baik . Anda bisa melihat  Negeri yang mempunyai lingkungan tanah yang subur menghasilkan orang yang  ramah , gembira dan berkesenian tinggi. Hubungan antara kelompok/ desa tetangga sangat baik karena makanan berlimpah . Gambar 3 : Hasil panen yang melimpah disukuri dengan mengelar tari-tarian , seni musik , seni suara sebagai bentuk rasa syukur kehadirat Tuhan yang maha esa. Hampir semua Negara Eropa dan Asia seperti  Korea , Jepang , China , mempunyai pembawaan seperti ini karena mereka juga Negara Agraris.  Gambar itu memperlihatkan Bangsa Agraris mencampurkan / membaurkan laki-laki dan perempuan. Gambar 4 :  Orang barat memainkan gamelan. Kesenian ini sekarang dianggap sebagai terapi yang dapat membuat orang menjadi baik ,  di penjara-penjara dinegara barat.  Orang Indonesia sekarang memandang rendah budayanya dan cenderung melarang berkesenian akibat berkembangnya Islam Budaya Arab Baduy ( Hadis yang terkait budaya Arab Baduy pedesaan gurun pasir ). Hal ini berkebalikan dengan Islam yang dibawa Bangsa Arab awal abad ke 7 dan para Ulama Walisongo ( datang sejak tahun 1400 an ) yang mengembangkan budaya lokal , sesuai ajaran Tuhan / Allah di Alquran , Al Isra 84 yang mewajibkan setiap orang berbuat sesuai adat kebiasaannya sendiri-sendiri.

Kesenian Tradisi artefak adat budaya agraris

         Bentuk-bentuk kesenian tradisi adalah salah satu artefak atau “ fosil hidup “ kebiasaan atau adat nenek moyang kita saat panen raya. Selain panen yang merupakan pemenuhan kebutuhan pokok manusia untuk memakan makanan, biasanya bentuk kesenian muncul saat berdoa. Dalam berdoa bisa berbentuk seni puisi / prosa maupun dengan nyanyian yang di iringi alat Musik yang bentuknya beragam pada semua agama / kepercayaan  seperti Hadroh dengan rebana pada tradisi Islam atau kidung gereja pada agama Kristen. 

          Keterangan gambar atas : Di negara agraris ( pertanian ) ketika masa panen , para penduduknya menari dan menyanyi sebagai bentuk rasa sukur kepada Tuhan atas karunia diberikan ketika masa panen raya tiba. Makanan yang melimpah membuat rasa gembira untuk dirayakan. Tradisi turun temurun selama ratusan bahkan ribuan tahun itu masih berlangsung sampai sekarang. Google : Seren taun perayaan panen. Perayaan – perayaan yang bersifat seni ini menimbulkan kegembiraan, maka saat tidak ada panenpun diadakan perayaan keseniaan oleh masyarakatnya. Tampak gambar diatas pria dan wanita menyanyi bersama , saat Grup musik tradisi KUAETNIKA pimpinan Jadoek almarhum asal Yogyakarta memainkan alat musik, gitar , kendang, bas , seruling. Alat musik jenis ini dapat dibuat  karena tanah yang subur menghasilkan kayu dan bambu. Beberapa tempat menghasilkan biji besi yang bisa digunakan untuk membuat alat yang terkait dengan alat musik dari besi seperti gamelan , senar gitar  string , Flute , Saxopone dsb.  Hal ini berbeda dengan budaya Arab Baduy di pedesaan padang pasir yang nyaris tak ada pohon kayu yang tumbuh. Mereka beradaptasi dengan hanya mengenal kesenian berpuisi. Google : Puisi jaman jahiliyah. Sebuah bentuk kesenian yang tidak membutuhkan alat musik. Selain itu budaya mereka yang memisahkan pria dan wanita dan menganggap “ wanita lebih tidak berkualitas “ dari pria berkebalikan dengan kita. Pada budaya kita wanita setara dengan pria, bahkan kadang malah merekalah yang menjadi pemimpinnya. Adalah tidak adil ketika kita dipaksa dengan kata-kata  “ diwajibkan agama “ untuk berubah menjadi budaya Arab Baduy padang pasir. Seperti jilbab , tidak boleh berbaur dengan pria dan wanita sehingga harus dipisah, wanita dan pria tidak boleh berkesenian , tidak boleh bermusik Band , memainkan gamelan dsb. Marilah kita kembali ke ajaran Tuhan yang maha adil , bahwa setiap orang berbuat sesuai dengan keadaan adat budayanya masing-masing. Seperti dalam Firmannya : 

         Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

BEDA BUDAYA KOTA DAN BUDAYA DESA

Beda budaya desa bangsa Indonesia dan bangsa Arab

                 Keterangan Gambar : Beda budaya Kota ( Urban ) dan budaya Desa ( Rural ). Gambar 1 : Sebuah Band anak muda di Jakarta. Budaya di kota -kota besar sangat terbuka menerima budaya luar , yang bukan berasal dari sukunya. Tampak  pria dan wanita bercampur memakai pakaian yang sedang tren di dunia. Memainkan musik , menari , menyanyi yang bukan dari budayanya. Gambar 2 dan 3 : Budaya Desa ( rural ) adalah budaya yang masih asli ( indigenous people ) nenek moyang para pemain band itu. Berbeda dengan budaya desa Bangsa Arab , tampak pria dan wanita bercampur saat panen padi bersama. Kebutuhan tenaga dan tradisi desa yang membuat mereka hidup rukun saling tolong menolong. Pakaian asli mereka adalah kebaya dengan rambut terlihat. Walaupun anak keturunannya di kota-kota besar sudah tidak memakai pakaian asli nenek moyang mereka di desa ( misalnya : kebaya , bisa juga pakaian orang Dayak , Papua tergantung dari sukunya )  tapi nilai-nilai karakter / ahlak yang baik yaitu berbuat baik bagi orang lain ,  menjadi orang jujur , tidak menipu , sopan kepada orang tua , bermanfaat bagi orang lain masih terus dijaga dan di pertahankan. Inilah yang dikehendaki Alquran : bermanfaat bagi orang lain dengan budayanya masing-masing ( termasuk cara berpakaian ). Tapi sayang , Viralnya Revolusi Islam Iran 1979 yang mengambil budaya desa Arab gurun pasir ( pakaian jilbab ) sebagai bentuk perlawanan terhadap barat memusnahkan keaneka ragaman budaya kita. Sumber Google : Historia : Membuka bab sejarah Jilbab. Para Ulama kita yang generasinya seumur dengan saya atau dibawah saya sedikit , harus menceritakan sejujurnya sejarah Jilbab akibat peristiwa politik yang memgoncangkan dunia itu. Karena hilangnya budaya suatu suku bangsa maka hancurlah suku bangsa itu. 

BUDAYA DESA SUKU-SUKU TERASING                                                                                                                                 YANG MEMISAHKAN PRIA DAN WANITA 
                                                                                               
Suku-Suku Terasing Pengharam Budaya Lain

         Umat Islam yang segenerasi dengan saya ketika ketika SMA di Tahun 1970an , tentu sangat heran mengapakah umat Islam sekarang ditahun 2019 hampir semua berkata Jilbab wajib . Akibatnya hampir semua wanita memakai jilbab. Padahal tak satupun ulama dulu yang mengatakan ini. Demikian pula adanya kewajiban memisahkan pria dan wanita , melarang lukisan , patung , wanita tidak boleh menari , menyanyi  dan masih banyak lagi. Budaya Indonesia yang agung , yang mengajarkan kebaikan-kebaikan itupun di haramkan / dilarang. Ini tidak lepas dari pengaruh Revolusi Islam Iran 1979 yang membuat Ulama Mazhab / Islam yang beraliran Hadis ( yang terkait Budaya Desa Arab  pedesaan gurun pasir ) , lebih berpengaruh dari pemerintah. Ulama kita sejak dulu memang bermazhab Syafi’I tapi ulama kita dulu tetap berbudaya Indonesia karena menganggap ajaran Imam Syafi’I dan para ulama muridnya yang terkait budaya Arabnya tidak wajib ditiru. Ini berbeda dengan Ulama kita sekarang dan para muridnya setelah Revolusi Islam Iran 1979 yang tidak mengembangkan budaya kita sendiri seperti halnya Walisongo , tapi malah terpengaruh dan mewajibkan “ budaya Arab Baduy pedesaan gurun pasir yang bersifat mempertahankan budaya asli dengan mengharamkaan segala sesuatu yang bukan budayanya sendiri “. Berikut ini penjelasannya.

      Ke-empat suku terasing diatas diatas mempunyai ciri khas yang sama yaitu memisahkan pria dan wanita dalam kehidupan sosialnya. Sebagai manusia biasa seperti kita  tentu Nabi Muhammad , para sahabat , para pendiri Mazhab : Hanafi , Maliki , Syafi’I , Hambali  ( para tabi’in : generasi setelah sahabat ) dan para muridnya ( semua ulama mazhab yang berbangsa Arab ) tentu mempunyai nenek moyang .Dengan mempelajari sejarah kita dapat mengetahui bahwa mereka sebagai bangsa Arab berasal dari Arab baduy di pedesaan hidup jauh terpencil di tengah gurun pasir.  Memahami / mempelajari Budaya Desa ( Rural )  suku Arab Baduy pedesaan diatas , kita dapat memahami bermacam-macam aliran / mazhab  Islam yang datang ke Indonesia saat ini. Ke-empat suku terasing yang ingin mempertahankan budaya aslinya ini mempunyai budaya anti budaya  sehingga mereka sangat intoleran terhadap budaya luar dan ilmu pengetahuan. Akibatnya  sejak ribuan atau ratusan tahun yang lalu , adat budayanya selalu sama.  Penyebab terasingnya  suku-suku ini sangat beragam. Gambar 1 : Suku Arab Baduy  yang terisolasi karena tanahnya yang subur , hutan yang lebat dan banyak sungai mengalir berubah menjadi gurun pasir .  Paul K . Hitti ( dalam History of The Arabs , hal. 16 ) menulis bahwa dalam jaman es ( 10.000 tahun yang lalu ) gurun pasir itu masih berupa padang rumput yang masih bisa dihuni . Gambar 2 : Suku Baduy di Jawa Barat yang masuk kedalam hutan tahun 1500 an ( kurang lebih 500 tahun yang lalu) karena menolak ajaran Islam . Google : urang Kanekes . Gambar 3 : Suku Samin di Jawa tengah sengaja mengisolasi diri kedalam hutan karena menolak membayar pajak yang ditentukan pemerintah Belanda tahun 1900an ( kurang lebih 100 tahun yang lalu ). Sumber Google : orang Samin. Gambar 3 : Suku Dani di Papua sejak kedatangan Homo Sapiens dari Afrika 50.000 tahun yang lalu , terasing ( terisolasi) karena di daerah pedalaman , di area hutan yang lebat di lembah Baliem . Sumber Google : suku Dani . Karena itu saya mengajak umat Islam agar menganggap perilaku / adat kebiasaan Nabi Muhammad dan para sahabat sebagai sesuatu yang sewajarnya sebagai sebuah adat budaya suatu suku , janganlah menganggap perilaku mereka itu sesuatu yang suci.  Perilaku beliau hanyalah sebuah budaya manusia biasa seperti kita. Setiap orang punya budayanya sendiri. Tidak ada yang lebih baik. Semua sama , karena adat budaya adalah penyesuai manusia terhadap kondisi alam sekitar daerahnya masing-masing. Manusia dianggap baik karena karakternya yang baik dan perilakunya yang baik terhadap orang lain. Itulah ajaran setiap budaya di dunia.  Penjelasan pada tulisan lengkap di halaman bawah. 

BUDAYA SUKU ARAB BADUY DAN SYARIAT ISLAM


            Setiap orang mencintai adat budayanya sendiri. Demikian pula Nabi Muhammad , para sahabat , para Tabiin / para Imam Mzhab seperti Imam Hanafi , Maliki , Syafi,I dan Hambali mereka cinta budaya nenek moyangnya Arab Baduy pedesaan. Ini seperti para tokoh kita dulu : Bung Karno , Ki Hajar Dewantara , Suryopranoto para istrinya masih berpakaian kebaya dengan rambut yang di sanggul , walaupun di sekitarnya para wanita Indonesia dulu sudah berbudaya kota , dengan memakai rok dan rambut tergerai. Tidak heran bila Nabi Muhammad dalam kesehariannya tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan istri / saudaranya . Demikian pula bila para Ulama Mazhab dalam bukunya melarang bercampurnya pria dan wanita. Mewajibkan pakaian adat mereka Jilbab dan ada pula yang mewajibkan cadar. Melarang budaya lain juga di ajarkan di bukunya seperti melarang lukisan / patung , bersenang -senang yang bersifat budaya seperti menari , menyanyi , memainkan musik . Seperti Soekarno , Ki Hajar Dewantoro yang tidak pernah mewajibkan budayanya ( seperti berpakaian kebaya ) kepada non Jawa ( orang Batak , orang Palembang , orang Bugis dll ) , demikian pula para ulama Mazhab beserta para murid-muridnya. Tapi setelah Revolusi Islam Iran Tahun 1979 , hasil kesepakatan ulama mayoritas ( jumhur ulama ) yang berbangsa Arab ( otomatis mempunyai budaya Arab Baduy itu ) dimasukkan kedalam Syariat Islam ( hukum Islam ). Maksud mereka adalah baik. Mereka bersepakat mewajibkan nilai-nilai budaya mereka ( termasuk Jilbab ) sebagai ajaran Islam. Masalahnya budaya seperti itu tidak ada di Alquran. Dan bila mewajibkan budaya seseorang kepada orang lain yang bukan budayanya hal ini melanggar hak azazi manusia untuk berperilaku sesuai adat budayanya sendiri. Sekaligus maalah bertentangan dengan Al Isra  84 ;

 

             Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “.

 


ORANG INDONESIA MENJADI ORANG  ARAB BADUY GURUN PASIR

          Pengaruh politik Revolusi Islam iran 1979 menjadi viral ke seluruh dunia. Berkuasanya para Ulama Mazhab pada aliran Syah dibawah pimpinan Ulama Kharismatik Khomeini mewajibkan budaya Arab Baduy  pedesaan ( diantaranya Jilbab ) mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada umat Islam termasuk pada para ulamanya. Sifat dari budaya ini yang memepertahankan budaya aslinya dengan mengharamkan budaya lain mempunyai pengaruh semakin lama semakin kuat. Ulama adalah panutan. Bila Ulama berubah ,  akhirnya masyarakat juga ikut terpengaruh mengharamkan budaya Indonesianya sendiri. Fenomena inilah yang kemudian dinamakan aliran Takfiri yaitu sebuah aliran yang mengkafirkan orang lain , baik sesama muslim maupun yang non muslim. Hal ini persis sifat periaku ke-empat suku terasing diatas yaitu suku Arab Baduy , Suku Baduy di Jawa barat , suku Dani dan suku Samin di Blora , yang mengharamkan / menolak segala budaya dari luar. Dalam hal ini khususnya adalah adat suku Arab Baduy , yang dibawa para ulama kita dari Arab Saudi .  Sebuah perubahan yang sangat berbahaya. Karena masyarakat yang kehilangan budayanya akan hancur karena terjadi perang saudara , seperti di Suriah , Irak , Libya dan sebagian besar negara Timur Tengah. Untuk itu kita harus memahami nenek moyang mereka suku Badawi atau suku Baduy ( lafal Indonesia dari Bahasa Perancis Bedouin ) di Pedesaan gurun Pasir Arab Saudi. 

Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang primitive

         Sebagian masyarakat kita telah menjadi orang Arab Baduy pedesaan gurun pasir  yang menolak / mengharamkan kebudayaan dan anti Ilmu pengetahuan.

        Keterangan : Gambar 1 : Cesar seorang Penari professional , diceraikan istrinya yang menganggap menari adalah haram dan uang dari hasil tariannyapun dianggap haram. Sebuah ajaran manusia yang terkait pandangan budaya , bukannya ajaran Tuhan . Itu sebabnya ajaran ini tidak ada di Alquran . Tampak Istrinya penganut aliran Wahhabi/Salafi. Para netizen / warga Indonesia banyak yang membela istrinya dan ada pula yang mencelanya. Gambar 2 : Cesar sedang menari mencari penghasilan yang halal , karena tidk merugikan orang lain untuk keluarganya . Google : Cesar cerai karena menari lagi. Gambar 3 : seorang Artis televisi dihujat ketika melepas jilbab / hijabnya. Para netizen / warga muslim Indonesia menghujatnya , membulinya tanpa mengingat ajaran Tuhan tentang  harus bersikap adil dengan menghargai hak seseorang ketika akan berbertingkah laku sesuai pembawaan adat budayanya. Padahal pada budaya Indonesia terlihat rambut adalah hal wajar dan sopan. Gambar 4 : saat beliau memakai hijab. Google : Rina rose dihujat karena tak menggunakan hijab. Agaknya masyarakat muslim kita berangsur menjelma menjadi masyarakat suku terasing Arab Baduy gurun pasir yang menolak/mengharamkan budaya lain. Gambar 5 : Seorang Ustadzah yang bernama Oki Setiana Dewi menolak Vaksin Campak untuk anaknya. Padahal Vaksin ini merupakan salah satu puncak pencapaian akal manusia , dalam rangka melindungi seseorang dari penyakit. Hasil ilmu pengetahuan untuk melindungi anaknya dari kematian inipun ditolaknya . Beruntung anaknya yang sakit campak , selamat dari penyakit Campak yang ditolak vaksinnya itu. Padahal di Alquran /sebagai ajaran Tuhan dengan jelas menyatakan  bahwa manusia harus menggunakan akalnya untuk memecahkan persoalan hidup sehari-hari. Seperti dalam firmannya : 

           “…….Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya “. ( Yunus 100 )

Sumber Google : Ustadzah Oki Setiana menolak Vaksin dan Anak Oki Setiana terkena campak .

Turunnya perintah Tuhan / Alquran 610 M


BEDA : ALQURAN ( AJARAN TUHAN ) DAN HADIS ( AJARAN ORANG )

              Alquran berisi ucapan / Firman Tuhan yang berisi ajaran membolehkan setiap budaya manusia asalkan bertujuan untuk kebaikan sesama manusia. Hadis berisi ucapan Nabi Muhammad dan para Sahabat ( Hadis artinya ucapan ) yang terkait budaya Arab Baduy pedesaan beliau dan berisi juga ajaran kebaikan kepada sesama manusia. Tentu saja dengan perkecualian Hadis yang palsu.

            Alquran di tulis pada saat Nabi Muhammad hidup , saat beliau menerima wahyu Tahun 610-632. Wahyu-wahyu ini di tulis sepengetahuan dan bahkan dibawah pengawasan beliau langsung. Alquran berisi ucapan / Firman Tuhan yang berisi ajaran tentang kemanusiaan , saling menghormati Hak manusia , berbuat baik sesama manusia dsb. 

Alquran dijamin kebenarannya oleh Tuhan sendiri.

              “  Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”  ( Al Hijr 15:9)

        Seperti semua agama agama lainnya di dunia ini , Alquran berisi ajaran kebajikan / berbuat baik kepada sesama umat manusia tanpa melihat sukunya , agamanya , ras-nya apa. Dalam hal ini Alquran mendidik Karakter manusia ( Faktor Internal , faktor dalam diri )  sedang kebiasaan sehari-hari yang bersifat adat / budaya ( faktor eksternal , faktor luar ) sesuai adatnya masing-masing ( Al Isra 84 ). Sedang Hadis berisi adat kebiasaan hidup sehari-hari Sang Nabi Muhammad sebagai bangsa Arab , yang bersifat faktor eksternal. Di jelaskan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 177 :

 

       “ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa  “.

Bertakwa:  orang selalu berbuat baik karena selalu merasa di awasi oleh Tuhannya seperti yang di jelaskan di Alquran : Al Anbiya 48-49 .


         Sebelum membahas Hadis , ada baiknya kita sedikit teringat akan perjalanan hidup  / biografi Nabi Muhammad SAW.  Beliau di besarkan/disusui  oleh Halimah As Sa'diah seorang wanita Baduy  Arab yang hidup pedalaman /pedesaan Gurun Pasir Arab . Beliau menghabiskan masa kecilnya disini. Google : Halimah As Sa’diah  ibu susu NabI Muhammad dari Baduy  . Dengan begitu kita kemudian paham mengapa ucapan-ucapan beliau di dalam kitab Hadis  sama atau mencerminkan budaya desa Arab Baduy gurun pasir ini. 

Hadis tidak ada yang bisa menjamin kebenarannya.

         Hadis berisi ucapan-ucapan ( hadis artinya ucapan ) Nabi Muhammad dan para sahabat yang terkait budaya Arab Baduy pedesaannya. Hadis di tulis  oleh jutaan oleh masyarakat Arab di Arab/Timur tengah 85 tahun setelah meninggalnya beliau ( Nabi wafat 632 ) di tahun 717 saat pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Jeda waktu 85 tahun itu lantaran Nabi Muhammad sendiri melarang ucapan-ucapannya / Hadisnya ditulis  ( hadis artinya ucapan ). Sumber : Ensiklopedi pelajar Islam jilid 2 hal 65 dan di buku Pengantar Studi Ilmu Hadis  ( Alqaththan,Manna’, Syeikh,  48 hal 52 )  dan bila anda tidak punya bukunya silahkan ketik More info google ketik : Jejak sejarah pelarangan hadis oleh Nabi Muhammad Ucapan-ucapan ( Hadis ) dan perilaku / Sunah ( sunah artinya perilaku ) beliau  itu diceritakann turun temurun menjadi sbuah cerita rakyat , cerita yang berkembang di masyarakat. Anda dapat membayangkan jutaan orang generasi ke 3 ( generasi cucu Nabi dan para sahabat ) yang  menulis tanpa sepengetahuan apalagi sepengawasan beliau, lantaran beliau sudah meninggal 85 tahun sebelumnya. Itulah sebabnya hadis selalu berbentuk : “ aku mendengar dari Ayahku , ayahku mendengar dari ayahnya ( kakekku ) nanti baru kakekku mendengar dari sahabat utama seperti Abu Bakar , Umar , Usman , Ali, Aisyah , dsb. Selanjutnya Sahabat utama itu barulah mendengar dari Nabi Muhammad. Periwayatan dari ayah ke anak , anak kecucu rawan sekali salah dengar , salah kira , salah paham , ada yang menambahinya dengan bumbu-bumbu mistis , hal-hal yang ajaib , terkait peristiwa politik  dsb. Inilah yang dinamakan Hadis palsu. Dengan demikian kita harus berhati-hati dengan Hadis. Banyak Hadis yang berisi ajaran kebaikan , tapi karena ditulis oleh jutaan orang tanpa di awasi oleh Nabi banyak hadis yang palsu seperti tadi. Hadis palsu ini sang periwayat hadis seolah-olah mendengar sendiri dari Nabi Muhammad atau para sahabat padahal tidak. 

Hati-hati Hadis palsu

      Dengan mengerti cara penulisan hadis yang ditulis oleh jutaan masyarakat Timur Tengah dan Arab Saudi yang tidak diawasi oleh Nabi Muhammad lantaran bekiau telah meninggal 85 tahun sebelumnya maka kita harus hati-hati bila akan mempercayai Hadis. Hadis yang benar harus sesuai dengan realitas kehidupan dan sejalan dengan ajaran Tuhan di Alquran. Kita senang bila ada tetangga kita yang senang berbuat baik bagi tetangga maupun sesama.  Pendek kata orang tersebut sangat bermanfaat bagi para tetangganya. Tentulah ini perilaku yang baik , dibanding dengan  seseorang yang selalu berbuat kisruh , merepotkan tetangganya,. Ada sebuah hadis mengenai hal ini. Rasulullah SAW. bersabda:

           "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain"

Tentu lah ini hadis yang pasti berasal dari Rasulullah, karena mengajarkan kebaikan.  Selain itu juga sejalan ajaran Tuhan / Alquran :

               "Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri…"
(QS. Al-Isra:7)

ALQURAN : AJARAN TUHAN  ,  HADIS : AJARAN BUDAYA ARAB BADUY


KITAB AL-QURAN.
( Berisi ajaran Tuhan )
KITAB HADIS
( Berisi ajaran adat kebiasana/budaya Arab Baduy )
1. Menghargai kemanusiaan HAK –HAK orang lain / hak individu (Ash Shuara 183 ) .  Aurat tidak didefinisikan . Aurat berdasar budaya masing – masing. Boleh memakai T shirt , celana Jeans , kaos oblong , yang penting  sopan sesuai adat sekitar. Memeperlihatkan sebagaian paha atas dengan memakai celana pendek di pesta perkawinan tidak boleh karena tidak sopan , tapi bila dilapangan sepakbola boleh. Sesuai An Nur 31 penggalan pertama pengatur cara berpakaian pria dan wanita: ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka ”
Hampir tidak ada hak invidu , karena keharusan etika kesukuan / berkelompok yang menghendaki hal yang sama dan melarang budaya /mengharamkan budaya luar. Seperti model baju sama , tidak boleh ada model lain seperti memakai rok , T Shirt , celana Jeans dll . Model pakaian berdasar Hadis mursal ( tertolak ) yang berasal dari Abu Daud yang berisi : Nabi Muhammad menyuruh  Aisyah memakai baju yang terlihat wajah dan telapak tangan. Mazhab Syafi’I : mengatakan yang boleh di tampakkan wajah dan telapak tangan. Mazhab Hambali : mengatakan seluruh tubuh aurat. Karena biasa tidak tampak ( tertutup ) maka timbullah pendapat : rambut aurat, lengan aurat , leher , seluruh tubuh aurat  dan lain-lain.
2. Penggalan An Nur 31 kedua dan Al Ahzab 59 adalah ayat sejarah . Ayat-ayat ini turun karena adanya peristiwa yang mengenai  Muslimah saat itu. Ayat tersebut bukanlah pengatur pakaian wanita. Tapi karena pengaruh politik Revolusi Islam Iran 1979 yang menghendaki jilbab sebagai bentuk perlawanan terhadap barat ,  ayat ini dipakai sebagai ayat pengatur cara berpakian wanita dengan memakai kerudung dan jilbab. Hal ini karena ada kata kerudung dan jilbab di kedua ayat tersebut.
Jilbab hanya boleh dibuka di depan sauadara atau pria yang tidak boleh dinikahi ( muhrim ) , ayah , saudara.Wanita tidak boleh jadi pemimpin karena dianggap lemah. Pemimpin adalah laki-laki.
3.Tidak ada satupun ayat yang menyuruh memakai jilbab model tertentu atau berpenampilan tertentu. Mengajarkan menjadi rahmat bagi semua benda , mahluk dialam semesta , termasuk hewan anjing.
Berisi juga tentang : celana diatas mata kaki  mencukur kumis , memelihara jenggot.
Mazhab Syafii : Menajiskan anjing.
Mazhab Maliki : Tidak menajiskan anjing
.

4. Segala yang ada di dunia ini untuk manusia .( Al Baqarah 2: 29),  Allah SWT mendudukkan seni budaya manusia pada tingkat tertinggi: Pakaian yang indah dari sutera sebagai hadiah disurga.  ( Al Hajj 22:23) ( Al Kahf 18: 31) disebutkan 6 kali . Setiap orang berbuat sesuai adat istiadat/budaya-nya masing-masing (Al Isra 17:84)
Menolak dunia. Melarang seni budaya dari luar seperti gambar , patung mahluk hidup. Seruling adalah suara setan . Mengharamkan biduanita. Mengharamkam  sutera. Melarang kesenangan yang bersifat seni budaya.
5. Kita diwajibkan dalam Al-Quran : mencari Ilmu  disebut 44 kali , menggunakan Akal disebut 12 kali,  Mencari Hikmah ( pelajaran dari sesuatu, (bila dikaitkan dng alam jadi ilmu pengetahuan) disebutkan 26 kali. Baik hati , jujur (saleh) disebutkan 131 kali Berbuat baik pada orang lain  , kepada alam , termasuk hewan  (amal : berbuat , saleh: baik) disebut 91 kali . (sumber : Qari CD for Digital Al-Quran, Sheikh Saad Said Al Ghamidi).
Banyak kisah teladan Nabi Muhammad untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dengan menjadi orang baik , jujur, banyak berbuat kebaikan , menepati janji , dapat dipercaya. Patuh pada orang tua kita , ayah dan ibu. Mendorong umat Islam untuk berilmu.
7.  Berpuasa agar bertaqwa (selalu berbuat baik karena takut hukumannya kelak di akhirat) dalam Al Baqarah 183 . Shalat  (artinya memohon, berdoa) bertujuan agar ingat adanya ( Taha 14 ) Tuhan yang selalu mengawasi  gerak gerik kita , sehingga seseorang selalu berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat takut akan balasan setelah hari kiamat . Inilah yang dimaksud  menjadi orang yang bertakwa ( Al Anbiya 48-49 ).
Berpuasa menghapus dosa. Bila Shalatnya tidak baik maka perbuatan baiknya tidak di terima. Aqiqah :  Doa seorang anak akan terhambat kecuali ditebus 2 ekor kambing.


Para penyintas bencana kekeringan Arab Saudi
             
               Di Arab Saudi sekarang ada dua daerah yang berbeda akibat perubahan arah angin monsun. Gambar 1 dan 2 :  Daerah padang pasir  yang masih di huni oleh Anak keturunan Bangsa Semit / orang Baduy / Bedouin Arab ( dari kata Badawi : Gurun pasir ) akan kita lihat saat kita menunaikan ibadah Haji atau Umroh . Gambar 3 dan 4 : daerah yang masih banyak turun hujan , sungai yang mengalir dan tanah yang subur banyak tumbuhan maupun rumput yang menghijau. 
Silahkan ketik Google Image : Wadi Al Bardani atau Tak Hanya Indonesia, Ternyata Arab Saudi Juga Punya Lembah Yang Indah

III. DUNIA ISLAM SEBELUM DAN SETELAH REVOLUSI ISLAM IRAN 1979 ( RINGKAS )

Dulu Jilbab Dianggap Bukan Ajaran Islam : tahun 610

              Adanya agama “ Islam  “ tentulah setelah adanya Wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad kemudian di bukukan menjadi Alquran. Dengan kata lain bila ada istilah “ ajaran Islam “  tentu mengacu kepada “ ajaran Tuhan “  yang dibukukan menjadi Alquran. Dengan mempelajari sejarah masa lalu , bagaimana Islam dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat maka bisa disimpulkan bahwa “  Jilbab bukanlah kewajiban ajaran Islam “ . Terbukti sejak penaklukan Kerajaan Persia menjadi Kekhalifahan Islam Persia ( sekarang Iran , Irak , Suriah , Mesir ) tahun 632 oleh para sahabat Nabi yang utama ( Khulafaur Rasyidin ) : Abu Bakar , Umar , Usman , Ali yang diteruskan oleh Khalifah  / Raja penerusnya sampai tahun 1979 tidak pernah mewajibkan jilbab dan Budaya Arab Baduy  lainnya seperti memisahkan pria dan wanita , melarang wanita berkesenian dsb. Islam seperti halnya budaya manusia dimanapun , dalam ajarannya menginginkan seseorang menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi orang lainnya. Ini juga seperti agama lainnya Kristen , Budha , Hindu menilai seseorang baik pria dan wanita dinilai dari perilakunya yang baik / jujur kepada orang lain ,  bukan pakaiannya. Karena menjadi orang jujur , baik atau orang saleh (Saleh artinya baik / jujur ) yang banyak berbuat baik / amal saleh ( amal : perbuatan , saleh baik , jujur )  akan masuk surga ( Ar Rad 13 : 23 , Al Baqarah 2 : 82 ). Kebalikannya  bila seseorang perilakunya jahat dalam keseharian kta menyebutnya berbuat dosa terhadap orang lain maka dia akan mendapat hukuman masuk neraka ( Al Baqarah 206 ) . Ada baiknya kita melihat kehidupan sehari-hari para wanita di kekhalifahan Islam Persia di bawah ini.

Jilbab pakaian pembeda saat Islam diwahyukan ke Nabi Muhammad

          Seperti halnya Kebaya pakaian tradisi Indonesia , saat turunnya Islam di tahun 610 yang diterima Nabi Muhammad , Jilbab juga menjadi pakaian tradisi / sehari-hari orang Arab di pedesaan gurun pasir dan di perkotaan. Bila di pedesaan Jilbab digunakan sebagai pakaian alat untuk melindungi diri dari panas matahari yang membakar ( kadang sampai 50 derajat Celcius ) , tidak demikian pemakaian jilbab di perkotaan seperti di  Mekah dan Medinah. Jilbab di kota-kota dipakai sebagai alat pembeda antara wanita Merdeka serta wanita Bangsawan dan  disisi lain Budak dan pelacur tidak boleh memakai Jilbab . Pemisahan ini akibat Hukum di kerajaan Assyria ( terletak di utara / tetangga propinsi daerah Irak sekarang ) tahun 1075 SM (  lihat Google :  Middle Assyrian Law Code - Jewish and Christian Literature….Lihat A 40 ). 

ISLAM BUDAYA LOKAL PERSIA  : DAMAI , MAKMUR DAN SEJAHTERA

Kekhalifahan Islam saat Cinta Budaya dan Ilmu Pengetahuan : tahun  632-1979

             Penerapan budaya Lokal adalah wujud dari perintah Tuhan / Alquran untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan sejahtera.  Perintah Tuhan di Alquran yang mewajibkan setiap orang dengan budayanya masing-masing ( Al Isra 84 ) dan kewajiban setiap orang berilmu pengetahuan ( Al-Mujadilah 58: 11 ) benar-benar diterapkan. Persis seperti Bangsa Jepang , Bangsa Cina , Bangsa Korea yang rakyatnya cinta budaya dan cinta Ilmu pengetahuan , demikian pula dengan Bangsa Persia dulu ditahun 632 . Saat ini Kekhalifahan Persia yang ditaklukkan oleh Abu Bakar r.a , Umar , Usman dan Ali berkembang menjadi Bangsa yang maju , makmur dan sejahtera rakyatnya. Bangsa Persia sebagai penerus kebudayaan Mesopotamia yaitu Akkadia , Assyria Babylonia , dan seterusnya sama sekali tidak diganggu , dengan mewajibkan budaya Arab Baduy Pedesaan gurun pasir seperti : Jilbab , melarang melukis mahluk hidup , wanita tidak boleh merias diri, berkesenian dan lain sebagainya. Walaupun beliau-beliau berasal dari Jazirah Arab. Ini berkebalikan dengan negara-negara  atau daerah yang mayoritas penduduknya Islam sekarang seperti Iran , Aceh  , Yaman , Arab Saudi . Khusus Arab Saudi sekarang mereka mulai kembali ke budaya kota yang membolehkan budaya universal seperti mamakai celana Jeans , T shirt dengan rambut tergerai bebas. Hal ini dengan maksud agar Arab Saudi tidak hanya tergantung pada ekonomi minyak tapi juga kekonomi kreatif / ekonomi kebudayaan.  Saat inilah Negara Islam Persia yang sekarang pecah menjadi  Iran , Irak , Suriah , Mesir , Afghanistan  tercatat sebagai Jaman Keemasan Islam , ditandai dengan kemakmuran , banyak gedung gedung megah dibangun dan rakyat yang sejahtera. 


            Keterangan gambar atas : Gambar panah merah melukiskan para Sahabat yang dipimpin oleh oleh Abu Bakar , Umar , Usman dan Ali menerbu Kerajaan Persia tahun 632 dan mendirikan Kekhalifahan Islam Persia. Beliau tidak mewajibkan budaya Arab Baduy seperti Jilbab , memisahkan pria dan wanita , melarang lukisan dsb. Beliau malah mengembangkan budaya lokal / setempat Persia. Ini sangat sesuai dengan ajaran Islam Alquran / Tuhan yang mewajibkan setiap orang berbuat sesuai kesadaan adat budayanya sendiri :  

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

            Dan dengan demikian Islam mengalami masa kejayaannya yang disebut “ Golden Age  of Islam “ aatau jaman ke-emasan Islam. Ini berbeda dengan Propinsi Aceh yang malah melarang budaya lokalnya sendiri dan mmewajibkan  budaya Arab Baduy yang disalah pahami sebagai budaya Islam. 
           

Islam Budaya Lokal Persia

        Budaya lokal adalah ajaran kearifan , kebijaksanaan untuk masyarakatnya. Nasihat yang berupa pepatah ini lebih dipahami masyarakatnya dari pada budaya-budaya asing yang masuk.Contoh Pepatah budaya sastra Persia yang mengajarkan kearifan bagi masyarakatnya

         "aku menangis karena tidak mempunyai sepatu baru, tetapi tangisanku segera berhenti pada saat aku melihat ada orang lain yg tidak mempunyai kaki “ artinya : pepatah yang mengajarkan bangsanya untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita punyai karena ada orang yang lebih tidak beruntung. Sumber Google : Pepatah Persia.

          Kebutuhan manusia akan “selfie “ sudah menjadi naluri.  Karena belum di temukan alat Fotografi  ( ditemukan abad 19 ) mereka mengembangkan lukisan-lukisan.  Beberapa lukisan Reza Abbasi , seorang pelukis di saat Kekhalifahan Islam Persia di abad 16 (lahir 1565 ) di Masshad ( sekarang Iran ).  Rambut boleh ditampakkan , jilbab tak di wajibkan. Wanita boleh bersolek dengan mengenakan pakaian indah sesuai pakaian tradisi Persia . Dan lukisan –lukisan manusia ini membuktikan bahwa pemimpin maupun ulama umat Islam kita dulu mebolehkan lukisan mahluk hidup. Silahkan anda mengagumi kemakmuran Kekhalifahan Islam Persia di  Google  Gambar/Images : Reza Abbasi  Painting Women Classic Persian . 

IBNU SINA DIKAFIRKAN AL GHAZALI

Penyebab mundurnya Islam

            Seorang ulama besar Islam bernama Al Ghazali ( lahir tahun  1059 ) membagi dua Ilmu yaitu Ilmu Akherat dan Ilmu Dunia. Beliau berpendapat bahwa Ilmu Akherat adalah suatu ilmu yang hanya bersumber dari Alquran dan Hadis. Sedang Ilmu Dunia adalah bersumber dari dunia dan isinya : manusia , hewan , Tunbuhan . Tidak heran bila beliau mengkafirkan Ibnu Sina ( seorang dokter bangsa Persia ) yang hidup ratusan tahun sebelumnya karena mempelajari Ilmu dunia yang dianggap beliau sebagai ilmu yang hina , rendah dan kotor. Apalagi Ibnu Sina juga bersandar pada Ilmuwan Yunani Aristoteles . Selain Ibnu Sina , Ilmuwan lain yang di kafirkan adalah  Al Farabi seorang pemusik , pencipta alat musk , Ahli Aritmatika dasar dan kedokteran. Google : Ibnu Sina dan Al Farabi di kafirkan Al Ghazali.  Karena Al Ghazali saat itu menduduki puncak Ulama yang sangat  berpengaruh karena didukung oleh pemerintah saat itu ( Kekaisaran Seljuk Raya )   , kata-katanya dianggap sebagai Fatwa , seolah olah sebuah kebenaran yang hakiki. Maka akibat dari Fatwa itu , umat Islam mengalami kemunduran. Ini disebabkan karena sejak saat itu umat Islam berbondong –bondong hanya mempelajari Alquran dan Hadis yang disebut Al Ghazali sebagai Ilmu Akherat  dan melupakan Ilmu pengetahuan dunia. Sayang Al Ghazali lupa , bahwa mempelajari Ilmu tentang Alam (astronomi , fisika , matematik ) dan mahluk hidup ( manusia , hewan , tumbuhan )  sedang mempelajari ciptaan NYA  , ciptaan Tuhan juga. Apalagi hasil Ilmu Pengetahuan dari penelitiannya itu digunakan untuk berbuat baik menolong orang lain . Dan ini Ilmu Akherat juga.  Seperti dalam Firmannya : 

          "...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah 58: 11).

          “ Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh ( berbuat baik bagi orang lain ) , mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya “ . ( QS. Albaqarah 2: 82 )

Sumber Google ketik  : 100 ilmuwan Islam , Ibnu Sina , Al-Khwarizmi , Masjid peninggalan Kekhalifahan Islam, Ibnu Sina dikafirkan oleh Al Ghazali.


            Gambar atas : Saat Kekhalifahan Persia abad sampai abad ke 12 adalah masa kejayaan / Ke emasan Islam. Ajaran Alquran agar seorang muslim bermanfaat bagi orang lain dengan menggunakan Ilmu pengetahuan berkembang subur. Ketika umat Islam sekarang bertengkar hebat soal beda kebiasaan hidup sehari-hari / adat budaya Arab Baduy di banding dengan Indonesia dengan mendosakan pihak yang berbudaya Indonesia seperti Rambut ditampakkan dosa , bersalaman dengan wanita / pria lain adalah dosa  , tidak memakai jilbab dosa dsb. Masyarakat muslim dulu berlomba berbuat kebaikan kepada orang lain dengan menjadi orang yang berilmu. Tidak heran istilah Ulama jaman ke-emasan Islam dulu adalah seorang Ilmuwan . Gambar 1 : Ibnu Sina bapak kedokteran. Dengan dasar ilmu kedokteran yang dikembangkan , para dokter sekarang dapat menemukan obat untuk sebagian besar penyakit seperti Typhus , batuk , pilek  , Tbc dsb. Beliau telah menerapkan ajaran Islam : berbuat baik ( amal Jariah : perbuatan baik untuk masyarakat luas ) dan bemanfaat bagi masyarakat banyak.  Gambar 2  : Al Khwarizmi bapak matematik modern . Yang jasanya menemukan  Algoritma sebagai dasar pembuatan computer dan Handphone yang sedang anda pegang ini.  Gambar 3 : Sebuah Masjid dengan arsitektur yang indah yang dibangun saat Kekhalifahan Islam. Gambar 4 : Tapi Istilah “ Ulama “ dijaman sekarang ini telah berubah menjadi seseorang yang hafal Alquran dan Hadis . Hal ini disebabkan sebagian juga oleh pengaruh Al Ghazali yang mengkafirkan para Ilmuwan yang meneliti Dunia dan isinya : hewan , manusia , tumbuhan , tanah , angin , matahari , bintang dsb yang digunakan unuk menolong dan memudahkan hidup manusia

KONDISI PERSIA DITAHUN 2019

Kehancuran Islam Persia

.              Setelah Revolusi Islam Iran 1979 yang mewajibkan Budaya Arab Baduy yang tercantum dalam kitab Hadis , maka pengaruh politik itu menyebar ke seluruh dunia Islam.  Budaya Persia mereka musnah di gantikan Budaya Arab Baduy pedesaan gurun pasir , sebuah Budaya yang Anti Kebudayaan. Lukisan Mahluk hidup dilarang , kesenian dilarang ,pakaian wanita hanya satu model Jilbab dan warna hitam. Punahnya budaya menimbulkan kekacauan di dalam masyarakat. Tidak ada saling menghargai yang mengakibatkan perang saudara. Timbullah jaman kegelapan Islam yang di tandai dengan kehancuran dan penderitaan manusia.


               Keterangan gambar : Gambar diatas adalah bekas Kekhalifahan Persia sekarang Syria , Irak , Mesir , Afghanistan , Pakistan. Ditempat yang sama tapi kejadian yang berbeda. Dulu Budaya lokal dan ilmu pengetahuan dikembangkan oleh para sahabat : Abu Bakar , Umar , Usman , Ali. Suasana damai , banyak gedung dibangun. Tapi segalanya berubah sejak Revolusi Islam Iran 1979 yang mewajibkan Budaya Arab Baduy pedesaan gurun pasir yag memisahkan pria dan wanita , mewajibkan pakaian Jilbab bagi para wanitanya , melarang lukisan , patung dsb. Google : Revolusi Islam Iran 1979. Mereka kehilangan budaya lokalnya sendiri yang demikian luar biasa majunya. Mereka adalah pewaris dan penerus kebudayaan Mesopotamia yaitu Akkadia , Assyria, Babylonia , dan seterusnya tapi mendadak kehilangan itu semua dalam satu hari pada tanggal 1 April 1979 lewat referendum nasional. Akibatnya sejak tahun  2011 keatas  , hampir seluruh wilayah bekas wilayah Kekhalifahan Persia dalam suasana perang. Balas membalas antar rakyatnya yang saling klaim , agama Islam dirinya-lah yang paling benar menyembah Tuhan ( perang dilandasi sentimen agama Suni dan Syiah ) . Banyak gedung hancur , termasuk masjid peninggalan kuno 1300 tahun yang lalu ketika dibangun para Khulafaur Rasyidin , para sahabat Nabi yang terpercaya. Mereka dulu bahagia , banyak cerita budaya lokal mereka yang mendunia : Kisah seribu satu malam , Kisah Abunawas , Kisah lampu aladin. Lihatlah sekarang  , bandingkan dengan dulu , mereka hidup sengsara , jutaan orang mengungsi ke seluruh penjuru dunia , bahkan sampai ke negara kita.Tidak ada seorangpun yang senang dalam kondisi perang. Sungguh ironis dan tragis nasib mereka , suatu pelajaran bagi kita bangsa Indonesia yang berbagai macam kepercayaan dan suku.  Marilah kita kembali ke Alquran dan budaya lokal kita masing-masing seperti Jawa , Sumatera , Kalimantan dsb.  Sumber Google Images ketik :  Bom Blast in Syria , Irak , Egypt , Afghanistan , Pakistan.

ISLAM DI INDONESIA MEMBANGUN PERADABAN LOKAL

Agama Islam dan Budaya lokal pepatah 

            Berbeda dengan sebagian besar ulama sekarang yang sibuk mewajibkan budaya Arab Baduy karena terpengaruh peristiwa politik Revolusi Islam Iran 1979 seperti : mewajibkan jilbab dengan segala modelnya , memisahkan pria dan wanita yang bukan saudaranya , mengharamkan bersalaman pria dan wanita yang bukan saudaranya dan lain sebagainya ,  para ulama awal kita termasuk walisongo, membangun peradaban yaitu mengembangkan budaya lokal dan ilmu pengetahuan. Karena budaya lokal  seperti seperti menari , menyanyi , pepatah ini adalah sebuah ajaran agar masyarakatnya memperoleh kedamaian dalam bermasyarakat. Ini sesuai dengan dengan ajaran Tuhan / Alquran yang menamakan  ajarannya sebagai “ Dienul Islam “ yang artinya ” sebuah jalan menuju kedamaian” . Demikianlah “ ajaran Budaya “ yang menjadi aturan pada masyarakatnya  agar menjadi damai  , otomatis sama dengan dengan “ ajaran Tuhan “ yang menghendaki kedamaian hidup manusia. Kemudian bisa di artikan bahwa : tafsir ajaran Tuhan harus sesuai dengan ajaran budaya setempat yang menghendaki perdamaian. Memang Alquran mengingatkan kita tentang pentingnya budaya manusia dimanapun tempatnya didunia ini. Tafsir yang menghasilkan orang terbunuh , teraniaya seperti yang dilakukan aliran Islam garis keras dengan bom bunuh diri , memukuli orang yang tak sependapat dengannya, hal ini tentulah tafsir yang salah.  Karena tidak menimbulkan kedamaian di hati orang lain. Berikut ini ajaran budaya dalam pepatah yang mengajarkan perdamaian.

Pepatah Jawa

Ajining diri ono ing lathi : Kehormatan dirimu terletak pada lidahmu atau ucapanmu.
Ojo adigang, adigung, adiguno : Janganlah merasa paling kuat, merasa paling mulia, merasa paling penting.
Becik ketitik ala ketara : Berbuat baik maupun buruk akhirnya akan terlihat juga
Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti : Semua angkara murka atau tindak kejahatan akan kalah oleh Keluhuran Budi

 Pepatah Melayu:

Akibat nila setitik rusak susu sebelanga : Nama baik yang di bangun bertahun2 rusak akibat perbuatan tercela.
Dikandang kambing kita mengembik, dikandang sapi kita melenguh. Yang berarti bahwa kita harus pandai menyesuaikan diri, agar dapat selaras dengan lingkungan dimanapun kita berada.

Pepatah bugis/Makasar:

"Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja" : Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir.
”Reso temmangingi namalomo naletei pammase dewata” : kerja keras dengan penuh keikhlasan dan tak lupa berdoa agar tujuan kita dapat tercapai
 Pepatah Padang.

Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi : Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi.

Islam budaya Jawa

               Walisongo yang seniman sekaligus Ilmuwan . Ulama kita dulu , termasuk walisongo adalah warga Arab , baik yang keluarga Nabi Muhammad maupun yang non keluarga. Gambar 1 : Mereka di Indonesia malah mengembangkan Budaya Lokal kita dengan mengembangkan tarian-tarian Jawa serta mengembangkan musik gamelan Jawa. Google : Walisongo mengembangkan Tarian Jawa. Bukan hanya seniman merekapun ahli mendirikan sekaligus perancang bentuk bangunan. Mungkin kalau sekarang mereka setara dengan Insinyur Tehnik sipil dan Arsitek. Gambar 1 , 3 dan 4 ) : Tampak diatas Sunan Kudus ( salah seorang dari walisongo ) mendirikan Mesjid Kudus yang mempunyai gaya arsitektur Hindu dan masih megah kuat berdiri kokoh selama hampir 500 tahun lebih . Google : Masjid Kudus di didirikan oleh Sunan Kudus. Sekaligus para Ulama kita dulu sangat toleran . Saya tidak bisa membayangkan ulama kita sekarang dan umat Islam kita sekarang , membuat Mesjid yang desainnya Hindu. Tentu sumpah serapah Kafir akan bergema dimana-mana. Padahal kubah Mesjid itu berasal dari bentuk Gereja Kristen Orthodox yang bernama Hagia Sopha atau Aya Sophia. Dan menara Masjid-pun menurut Gus Muwafiq seorang penceramah terkenal asal Yogyakarta bukan milik Islam , tapi milik Agama Zoroaster ( Agama Majusi ) penyembah api. Awalnya dulu mmenara itu pucuknya adalah api yang akan disembah yang dinamakan Manaro  , tapi setelah rajanya masuk Islam tetap di pertahankan. Manaro kemudian menjadi Menara.  Marilah kita kembali ke ajaran Ulama kita dulu yang menjunjung budaya lokal dan sangat toleran dengan agama lain. Hindari sikap sombong , seolah benar sendiri. Karena Tuhanpun tidak senang sikap yang sombong. 

VIRALNYA REVOLUSI ISLAM IRAN 1979 : DARI ALQURAN KE HADIS

Dari masyarakat Alquran ke masyarakat Hadis

                Sebelum Revolusi Islam Iran 1979 masyarakat Islam adalah masyarakat Alquran yang menghargai semua kebiasaan adat /budaya ( Al Isra 84 ). Tapi setelah peristiwa yang mengguncangkan dunia itu , para Ulama Mazhab disana memegang kendali pemerintahan . Mazhab artinya aliran yang berpegang kitab Hadis yang terkait budaya Arab. Revolusi itu  dibawah Pimpinan Ulama Syiah , Imam Khomeini yang bermazhab Imam Jafari Dua belas Imam . Karena beliau adalah pemimpin tertinggi Agama dan pemerintahan maka beliau memasukkan ajaran Mazhab nya kedalam Undang-Undang Negara. Ajaran Mazhab yang berpedoman pada Hadis yang terkait budaya Arab Baduy  pedesaan gurun pasir itu menjadi suatu yang wajib dilaksanakan masyarakat negara Iran. Bila membangkang di Hukum penjara. Kejadian ini menjadi Viral diseluruh dunia. Maka sejak itu berubahlah masyarakat Islam Dunia menjadi masyarakat Hadis. Masyarakat Alquran adalah masyarakat yang menerapkan ajaran yang ada dalam Kitab Aquran ( ajaran Tuhan ). Masyarakat Hadis adalah masyarakat yang menerapkan ajaran yang ada dalam Kitab Hadis ( ajaran orang Arab tentang budaya Arabnya ). 

      Keterangan gambar  : Nabi Muhammad saat meninggalnya bukan saja seorang Nabi tapi juga “ seorang kepala Pemerintahan “ . Masyarakat Islam secara turun temurun patuh pada pemerintah pengantinya sejak Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar , umar , Usman , Ali  , dinasti Muawiyah , Abbasiyah berlanjut sampai 1300 tahun , tepatnya sampai tahun 1979 , ketika para Ulama Mazhab di bawah pimpinan Imam Khomeini ( lahir 1902 -wafat 1989 , gambar kotak bawah paling kiri ) merebut pemerintahan dari tangan seorang Raja dari kerajaan Iran : Syah Reza Pahlevi dukungan  Amerika Serikat. More info Google : Revolusi Islam Iran 1979 . Sejak saat itu Ulama Mazhab di Iran ini merebut pengaruh terhadap umat Islam dari pemerintah. Peristiwa Ulama mazhab merebut pengaruh terhadap umat Islam ini menyebar menjadi Viral di seluruh dunia , bahkan Arab Saudi sebagai tempat lahirnya Islam – pun terpengaruh. Hal ini di tegaskan oleh Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman . Silahkan buka Google : Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam ' dan Arab Saudi dalam kondisi tidak normal pada 30 tahun terakhir. Hadis yang berisi budaya Arab Baduy akhirnya diwajibkan dengan Undang undang  ke seluruh negeri. Undang-undang ini tentu saja di buat oleh para murid dan pengikutnya di jajaran birokrasi Pemerintahan ( Eksekutif ) , di Palemen ( legislatif ) dan di Lembaga Hukum ( Yudikatif ) Iran . Akibatnya , Bangsa Persia yang mempunyai sejarah budaya lokal yang hebat , sebagai  pewaris dan penerus kebudayaan Mesopotamia yaitu Akkadia , Assyria, Babylonia dan seterusnya mendadak musnah dan berubah dalam 1 hari menjadi berbudaya Suku Arab Baduy gurun pasir yang anti budaya. Peristiwa pewajiban Hadis yang berisi budaya Arab Baduy di iran 1979 ini , akhirnya di duplikasi ( dicontoh )  oleh Aceh tahun 2001

PENGARUH PEMERINTAH PADA UMAT ISLAM DIREBUT ULAMA MAZHAB .

              Pada saat saya SMP dan SMA , saya masih ingat Bapak / ibu saya selalu menanti di depan televisi ataupun Radio , untuk mendengar pengumuman hari Raya , hari permulaan puasa , maulid Nabi Muhammad , Iedul Adha dan pengumuman hari keagamaan apapun dari pemerintah / Departemen agama. Tapi sekarang orang lebih patuh pada para ulama / ustadz  ( Ulama kita ber-Mazhab Syafi’I ) ketika beliau-beliau itu memutuskan apapun hal-hal yang terkait masalah-masalah keagamaan. Bukan saja hari-hari keagamaan , masalah berbusana , bertutur sapa yang banyak menggunakan kosa kata bahasa Arab dan masih banyak lagi. Sebagai contoh ada  sekolah yang melarang muridnya menghormati bendera , karena dianggap syirik. Google : sekolah / pesantren larang menghormati bendera. Hal yang tidak pernah terjadi di sekitar tahun 1960-1970an. Bagi anda yang bingung dan seumuran dengan saya, mungkin sejarah dibawah ini menjadi penjelasnya.Contoh lain yang baru saja terjadi di bulan maret 2020 ini . Pemerintah telah melarang semua jenis pertemuan kelompok orang untuk mencegah penyebarabn virus corona. Tapi banyak orang masih berkumpul puluhan sampai ratusan orang saat Jumatan di masjid dan Tabligh Akbar. Mereka lebih patuh pada para usatadz / Ulama ( kita ber-Mazhab Syafi’I ) dari pada pemerintah. Ulama telah merebut pengaruh pemerintah pada masyarakat sejak Revolusi Islam Iran 1979. Sejarah dibawah ini mungkin dapat menjelaskan fenomena tersebut. Sedikit tentang sejarah timbulnya Mazhab bagi anda yang belum mempelajarinya.

Sejarah Mazhab 

      Sedikit sejarah tentang berkembangnya aliran / Mazhab dalam Islam yang kemudian berkuasa. Saat Nabi Muhammad dan para sahabat hidup beliau tidak kenal satupun dari Ulama Mazhab di Suni : Hanafi , Maliki , Syafi’I , Hambali dan  Syiah : Ismaili , Jafari dan Zaidi, lantaran para Ulama Mazhab ini lahir hampir 100 tahun kemudian. Barulah kelak setelah tahun 717 saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan penulisan Hadis ( yang sebelumnya dilarang penulisannya oleh Nabi Muhammad sendiri ) para Ulama Mazhab yang masih muda-muda ini sangat terkesan oleh Hadis-hadis yang baru saja dituliskan. Hasil penelitian beliau -beliau ini lah seperti Al Muwatha yang di tulis oleh Imam Maliki kemudian banyak mengundang murid atau pengikut. Seiring dengan bertambahnya waktu yang berlangsung selama 1300 tahun , para murid / pengikut para Ulama Mazhab di Suni : Hanafi , Maliki , Syafi’I  ( paling banyak di Indonesia ) , Hambali dan  Syiah : Ismaili , Jafari dan Zaidi semakin membesar. Yang bermula dari seorang murid menjadi Jutaan orang. Demikianlah tepatnya tahun 1979 terjadilah Revolusi  di Kerajaan Persia / yang sebelumnya Kekhalifahan Persia dibawah pimpinan Imam Khomeini seorang Ulama Syiah beraliran / Mazhab Jafari. 

Sedikit tentang Imam Khomeini

        Konsep Ulama memegang pucuk pemerintahan yang berkuasa penuh dengan memegang kekuasaan dalam bidang keagamaan dan politik memang sudah menjadi impian lama di kedua Mazhab Suni maupun Syiah sejak ratusan tahun yang lalu. Ditangan  Imam Khomeini cita-cita itu dapat terwujud. Beliau adalah Ulama Syiah yang ber-Mazhab Jafari Dua belas Imam. Google : Syiah Itsyana Asyariyah.  lahir 1902 - wafat 1989 yang berdomisili di kota suci kaum Syiah : Google : kota suci Qom. Sebelum merebut pemerintahan dari Shah Iran Reza Pahlevi dukungan Amerika , beliau membuat buku yang dinamakan Velayat e-Faqih ( Velayat : Wilayah , e-Faqih : Ulama yang paham keagamaan dan politik ketatanegaraan ). Velayat e-Faqih atau Wilayatul faqih dalam bahasa yang sederhana adalah penataan urusan pemerintahan oleh seorang ulama yang mempunyai syarat-sayarat kepimpinan yang bukan saja paham mengenai Agama tapi juga paham mengenai seluk beluk  politik ketatanegaan. Kemampuan inilah yang disebut sebagai faqih. Google : Revolusi Islam dan Konsep Wilayatul Faqih

         . Keterangan gambar atas : Buku karangan Khomeini : Velayat e-Faqih. Buku ini diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris sebagai Islamic Government : Governence of the Jurist atau Pemerintah Islam : Pemerintahannya para Ulama. 

          Pada prakteknya beliau ini mempunyai kedudukan tertinggi pada pemerintahan dengan membawahi Presiden dan Menteri. Beliaulah yang memilih Menteri pertahanan , Menteri luar negeri , Ekonomi , Perencanaan Nasional. Google : Supreme Leader of Iran. Tidak heran bila beliau beraliran Jafari Duabelas Imam ( Syiah Itsna Asyariyah ) kemudian Hadis yang beliau yakini itu di masukkan kedalam Undang Undang Negara. Mazhab yang berpedoman pada hadis yang terkait Budaya Arab Baduy itu seperti mewajibkan Jilbab , memisahkan pria dan wanita di tempat umum. Bersifat anti budaya luar / modern  : melarang lukisan , patung. Menganggap wanita lebih rendah dari pria : wanita tidak boleh jadi pemimpin. Dan tentu dengan seiring bertambahnya waktu , para ulama yang mempunyai sifat anti budaya ini semakin memperketatnya lagi , sesuai seleranya masing-masing . Wanita tidak boleh menyetir mobil , bekerja ditempat kerja yang membaur dengan pria seperti di hotel , berjoget antara pria dan wanita di restaurant atau diimana pun , menjadi kasir toko , wanita dilarang menonton sepakbola ( arab Saudi 2019 sudah membolehkannya ) dan masih banyak lagi. Google lima fatwa haram paling  menggelikan bagi perempuan. Bahkan di daerah Aceh : Wanita dilarang membonceng naik sepeda motor dengan mengangkang. Google : penumpang wanita di aceh dilarang mengangkang. Ini semua adalah persepsi / tafsir manusia terhadap Ajaran Tuhan / Alquran. Apakah di Alquran Tuhan mengajarkan wanita di larang mengangkang , melarang nonton bola , melarang menyetir mobil , menjadi pelayan toko , menari bersama pria ? tentu tidak ada. Bila ada tentu dengan jelas Tuhan melarangnya. Tuhan menganjurkan kita di Alquran untuk menjadi orang yang mempunyai karakter yang baik atau menjadi orang saleh yaitu orang yang banyak berbuat berbagai macam kebajikan ( do good things ) di  Ali Imran 114 dan rincian kebajikan pun ada di Al Baqarah 177.            
                   
WAJIB JILBAB MELANGGAR HAK AZAZI MANUSIA

 Mewajibkan jilbab melanggar perintah Agama / Alquran

        Maukah anda yang berjilbab dengan model terlihat wajahnya tapi dipaksa memakai cadar penutup seluruh wajah ? tentu tidak mau. Maukah para wanita pemakai cadar disuruh membuka wajahnya. Tentu tidak mau. Begitu pula sebaliknya seorang wanita yang biasa rambutnya tergerai terlihat tentu tidak mau dipaksa / diwajibkan memakai jilbab / kerudung penutup kepala. Demikianlah para wanita Iran di tahun 1979 ketika dipaksa / diwajibkan memakai jilbab merekapun tidak mau . Padahal di Alquran telah jelas dikatakan bahwa setiap orang wajib berbuat sesuai keadaan adat kebiasaannya sehari-hari / budayanya

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

         Mereka ini merasa diperlakukan tidak adil , karena dipaksa untuk melakukan tindakan yang tidak mereka inginkan. Mereka merasa Hak mereka untuk tampil baik dan sopan telah dilanggar. Tuhan di Alquran juga Berfirman dengan tegas : 

           “ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan ” (  An Nahl 90 ).

            “ Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan    (  Ash Shuara 183 )


          Akibatnya mereka berkumpul sampai ratusan ribu orang , memprotes kewajiban Jilbab ini  dengan hukum penjara bagi siapapun yang melanggarnya ( seperti di Indonesia wajib Helm  dihukum denda ). Tapi apalah daya mereka melawan senjata api dan Tank – Tank baja. Marilah kita berpikir , apakah peristiwa ini sesuai ajaran agama Islam , ajaran wahyu Tuhan ? ataukah ajaran sekelompok manusia yang dilandasi syahwat kekuasaan  untuk memenangkan Revolusi yang dilandasi kebencian terhadap suatu kaum ( orang barat ) ? Marilah kita renungkan lagi.


Ratusan ribu wanita protes pewajiban Jilbab

                 Gambar diatas 1 dan 2 : Sesaat setelah Revolusi Islam Iran Tahun 1979 Jilbab di wajibkan , terjadi protes oleh ratusan ribu wanita Iran yang merasa hak nya untuk berpakaian sopan sesuai adat kebiasaannya dilanggar. Islam yang toleran berubah menjadi Islam yang Intoleran. Islam yang mempunyai aturan membolehkan semua budaya seperti di kitab suci Alquran menjadi Islam yang mempunyai Hukum besi. Sebuah Hukum yang tanpa kompromi , mau tidak mau harus dilaksanakan. Bila membantah hukuman penjara menanti .  Anda bisa banyak membaca informasi di Google : women protesting forced hijab in revolution Iran 1979

KONDISI IRAN 2019

Antara pemerintah dan masyarakat

        Berlawanan dengan masyarakat Indonesia yang memahami Jilbab adalah kewajiban agama , masyarakat Iran tahu bahwa jilbab itu memang tidak diwajibkan oleh agama Islam sehingga mereka memprotes pemaksaan / pewajiban pemakaian jilbab oleh para penguasa pemerintahannya yang beraliran Hadis budaya Arab Baduy / Mazhab. Agama Islam yang mengajarkan fokus masalah ahlak yang baik seperti kejujuran dalam bertindak dan mendorong agar berbuat baik kepada orang lain seperti yang dicontohkan sang Nabi Muhammad saw, menghargai hak orang lain untuk berbuat sesuai keadaan adat budayanya sendiri ( Al Isra 84 ) , berubah fokus menjadi kewajiban bertata busana Arab model tertentu ( jilbab , kerudung ) . Bayangkan hanya karena tidak mau memakai jIlbab atau kerudung seorang wanita di penjara bertahun-tahun. 

     

                Gambar diatas : hanya dengan tidak memakai jilbab seseorang di Iran bisa dipenjara bertahun-tahun melebihi hukuman maximal penjara seorang pembunuh ( di Indonesia pembunuh dapat dihukum maksimal 20 tahun atau seumur hidup sampai meninggal ) . Hukuman yang tidak ada di Alquran bagi seseorang yang tidak memakai jilbab. Sungguh menyedihkan. Sebuah sikap yang tidak adil dan melanggar hak seseorang. Demikianlah tafsir agama oleh manusia yang tidak dilandasi rasa kemanusiaan dapat menjadi kejam. 


VIRALNYA REVOLUSI ISLAM IRAN 1979 MELANDA DUNIA

Saat wanita Arab Saudi memakai rok tahun 1950an

             Keterangan gambar diatas : Arab Saudi-pun tidak bisa menahannya . Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman ( M.B.S ) menyatakan , bahwa setelah Revolusi Islam Iran 1979 , negaranya “ dalam kondisi tidak normal “ seperti bangsa-bangsa lain. Bahkan seorang menterinya memperlihatkan suasana Arab Saudi tahun 1950 di youtube,   saat kaum wanita memakai rok ( tidak berjilbab )wanita dan pria berjalan beriringan ( tidak dipisah seperti sekarang ) .  Dan pemerintah Arab Saudi-pun tidak tahu cara menangani pengaruh itu. Selengkapnya di  Google : Arab Saudi dalam kondisi tidak normal pada 30 tahun terakhir dan Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam ' .


IV. PERBANDINGAN TAFSIR ULAMA SEBELUM DAN SETELAH REVOLUSI ISLAM IRAN 1979( RINGKAS ). 
    

           Sebelum Revolusi Islam Iran 1979 Ulama dulu menganggap  An Nur 31 dan Al Ahzab 59 bukanlah ayat yang mewajibkan jilbab. Tapi setelah Revolusi Islam Iran 1979 Ulama sekarang menafsirkan kedua ayat tersebut sebagai ayat yang mewajibkan jilbab. Kedua ayat tersebut mengalami perubahan penafsiran . Selain kedua ayat itu , biasanya Ulama sekarang dalam rangka mewajibkan jamaahnya untuk memakai Jilbab juga mengutip ucapan / Hadis dari Abu Daud yang oleh Abu Daud  sendiri mengatakan Hadis ini tidak Shahih atau Mursal ( tertolak). Dibawah ini pembahasan 2 ayat dan 1 hadis itu.

         1. Ayat pertama : An Nur 31

ULAMA DULU  AN NUR 31 : ATURAN CARA BERPAKAIAN PRIA/WANITA DI ALQURAN 

             “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung mereka kedada mereka ( tafsir ini penulis sengaja mengambil dari terjemah Alquran perkata : lihat bawah gambar 1 , atau google : An Nur 31 alquran terjemah per kata , maktabah rumah ilmu  ), dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung “. ( An Nur 31 )

         Ada dua buah penggalan yang ditafsirkan sebagai pengatur berpakaian wanita  : 

a. ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka ”   dan 

  • a. “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....”

              Kebenaran terletak pada Alquran. Tafsir adalah upaya manusia menerjemahlkan kebenaran yang ada pada kalaimat / ayat Tuhan itu. Tafsir tergantung pada manusianya , baik latar belakang budaya , pengalaman pribadi . Tafsir yang paling berbahaya adalah tafsir yang sengaja di gunakan untuk kepentingan politik. Perintah Tuhan agar kita berbuat baik pada orang lain / berbuat amal saleh , karena politik di Timur Tengah ( misal : terkait dengan ISIS ) , seseorang di Indonesia dapat menggunakan ayat itu utk melakukan pembunuhan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Bahkan merasa akan masuk surga. Demikian pula dengan kedua penggalan Anur 31 itu. Sebelum Revolusi Islam Iran 1979 pengatur pakaian wanita adalah penggalan a. .   ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka ”  Setelah peristiwa Politik ( Revolusi itu ) Ulama sekarang menggunakan “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....” sebagai pengatur pakaian wanita agar memakai kerudung. Padahal sebelumnya Ulama dulu menafsirkan ayat tersebut terkait sejarah yang menimpa umat Islam saat itu. Selengkapnya sebabgai berikut :


   a .   ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka ”   

BEDA BUSANA MUSLIM DAN BUSANA ARAB ( JILBAB )

         Dalam kehidupan sehari-hari kita sering rancu membedakan istilah busana Muslim dan busana Arab. Busana Muslim dari arti per kata berarti pakaian yang dipakai umat Islam yang mengacu pada Alquran yang sesuai dengan nilai-nilai kesopanan kebiasaan/adat lingkungannya masing-masing suku bangsa di dunia ini. Sedang busana Arab atau Jilbab adalah pakaian kebiasaan/adat yang dipakai di Jazirah Arab yang terdiri dari gurun pasir yang panas dan tandus. 

AN NUR 31 : AYAT PETUNJUK CARA BERPAKAIAN WANITA MUSLIM
   ( BUSANA MUSLIM )

Pedoman Para Sahabat dan Ulama dulu

           Sebelumnya penulis akan menjelaskan tentang arti “ perhiasannya “ dalam kalimat diatas. Dalam kehidupan sehari-hari , anggauta badan wanita adalah perhiasannya. Seperti “ matanya seperti bintang kejora “ , “ Rambut adalah mahkota wanita “ , “ jarinya lentik bak dewi-dewi kahyangan “ dan masih banyak lagi . Demikianlah Prof. DR. Quraish Shihab dalam bukunya : “ Jilbab : pakaian wanita Muslimah “ halaman 70 yang mengatakan bahwa “ perhiasan pada ayat tersebut adalah anggauta badan “

              ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka ”   


             Menafsirkan Ayat Alquran tidak boleh lepas dari realitas kehidupan. Karena didalam kehidupan sehari-hari itulah letak kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari , seseorang memakai baju renang di kolam renang dimana semua orang disitu memakai celana renang , orang itu dianggap sopan. Karena orang tersebut memakai celana renang dengan memperlihatkan anggota badan yang sama , yang biasa tampak dengan orang-orang lain disekitarnya. Pada gambar 1 , anggota badan yang biasa tampak pada pemakai celana renang adalah kepala , dada , perut , seluruh tangan dan duapertiga kaki. Pada komunitas ini memakai celana renang adalah sesuatu yang sopan.


        Pada gambar 2 , seorang wanita memakai baju renang di kolam renang wanita yang semua wanitanya disitu memakai baju renang yang sama , maka wanita tersebut  dianggap wanita yang  sopan. Karena “ anggota badan yang biasa tampak “ pada masyarakat / komunitas ini adalah kepala , sebagian dada atas , seluruh tangan dan duapertiga kaki. Gambar 3 , Tapi bila seseorang memakai pakaian renang pada  gambar 1 dan gambar 2,  dipakai pada pesta perkawinan , maka pakaian renang ini dianggap sangat tidak sopan. Hal ini karena orang tersebuat “ memperlihatkan anggota badan yang tidak biasa tampak “  pada pesta perkawinan ( lihat gambar 4 pakaian pria dan wanita lebih banyak anggota badan yang tertutup ). Dengan memakai celana renang dia memperlihatkan seluruh dadanya , “ anggota badan yang tidak biasa tampak pada pesta perkawinan “. Demikian pula pakaian renang wanita ( gambar 2 ) bila dipakai pada pesta perkawinan tentu tidak sopan karena memperlihatkan “ anggota badan yang tak biasa tampak “ seperti ketiak misalnya . Maka , bila anak kita memakai pakaian renang pada pesta perkawinan tentu kita akan menasehatinya : “ Nak , tutuplah anggauta badanmu kecuali anggauta badanmu yang biasa tampak “ pada pesta perkawinan.  Tuhan dalam Alquran juga menasehati kita dengan bahasa yang sama,  agar kita tampak sopan dengan masyarakat sekitar. 

     ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.” ( An Nur 31)   

Mungkin dalam Bahasa Jawa agar jelas , bisa diterjemahkan seperti ini : 

         “ ...mas utowo mbak …awakmu kuwi tutupono kejobo sing biasane ketok...”

             Kalimat diatas adalah kalimat perintah dari Tuhan / Allah , bahwa kita sebagai manusia ( baik pria maupun wanita ) diharuskan untuk memperlihatkan anggota badan kita yang biasa tampak pada masyarakat lingkungan kita. Mari kita perhatikan baik-baik semua pakaian adat dibawah ini

PAKAIAN TRADISI ADALAH BUSANA MUSLIM

Semua Pakaian Tradisi Sesuai Dengan Alquran

         Pada dasarnya , bila tidak ada intervensi ( pemaksaan pendapat dari luar ) seperti sekarang ini ,  setiap orang nyaman sekaligus senang dengan pakaian tradisinya. Karena pakaian adalah bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Orang Arab memakai pakaian tipis yang menutupi seluruh tubuh karena iklim gurun pasir yang panas membakar ( suhu bisa mencapai 50 derajat celcius , bandingkan Jakarta 33 derajat Celcius ) , Orang Eskimo nyaman dengan pakaian tebal , orang di iklim tropis dan iklim sejuk ( mis: Indonesia , Jepang , Korea ) banyak bagian terbuka untuk merasakan kesejukan semilirnya angin yang menerpa kulit wajah , leher , lengan dan lain sebagainya. Para penduduknya juga merasa senang dengan keindahan pakaian tradisi yang di ciptakan nenek moyangnya yang berwarna warni , Hanbok Korea , Kebaya Jawa , Kimono Jepang dan hampir semua pakaian tradisi bangsa-bangsa seluruh dunia mempunyai keindahan sendiri-sendiri. Tuhan tentu tahu naluri manusia itu. Tuhan yang maha bijaksana ini dengan sangat adil membolehkan setiap orang untuk berbuat sesuai dengan keadaan budayanya masing-masing. Bukannya kita disuruh seperti orang Arab dengan memakai jilbab atau di haruskan seperti orang Jepang memakai Kimono atau harus seperti orang Korea kemana-mana memakai Hanbok. Tuhan sangat menghargai Hak Azazi setiap orang dan bersabda di Al Isra 84 : 

       Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

       Biarlah orang Indonesia menjadi orang Indonesia , biarlah orang Jepang tetap menjadi orang Jepang , biarlah orang Korea tetap seperti orang Korea , biarlah suku Dani tetap seperti orang Dani , biarlah orang Inggris  tetap seperti orang Inggris , biarlah orang Rusia tetap seperti orang Rusia , biarlah orang Afrika tetap seperti orang Afrika , biarlah orang Arab seperti orang Arab . Sesuai dengan perintahnya : " Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya ( budayanya ) masing-masing" Al Isra 84 diatas. Itulah Hak Azazi manusia yang sejati.



            Keterangan: Pakaian tradisi suku-suku bangsa-di Dunia semuanya sudah sesuai dengan Alquran An Nur 31. Karena semua pakaian itu memperlihatkan “ anggota badan yang biasa tampak “ di sukunya masing-masing. Gambar 1, 2, 3 : Dalam masyarakat kita , Jepang dan Korea misalnya ada seseorang pria maupun wanita memperlihatkan anggota badan yang tidak biasa tampak akan dikatakan orang yang tidak punya sopan atau orang yang tidak punya aturan. Itulah sebabnya anggauta badan yang tidak biasa tampak disebut “ AURAT “. Aurat adalah anggota badan yang “ TABU “ bila diperlihatkan kepada masyarakat umum  ( SARU : Bahasa Jawa ) karena tidak biasa tampak sejak ratusan atau ribuan tahun dimasyarakat itu seperti ( ma’af ) payudara , pantat , alat kelamin . Bila nekat maka orang itu dianggap tidak senonoh dan melanggar kesopanan yang berat. Demikian pula Busana Arab . Busana Arab atau Jilbab adalah pakaian adat atau pakaian yang biasa dipakai oleh suku Arab Baduy pedesaan gurun pasir ( orang Bedouin , Badawi ) gambar 3, 4 dan 5 : memperlihatkan rambut adalah tidak sopan . Karena dimasyarakat ini setiap hari sejak ribuan tahun yang lalu  “ memakai jilbab yang membuat rambut anggota badan yang tidak biasa tampak “ . Pemakaian pakaian  jilbab ini untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari agar tidak terbakar dan mencegah kekurangan air ( dehidrasi ). Disana tidak ada pohon untuk berteduh. Ibaratnya mereka hidup di tengah lapangan sepakbola seumur hidupnya. Mereka hidup di tengah gurun pasir yang terik panasnya mencapai 50 derajat celcius ( bandingkan Jakarta saat panas 33 der. Celcius )  . Pada suhu seperti itu , dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek seseorang akan mati kering / dehidrasi dalam 4 jam. Karena selalu memakai pakaian tertutup selama ribuan tahun ,  rambut adalah aurat , sebuah anggota badan yang tidak biasa tampak di masyarakatnya. Tetapi pada masyarakat kita rambut bukanlah aurat karena biasa tampak sehari-hari. Aurat setiap suku bangsa memang berbeda-beda karena pakaian adatnyapun berbeda-beda. Anggapan rambut adalah aurat hanyalah pandangan takild ,  hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya.

     Demikian pula semua pakaian tradisi dibawah ini , sudah sesuai dengan kesopanan karena “ menampakkan anggauta badan yang biasa tampak “ di masyarakatnya dan sesuai dengan Alquran.

ISLAM BUDAYA JAWA DAN ISLAM BUDAYA ARAB BADUY ( MAZHAB )

Beda Ulama kita dan Ulama Arab

       Sampai tahun 1970an akhir , saat saya SMA kelas 3 , saya tidak pernah sekalipun melihat orang memakai jilbab yang tidak tampak rambutnya seperti yang dipakai para wanita sekarang ini. Saat itu para wanita kita sebagian besar sudah memakai bahu tertutup ( semacam Tshirt maupun lengan panjang dengan segala modelnya ) . Google Images : cover majalah gadis jadul. Para wanita yang sudah lanjut usia banyak yang masih memakai kemben ( gambar no 2 di bawah ). Sebagai contoh nenek saya yang berusia 90 tahun ( kelahiran 1880an )  dari jalur ayah , saya masih melihat beliau berbusana seperti itu saat tahun 1970an. Saat itu masih banyak di pedesaan para wanita berpakaian seperti itu. Pakaian yang terlihat bahunya ini , dipakai oleh mereka sehari-hari.Hal ini membuktikan para penyebar agama Islam awal kita yang juga para pria keturunan Arab yang masih keluarga dengan Nabi Muhammad maupun  non keluarga ( biasanya para pedagang ) selama ribuan tahun ( datang abad ke 7 ) tidak pernah mewajibkan jilbab.
      
   Keterangan gambar  1 dan 2 : Sunan Kalijaga dan pakaian adat wanita di suku Jawa-nya. Beliau termasuk Ulama awal ( Google : Walisongo ) yang lahir pada tahun kira-kira 600 tahun yang lalu ( tahun 1450 M ) , ketika agama Islam belum banyak di kotori politik seperti sekarang. Saat ini para Ulama masih bersandar pada Alquran , An Nur 31 : ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.” Tari-tarian yang beliau ciptakan , menampakkan rambut , wajah , telinga , leher , dada atas , adalah anggota tubuh yang biasa tampak di masyarakat kita bangsa Indonesia. Sehingga pakaian tersebut dianggap sopan di masyarakat kita sekaligus sesuai dengan Alquran. Bahkan ketika Raden Fatah menjadi Sultan di Demak beliau mengembangkan kesenian seperti tari-tarian dan wayang dengan meminta pertimbangan para Walisongo. Google : Sultan Demak Mengembangkan Kesenian Bersama Walisongo dan Kesultanan Demak (14): Raden Fatah (9). Tapi dikatakan tidak sopan ketika para wanita itu memperlihatkan anggota badan yang tidak biasa tampak / aurat ( aurat : adalah anggota badan yang tabu / tak senonoh / tidak sopan bila diperlihatkan kepada masyarakat umum , karena tidak biasa tampak )  : seperti ma’af : buah dada , alat kelamin , pantat. Tapi Ulama sekarang setelah Revolusi Islam Iran 1979 menganggap seluruh pakaian tradisi di Indonesia dan pakaian suku bangsa lain didunia adalah haram dan pemakainya akan masuk neraka. Karena satu-satunya pakaian yang benar adalah jilbab.


MAZHAB SYAFI’I : JILBAB BIASA

            Ulama kita adalah ulama yang beraliran / bermazhab Syafii yang mewajibkan pakaian jilbab yang “ menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan “. Model jilbab ini yang “ biasa “ kita lihat sehari-hari. 


          Gambar  3 : Imam Syafi’I  ( Lahir 767 ) masih termasuk keturunan Bani Muthalib kerabat Rasulullah yang berasal dari Mekah. Tidak heran bila beliau menganjurkan berpakaian seperti gambar 4 yang mengacu pada tafsir / ucapan atau Hadis Ibnu Abbas ( lahir 617 – w. 687 ) .  Karena memang beliau mempunyai Adat kebiasaan orang Asli suku Arab baduy pedesaan gurun pasir yang mempunyai pakaian adat seperti itu. Ketika para sahabat Nabi Muhammad , Ibnu Abbas dkk sebagai bangsa Arab yang berpakaian Jilbab disukunya seperti gambar 4 , menafsirkan An Nur 31 : ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.”  berkata bahwa :  seluruh tubuh aurat kecuali yang diperbolehkan tampak adalah “ wajah dan telapak tangan “. Bagi mereka rambut adalah aurat . Karena dalam pakaian tradisi ini rambut adalah anggota badan yang tidak biasa tampak ( seperti halnya buah dada , alat kelamin , pantat di masyarakat kita ). Tapi wajah dan telapak tangan bukan aurat karena biasa tampak ( lihat gambar 4 atas ) . Inilah yang dijadikan pegangan Oleh Imam Syafi’i. Tapi Imam Syafi’i (767 M ) dan Imam Maliki ( 711 M ) tidak pernah mewajibkan kepada orang lain. Hal ini bisa dilihat keadaan umat Islam bangsa Non Arab yang tidak satupun yang memakai Jilbab , seperti di Indonesia dulu . Google : Foto SMA jadul , Youtube : Film cintaku di kampus biru , film badai pasti berlalu , film Revolusi Indonesia . Keadaan berubah setelah Revolusi Islam Iran 1979 para murid Ulama Mazhab Syafi’I itu ( yang menjadi Ulama sekarang di NU dan Muhammadyah ) dan para pengikutnya ( yang menjadi kepala sekolah SD , SMP , SMA , para Rektor , Dosen , anggota DPR , Bupati , Camat dsb ) mewajibkan ucapan / hadis dari Ibnu Abbas dkk :  seluruh tubuh aurat kecuali yang diperbolehkan tampak adalah “ wajah dan telapak tangan “. Kewajiban itu disertai sangsi hukuman dikeluarkan dari sekolah maupun dihukum secara sosial bila tidak mengenakan jilbab. Akhirnya hamper seluruh masyarakat Indonesia , 99 persen muslim memakai Jilbab.

                    Catatan ini diambil dari buku Tafsir Ibnu Katsir lahir 700 tahun yang lalu  ( 1302 M ) jilid III hal 489 (58). : penerbit Gema Insani Press ( more info google: Ibnu Katsir wikipedia) .  Disitu di muat bahwa , seorang wanita yang boleh tampak adalah “ wajah dan telapak tangan “ adalah ucapan manusia berbangsa Arab , sahabat Nabi Muhammad yang bernama Ibnu Abbas , menafsirkan An Nur 31 sesuai pakaian jilbab di sukunya. Dilanjutkan dengan kata-kata “ inilah pendapat yang dikenal oleh mayoritas Ulama “. Jelas saja mayoritas ulama itu adalah bangsa Arab tentu saja setuju dengan model ini karena memang dari Tradisi budaya seperti ini. Tapi harus di ingat bahwa bukan berarti bila yang mengatakan mayoritas ulama atau hampir semua ulama adalah kebenaran. Mereka semua hanyalah manusia yang menafsirkan ucapan / firman Tuhan sesuai tradisi budayanya yang bisa saja berlainan. Nyatanya yang bisa kita lihat sekarang tidak semua Ulama bangsa Arab yang setuju dengan pendapat Ibnu Abbas ini. Nyatanya sekarang banyak ulama yang bermazhab Hambali / Wahabbi / Salafi yang mengatakan seluruh tubuh adalah aurat dan yang boleh tampak kedua mata saja atau yang biasa kita sebut dengan Jilbab yang bercadar. Sayangnya para Ulama kita hanya ikut ikutan saja dengan pendapat mereka . Marilah kita kembali ke Ulama dulu termasuk Walisongo yang tidak mewajibkan Jilbab tapi malah mengembangkan budaya kita sendiri , misalnya kebaya dengan model rambut , leher , telinga terlihat. Demikianlah pendapat manusia memang berlainan dan itu boleh boleh saja , sepangjang tidak merugikan orang lain. Kebenaran itu tetap pada ucapan/  firman Tuhan / Alquran manusia hanya menafsirkan yang bisa berlainan sesuai budayanya dan latar belakangnya.

Hadis / Ucapan orang dianggap Ucapan Tuhan

         Sekarang ucapan / Hadis dari Ibnu Abbas itu “ seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan “ dianggap sebagai ajaran Tuhan atau ajaran Agama / Alquran. Dalam pengajian -pengajian di TV , radio , ajaran agama di sekolah-sekolah . pondok-pondok pesantren , jilbab model ini diwajibkan sebagai sebuah ucapan Tuhan padahal ini adalah ucapan manusia seperti kita juga , tapi beliau berbangsa Arab.

          Bila kita kembali ke ucapan Tuhan / ayat Alquran sebagai kebenaran mutlak , An Nur 31 : ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.”  , maka rambut , telinga , leher sebagian lengan atas adalah anggota badan yang biasa tampak di masyarakat kita , maka bagi wanita Indonesia Jilbab tidak diwajibkan. Hal ini seperti Ulama kita dulu termasuk wali songo.

    MAZHAB HAMBALI : JILBAB CADAR

            Bila kita di jalan melihat wanita memakai jilbab dan cadar mereka itu bermazhab Hambali atau Mazhab Wahhabi / Salafi. Pada Mazhab ini seluruh tubuh adalah aurat.


                Gambar 5  : Imam Hambali ( 780 M ) yang jadi pedoman Mazhab Wahhabi / Salafi  yang muncul 1000 tahun kemudian di Arab Saudi ( didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab : lahir 1701 M  ) menganjurkan berpakaian seperti gambar 6 yang bermodel Jilbab yang menutup seluruh tubuh.  Mazhab ini kemudian menjadi Mazhab resmi Arab Saudi  . Imam Hambali tidak pernah mewajibkan ajarannya kepada orang lain. Demikian pula para Ulama di Mazhab Wahhabi / Salafi sebelum Revolusi Islam Iran 1979  mereka ini “ hanya mewajibkan pada para pengikutnya “, bukan pada orang lain. Tapi setelah Revolusi Islam Iran 1979 dengan bekerjasama dengan  penguasa saat itu Raja Khaled , para Ulama membuat undang-undang yang diterapkan ke seluruh negeri maka , setiap orang,  apapun pahamnya / mazhabnya wajib berperilaku sesuai kebiasaan adat budaya nenek moyangnya suku Arab Baduy ( yang sudah dimasukkan kedalam Syariat Islam/hukum Islam ) , termasuk mengenakan pakaian tradisinya. Demikianlah  menurut Calon Raja Arab Saudi ( putra mahkota ) Muhammad bin Salman mengatakan setelah Revolusi Islam Iran 1979  :  Raja Saudi Khaled yang saat itu berkuasa, memberlakukan penerapan hukum syariat Islam yang lebih ketat. Ulama-ulama dan kalangan konservatif juga diberi kekuasaan lebih selama beberapa dekade. Keberadaan polisi syariat semakin merajalela. Sebagai catatan penting , ketika para mayoritas Ulama mereka bersepakat ( jumhur ulama ) tentang pemisahan pria dan wanita , keharusan memakai jilbab , tidak boleh mengoleksi patung / lukisan mahluk hidup dsb nya itu dimasukkan dalam Syariat Islam / Hukum Islam , budaya Arab Baduy itu itu tidak ada di Alquran. Apalagi kemudian penerapannya meluas melarang budaya luar  non Arab seperti melarang budaya barat memakai celana jeans , memakai T Shirt , melarang pakaian non Jilbab seperti pakaian dari timur hanbok korea , kimono jepang , kebaya Indonesia ,  melarang keberadaan bioskop , grup Band , menari , menyanyi non Arab , wanita tidak boleh menyetir mobil , melihat sepakbola ( tapi sekarang sudah boleh ) dan masih banyak lagi , tentu saja tidak ada di Alquran.  Maklumlah ini hanya itikat baik manusia dalam mempertahankan adat budayanya. Tapi yang disayangkan adalah menggunakan agama sebagai alat legalitasnya, sehingga pengaruhnya ke seluruh dunia Islam. Google : Arab Saudi dalam kondisi tidak normal pada 30 tahun terakhir dan Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam ' .

Sekilas tentang Mazhab Wahhabi / Salafi
                                                                                                                                   
          Mazhab yang mulai tampak di tahun 2020 sekarang adalah Mazhab Wahhabi atau Salafi  ( didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab ) yang menganut Mazhab Hambali. Aliran / Mazhab ini  menganggap seluruh tubuh wanita adalah aurat yang harus ditutup “ Jilbab dan cadar “ agar seluruh tubuh tertutup. Sumber Google  : Cadar dalam 4 mazhab . Mazhab ini  di bawa oleh para mahasiswa kita dari Arab Saudi yang mempunyai Mazhab resmi Wahhabi atau Salafi. Google : Mazhab Wahhabisme / Salafi. Sayang para ulama kita / ustadz kita itu bukannya mengajarkan Alquran tapi malah tafsir cara berpakaian bangsa Arab . Hal ini sangat berbeda dengan ulama walisongo kita yang mengembangkan budaya kita sendiri yang sesuai dengan Alquran ( Al Isra 84 ) tentang keharusan setiap orang berbuat sesuai keadaan adat kebiasaannya masing-masing. 

              Keterangan Gambar atas :  Muhammad bin Abdul Wahhab atau yang dikenal sebagai pendiri aliran Wahhabi / Salafi berasal dari daerah Najd atau Nejd  ( gambar atas kiri ).  Google : Muhammad bin Abdul Wahhab wiki pedia Indonesia. Suatu dataran tinggi yang terdiri dari gurun pasir yang panas membakar. Tidak ada pepohonan untuk berteduh karena hujan hanya beberapa kali setahun , karena kering nyaris tak ada tumbuhan yang hidup ( kecuali tumbuhan semak yang hidup dari embun pagi )  . Gambar kanan : seorang wanita suku Arab Baduy yang seumur hidupnya berjalan di tengah gurun pasir yang panas. Para wanita itu ( dan juga para prianya ) “ berpakaian menutupi seluruh tubuhnya “ agar tidak mati kepanasan ( dehidrasi ). Dengan budaya berpakaian seperti ini , wajar saja bila Muhammad bin Abdul Wahhab   memilih Mazhab Hambali yang mempunyai “ model Jilbab yang menutupi seluruh tubuh “ yang sesuai dengan Jilbab yang ada disukunya. Tidak mungkin beliau memilih Mazhab Syafi’I yang mempunyai model jilbab tampak “ Wajah dan Telapak tangan “. Karena kedua anggota badan itu termasuk aurat disukunya. Marilah kita berpikir ulang , apakah memang Tuhan / agama Islam mewajibkan pakaian model jilbab nya Imam Syafi’I maupun Imam Hambali seperti ini kepada wanita Indonesia maupun wanita Islam di seluruh dunia yang mempunyai iklim negara yang berbeda ? Apakah pakaian seperti ini cocok dengan iklim Indonesia ? Marilah kita berpikir dengan akal sehat kita. Benarkah Tuhan akan mewajibkannya ?  Bila Tuhan mewajibkan jilbab pakaian adat orang Arab Baduy ke seluruh bangsa di dunia yang beragama Islam yang mempunyai keadaan adat budayanya sendiri yang berbeda, bukankah bertentangan dengan ucapannya / firmannya sebelumnya di Al Isra 84 ?

 

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “.( Al Isra 84 )

 

Suatu hal yang mustahil Tuhan tidak konsisten. Di ayat sana begitu , di ayat sini begini. Tentulah bila ada ayat yang bertentangan kitalah yang salah tafsir.


             Seperti halnya Imam Syafi’I yang ahli Hadis , Imam Hambali juga sama. Beliau juga mengacu pada ucapan / Hadis Para sahabat tapi dengan model pakaian yang berbeda , yang mempunyai pakaian jilbab model  tertutup seluruh tubuh. Para sahabat Abidah as Salamani dan As-Suddi yang mempunyai pakaian seperti diatas , menafsirkan An Nur 31 : ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.”  mengatakan bahwa : “ seluruh tubuh adalah aurat kecuali mata ( rincian dibawah ) “. Dalam pakaian ini seluruh tubuh termasuk rambut dan wajah adalah aurat , karena tidak biasa tampak. 

              Para Sahabat lainnya Ibnu Mas’ud r.a menafsirkan An Nur 31 : ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.” mengatakan bahwa : “ seluruh tubuh adalah aurat,  yang boleh tampak adalah pakaian “. Disini rambut dan wajah adalah aurat karena tidak biasa tampak. Ucapan / hadis ( hadis artinya ucapan ) manusia bebangsa Arab ini juga diajarkan sebagai ucapan Tuhan / ajaran Agama yang wajib di ikuti.  Padahal ini hanyalah ucapan manusia. 

Pandangan ulama dulu terhadap ulama Mazhab

             Para Ulama kita dulu sebelum pecahnya revolusi Islam Iran 1979 , mengajarkan adanya 2 jenis Ibadah : Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ghairu mahdhah. Para ulama kita dulu itu mewajibkan ajaran Imam Syafi’I yang terkait Ibadah Mahdhah ( Ibadah artinya perintah Tuhan ) / suatu kegiatan yang berhubungan dengan Tuhan seperti tatacara dan rukun Shalat , Puasa beserta segala tata caranya. Juga tentang zakat  dsb. Aturan-aturannya harus / wajib sama , tidak boleh berbeda. Sedang Ibadah Ghairu Mahdhah adalah suatu bidang muamallah yang boleh berbeda , karena suatu kegiatan yang berhubungan antar manusia yang terkait budaya / adat kebiasaan sehari-hari yang bisa berbeda tergantung suku bangsanya dimana dia berasal.  Sehingga ajaran Sang Imam tentang  ajarannya yang terkait Budaya Arabnya  seperti Jilbab , pemisahan pria dan wanita , pria dan wanita tidak boleh saling bersentuhan dan lain sebagainya itu , tidak wajib di tiru karena termasuk bidang muamallah / Ibadah Ghairu Mahdhah. Google : Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ghairu Mahdhah


Pendiri Mazhab yang berpedoman pada Hadis tapi toleran

            Para pendiri Mazhab walaupun berpedoman terhadap ucapan / Hadis yang berisi budaya Arab-nya tetapi sangat toleran terhadap orang lain , mereka tak mau mewajibkannya. Kelak akibat pengaruh Revolusi Islam Iran 1979 para murid ( ustadz atau ulama yang mempelajari secara khusus ) membuat ajarannya diwajibkan kepada seluruh umat Islam walaupun non bangsa Arab. Mungkin bagi anda yang belum tahu bagaimana asal-usul terjadinya Aliran / Mazhab dalam Islam , dapat mempelajari sejarah dibawah ini.

           Ketika hadis  baru saja ditulis tahun 717 saat ke-Khalifahan Umar bin Abdul Aziz setelah dilarang penulisannya oleh Nabi Muhammad sendiri ( karena beliau menghendaki hanya Alquran saja ) .  Sumber : Ensiklopedi pelajar Islam jilid 2 hal 65 dan di buku Pengantar Studi Ilmu Hadis  ( Alqaththan,Manna’, Syeikh,  48 hal 52 )  dan bila anda tidak punya bukunya silahkan ketik Google  : Jejak sejarah pelarangan Hadis. Penulisan yang  kira-kira 85 tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad ( wafat tahun 632 ), memicu lahirnya para Ilmuwan peneliti muda Hadis . Pada Mazhab Suni sebut saja : Hanafi , Maliki , Syafi’i , Hambali dan dari Syiah : Ismaili , Jafari , Zaidi. Kelak para peneliti ini dikenal sebagai para pendiri Mazhab , karena paling banyak di ikuti oleh generasi Islam selanjutnya. Para pengikut ini ada yang mempelajari secara khusus di sekolah atau madrasah / pesantren , saya menyebutnya sebagai para murid Mazhab. Para murid Mazhab / aliran yang bersekolah khusus mendalami salah satu Mazhab ini , kelak kemudian menjadi hari menjadi  Ustadz ( guru ) atau Ulama bagi para pengikut Mazhab dari “ masyarakat muslim yang umum “  atau “ masyarakat muslim biasa “.

          Yang patut kita teladani dari para Ilmuwan peneliti hadis itu , mereka tidak pernah memaksakan / mewajibkan budaya Arab Baduynya pada umat Islam yang lain. Mereka ini sangat toleran. Hal ini jauh berbeda  dengan para Muridnya yang menjadi Ulama maupun Ustadz dan para pengikutnya di tahun 2020 ini. Dalam buku Quraish Shihab : “ Jilbab , Pakaian wanita Muslimah “ hal 129 , Imam Maliki ( 712-795 ) malah menolak penerapan bukunya Al Muwaththa yang berisi Hadis -hadis ( termasuk yang ada budaya Arab-nya seperti pemakaian Jilbab , pemisahan wanita dan pria , melarang luiksan , patung / budaya dll ) ketika akan di terapkan oleh Kalifah Abu Ja’far Al-Manshur ( 775 M ) untuk diterapkan di seluruh wilayah Kekhalifahan Persia. Google: Imam Malik , Uswah dalam toleransi bermazhab dan Toleransi empat Imam Mazhab.  Demikian pula Imam Maliki menolak permintaan Khalifah Harun Al Rasyid , yang menginginkan buku penelitian hadisnya “ Al Muwaththa “ sebagai kewajiban umat Islam . Google :  Republika : Saat Imam Malik Menolak Keinginan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Dalam realitas kehidupan juga terbukti saat penulis muda dulu , saat SMA  sebelum Revolusi Islam Iran 1979 , ulama dan masyarakat kita yang ber-mazhab Syafi’i , tak seorangpun yang berbudaya Arab Baduy seperti : memakai Jilbab model seperti sekarang , melarang wanita menari , melarang bersalaman pria dan wanita yang bukan keluarganya ( muhrimnya ) , mengharuskan pemisahan pria dan wanita dsb. Tapi setelah pecahnya Revolusi Islam Iran 1979 dan Imam Khomeini berkuasa, beliau mewajibkan budaya Arab Baduy itu sebagai simbol perlawanan kepada barat. Peristiwa ini menjadi viral dikalangan murid dan penganut Mazhab. Sumber Google : Historia : Membuka bab sejarah Jilbab. Sekarang anda dapat melihatnya sendiri. Para Murid di sekolah /pesantren dan penganut  Mazhab ( pada masyarakat kita mazhab Syafi’I ) , yang awalnya Jilbab dan budaya Arab Baduy lainnya sebagai symbol perlawanan terhadap barat tetapi sekarang menyublim ( berganti rupa ) menjadi keyakinan sebagai ajaran Islam . Apalagi para ulama Mazhab kita sekarang memasukkan budaya arab Baduy  itu dalam Syariat Islam  , maka jilbab ,  pria dan wanita tidak boleh bercampur dalam satu ruangan dan budaya Arab Baduy lainnya itu  menjadi kewajiban beragama Islam . Walaupun budaya Arab Baduy itu tak ada dalam Alquran. 



  • b. “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....” 

BEDA ULAMA TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL

           Sebelumnya kita harus memahami beda ULAMA TEKSTUAL yang menfasirkan berdasar Teks  dan ULAMA KONTEKSTUAL yang menafsirkan ayat berdasar konteks saat turunnya ayat tersebut ( sejarah ). Agar mudah dipahami saya akan memberikan contoh yang identik ( intinya sama tetapi kejadian berbeda ) yang terjadi sekarang di Indonesia.


       Pada suatu hari di suatu tempat kost wanita , banyak wanita penghuninya memakai jilbab ( Kerudung dan jubah ) , tapi pemakainya sengaja menyibakkan jilbabnya ke belakang , sehingga dadanya terlihat ( gambar 1 ). Tentu saja ini pemandangan yang tidak sopan. Karena terjadi banyak di sekitar pondok pesantren yang muridnya memakai jilbab yang sangat sopan ( gambar 2 ) , maka pengasuh pondok pesantren menghimbau / membuat aturan agar para siswi tidak terpengaruh. Surat himbauan itu di berikan kepada pengasuh tempat kost wanita yang berisi : “ hendaklah para wanita itu menutupkan kain kerudung mereka kedada mereka agar tampak sopan “. Surat yang berisi himbauan ini selain ditujukan kepada para wanita di tempat kost wanita  tersebut juga kepada para siswi di pondok pesantren yang mengajarkan bahwa terlihat dada seperti itu adalah pemandangan yang tidak baik atau tidak sopan. Ulama Tekstual menafsirkan aturan ini “ hendaklah para wanita itu menutupkan kain kerudung mereka kedada mereka “ sebagai wajib kerudung yang menutup sampai dada. Ulama kontekstual menafsirkan aturan ini terkait hanya kepada para wanita di tempat kost itu “ agar para wanita itu menutupkan kain kerudung mereka kedada mereka “ tagar tampak sopan. Tafsir itu terkait konteks atau sejarah yang terjadi saat itu, bukannya mewajibkan kerudung apalagi disuruh sampai dada.

 

Sumber gambar : Internet.

 

           Demikian pula sejarah turunnya An Nur 31. Saat itu ada banyak wanita di jaman jahiliyah yang memakai jilbab ( pakaian kerudung dan jubah ) secara adat yaitu wanita bangsawan dan wanita merdeka . Aturan ini akibat aturan nenek moyangnya di kerajaan Assyria 1075 SM ( ibaratnya kerajaan Majapahit di Indonesia ). Para wanita Quraisy yang non muslim itu banyak yang sengaja menyibak kerudung mereka kebelakang ( Jilbab adalah pakaian kerudung dan jubah ) , agar terlihat dadanya. Karena hal ini suatu hal yang tidak baik ( tidak sopan )  maka turunlah ayat An Nur 31 dengan penggalan :

 

              “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....”

 

Ulama Tekstual mengartikan “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....” sebagai ayat yang mewajibkan kerudung dan ada juga yang menafsirkan wajib memakai kerudung sampai dada dan pusar. Ulama Kontekstual menafsirkan ayat ini sesuai konteks , sejarah terjadinya peristiwa itu. Ayat ini berisi himbauan kepada para wanita Quraisy yang sengaja membuka dadanya agar menutupi dadanya yang terlihat, sekaligus ini adalah ajaran dari Tuhan kepada umat Islam agar tampak sopan , bukannya ayat yang mewajibkan kerudung bagi umat Islam ( seperti tafsir ulama Tekstual ). Berubahnya ulama dari Kontekstual menjadi Tekstual tidak lepas dari peristiwa politik Revolusi Islam Iran 1979 yang mengguncangkan dunia. Negara yang terbentuk dengan pemimpin pemerintahan Imam Khomeini itu mewajibkan rakyatnya berbudaya Arab Baduy pedesaan padang pasir yang ada dalam Hadis , dengan mengenakan jilbab , memisahkan pria dan wanita , menolak budaya dsb , sebagai simbol perlawanan terhadap barat ( Amerika ). Sumber google : Historia : Membuka bab sejarah Jilbab. 


ULAMA DULU : AN NUR 31 AYAT TERKAIT SEJARAH

ULAMA SEKARANG : AN NUR 31 AYAT PEWAJIB JILBAB

 

Sebelum Dan Sesudah Revolusi Islam Iran 1979

 

        Sebelumnya akan di jelaskan dulu terminologi ( suatu istilah dalam konteks tertentu ) kata “ Ulama dulu “ dan “ Ulama sekarang “. Ulama dulu yaitu ulama sebelum peristiwa Revolusi Islam Iran 1979 yang masih mengikuti tafsir Nabi Muhammad dan para Sahabat . Kita tahu bahwa Revolusi Islam Iran 1979 adalah sebuah peristiwa politik yang menyebabkan mega Tsunami perubahan pemikiran dan tafsir sebagian besar para ulama dunia saat itu dan berpengaruh sampai Ulama sekarang.

 

            Sebelum membahas ayat ini kita harus paham dulu istilah salah paham   “Jilbab” ( jalaba) " dan “ kerudung  “ ( Khimar ) yang dianggap pakaian ” jilbab “ di Indonesia.

         Keterangan Gambar 1. Pakaian Jilbab Arab : terdiri dari jubah ( gamis )  dan kerudung ( khimar ) sebuah kain yang menutupi kepala sampai sebatas pusar atau di bawah dada . Sedang di Indonesia seseorang sudah memakai Jilbab bila sudah memakai Kerudung atau Khimar ( pada gambar 2  kerudung berwarna ungu ) . Gambar 3 : Di Indonesia wanita dengan dandanan model seperti ini mengenakan kerudung , dikatakan sudah berjilbab walaupun hanya memakai celana Jins dan hem lengan panjang , tidak memakai Jubah ( gamis )


Mereka sudah memakai kerudung akibat pengaruh UU Kerajaan Assyria

 

          “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....”

 

             Ulama sekarang ( dan diikuti para jemaaah / umat islam tentunya ) memahami ayat tersebut sebagai wajib kerudung karena ada kata “ kerudung “ nya. Kemudian diplesetkan menjadi wajib jilbab. Padahal kerudung dan jilbab sangat berbeda ( mohon dilihat lagi foto-foto di atas ). Sekarang yang anda perhatikan dari ayat tersebut satu frase utuh yang mengandung pengertian yaitu “ menutupkan kerudung mereka “. Frase ini mengandung makna / pengertian bahwa mereka itu “ sudah berkerudung “ dan diperintahkan untuk menutupkan kerudung itu ke dadanya.

 

“... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....”

 

           Setelah itu , bagaimanakah Ulama dulu memahami An Nur 31 sesuai konteks atau Asbabun Nuzulnya . Dimulai dari pertanyaan , mengapakah umat Islam ( muslimah ) saat itu sudah berkerudung  dan memakai pakaian jilbab Arab ?  Begini uraiannya. Sebagai akibat dari undang –undang Kerajaan Assyria ( sekarang Irak-Iran ) , tahun 1075  SM (Sumber Google :  Middle Assyrian Law Code - Jewish and Christian Literature….Lihat A40 ) , membuat para wanita bangsawan dan wanita merdeka dari golongan kaum kafir Quraisy maupun wanita muslim yang baru saja merdeka dari perbudakan , wajib memakai jilbab Arab yang terdiri dari pakaian jubah  dan kerudung. Wanita bangsawan dan wanita merdeka kaum Quraisy  yang sudah berjilbab itu , banyak yang membusungkan dadanya tanpa di tutupi sehelai kainpun untuk menarik minat laki-laki. Sehingga turunlah ayat agar para wanita muslimah yang sudah merdeka dan memakai Kerudung ( dan jubah ) itu agar menutupkan kain kerudungnya agar berbeda dengan mereka ( wanita Quraisy yang membusungkan dadanya itu ). 

                 “ Hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka  …“ kalimat ini menyebutkan “menutupkan kerudung mereka ke dada mereka “. Jelas mereka itu sudah berkerudung , ini tak terbantahkan. Tapi Ulama sekarang karena pengaruh Revolusi Islam Iran 1979 , memaksakan tafsir ayat ini sebagai ayat yang mewajiban memakai kerudung ( padahal mereka sudah berkerudung ) kemudian lebih parah lagi meluaskan tafsir tersebut sebagai wajib Jilbab yang terdiri dari Gamis ( jubah ) dan kerudung ( gambar atas : Jilbab Arab ) . Sebuah tafsir yang terlalu dipaksakan dari wajib kerudung menjadi wajib jilbab ( Jilbab Arab ) padahal pada kalimat tersebut jelas mereka sudah pakai kerudung ! Lantas mengapa semua carut marut ini bisa terjadi ?

 

              Untuk ini penulis mengambil tafsir Alquran dari beberapa macam sumber , 3 dari tafsir Alquran Indonesia dan 3 dari tafsir Alquran berbahasa Inggris / English Translation untuk perbandingan . Marilah kita perhatikan dengan seksama.


            Ke-3 tafsir An Nur 31 diatas menyatakan bahwa ayat tersebut sama sekali “ tidak ada hubungannya dengan wajib jilbab “. Karena “ mereka sudah berkerudung “ dan ada perintah untuk menutupkan kerudung mereka ke dada mereka yang terbuka ( lihat penjelasan selanjutnya ) . Gambar 1b : Menutupkan kerudung mereka atas dada mereka dari Google : An Nur 31 alquran terjemah per kata , maktabah rumah ilmu  . Gambar 2b dan 3b : Hampir semua terjemah dalam bahasa Inggris menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk “ menutupi dada mereka dengan kerudung-kerudung mereka “ bukannya mewajibkan jilbab. Google : Engish translation An Nur 31 quran.com.

ULAMA DULU : AN NUR 31 AYAT TERKAIT SEJARAH

Ulama sekarang : An Nur 31 jilbab wajib

              “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....” 

           Ulama dulu menafsirkan penggalan kalimat itu bukannya ayat yang mewajibkan jilbab seperti ulama sekarang , tapi ditafsirkan terkait sejarah yang menimpa umat Islam saat itu. Tafsir yang baik harus  memahami sejarah / Asbabun Nuzul turunnya sebuah ayat . Pendapat tersebut seperti yang di kemukakan Ibnu Taimiyyah ( Lahir di Bagdad 22 januari 1263, more info ketik google: biografi Ibnu Tamiyah). Beliau mengemukakan , bahwa mengetahui asbabun nuzul suatu ayat al-Quran dapat membantu kita memahami pesan-pesan yang dikandung ayat tersebut. Lebih lanjut Syaikhul Islam itu menambahkan , pengetahuan ikhwal Asbabun Nuzul suatu ayat memberikan dasar yang kokoh dalam menyelami kandungan ayat tersebut ( 1:V ) .

            Keterangan gambar 1 : Ulama sekarang yang tekstual , menafsirkan ayat ini sebagai wajib memakai kerudung , hanya karena ada teks kerudung. Ulama dulu ,  Imam Zarkasyi menafsirkan An Nur 31 ini , bukannya sebuah ayat yang mewajibkan kerudung , beliau menafsirkan turunnya ayat tersebut  karena ada situasi khusus di saat itu. Dimana banyak wanita menjulurkan jilbabnya kebelakang sehingga tampak dadanya tanpa sehelai kain yang menutupinya. Demikianlah ayat tersebut turun  untuk menutup dada yang terbuka agar terlihat sopan , bukannya untuk memerintahkan mewajibkan jilbab ,  karena mereka sudah berjilbab. Sumber google : Jilbab , kewajiban atau bukan oleh Nong Darol Mamada . Gambar 2 :  Senada dengan itu , Ulama dulu  Ibnu Katsir ( lahir Th 1301 dan wafat Th 1372  ) juga menafsirkan An Nur 31 bukannya ayat yang mewajibkan Jilbab tapi ayat itu turun terkait banyak wanita betelanjang dada tanpa di tutupi oleh sehelai kain yang menutupinya. Sumber google : Tafsir Ibnu Katsir An Nur 31 . Gambar 3 : Dalam sejarah tercatat Hindun seorang wanita dari kaum Kafir Mekah memperlihatkan dadanya untuk memberi semangat tentaranya pada perang Uhud. Sumber google : Jilbab , kewajiban atau bukan oleh Nong Darol Mamada 

               Senada dengan para Ulama diatas  Imam Qurtubi (w 1273 M , 700 tahun yang lalu ) ( more info ketik Google: Biografi Imam Al-Qurthubi) ahli Hadist, Tafsir dan Fiqih yang sangat dihormati, menyebutkan bahwa sebab turunnya penggalan ayat ini adalah karena wanita- wanita pada Zaman Nabi Muhammad SAW menutup kepala mereka dengan kerudung- kerudung dan mengulurkannya ke arah punggung mereka, sehingga bagian atas dada dan leher dibiarkan tanpa sesuatu pun yang menutup keduanya. Maka ayat di atas memerintahkan wanita-wanita mukminah agar mengulurkan kerudung mereka ke arah depan sehingga menutup dada mereka. Karena itu ayat di atas bertujuan (memerintahkan) menutup dada karena keterbukaannya, dan bukan bermaksud memerintahkan ( mewajibkan ) pakaian  dengan model tertentu ( kerudung . ket. penulis) (5:142). Menurut hemat penulis mereka memang sudah berkerudung tetapi  dengan terlihat nya payudara mereka , hal ini melanggar adat kesopanan mereka karena menampakkan anggota badan yang tidak biasa tampak di masyarakat berpakaian serba tertutup ini. Hal ini juga melanggar aturan penggalan ayat sebelumnya : “...janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka..” ( An Nur 24 : 31 )


        Gambar 1 dan 2 :  lukisan di zaman ke - Khalifahan Persia seorang wanita menyibakkan kerudungnya kebelakang sehingga dadanya terlihat. Sumber gambar :  google : http://save-image.com/images/qajar atau di google Images : Classic Woman in Caliphate Persian Pinterest ( Wanita di ke-Khalifahan Persia koleksi pnterest). Adanya wanita Quraisy yang berpakaian seperti ini yang memicu turunnya penggalan An Nur 31 : “... hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka....” agar dada yang terbuka itu tertutup. Agar tampak sopan dan beradab.
         Gambar 3  : di atas diambil dari buku Fadwa El Guindi  : Jilbab , antara kesalehan , kesopanan dan perlawanan (7), seorang wanita Arab –Mesir yang lahir 1941 dengan jabatan professor anthropology dengan PhD anthropology dari The University of Texas at Austin (1972) . Beliau menduga pakaian seperti inilah yang memcu turunnya An Nur 31 . Gambar ini  diambil ketika beliau meneliti tentang Jilbab di Yaman tahun 70-an ketika para ulama belum mewajibkan jilbab yang menutupi seluruh tubuh menjadi undang-undang negara. Ia menduga busana yang terlihat sebagian buah dada seperti inilah yang yang dimaksudkan Al Hafizh Ibnu Hajar (w. 852 H) (6:34). dan sejarawan Qurtubi (w.1273) (5:142) sehingga turun ayat An-nur 31, “…….hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka…..”. Karena itu ayat di atas bertujuan (memerintahkan) menutup dada karena keterbukaannya, dan bukan bermaksud memerintahkan ( mewajibkan ) pakaian (kerudung) dengan model tertentu (5:142) . Demikian pendapat Muhammad Said al-Asymawi ( more info ketik google) , pakar hukum dan mantan Hakim Agung asal Mesir .
           Gambar 4 : Wanita Yaman sebelum wajib jilbab. Selanjutnya wajib jilbab seluruh tubuh di Yaman. Sumber gambar : Google images :Yemen Woman pict, 
  Gambar 5 : wanita Yaman pemrotes pemakaian jilbab  . Sumber gambar  : http://lebanonglc.wordpress.com/2012/11/01/veil-freedom-and-equality/

ALQURAN DIUBAH ?

Tafsir Departemen agama sekarang yang lain dari yang lain.

          Keterangan Gambar 4b :  Kalimat yang benar dari terjemahan ini adalah seperti terjemahan pada gambar 1b Alquran terjemahan kata perkata : “ hendaklah mereka menutupkan dengan kain kerudung mereka atas dada mereka “ . Kalimat ini menjelaskan bahwa mereka sudah berkerudung !  Tapi kemudian Alquran Depag terbitan sekarang menghilangkan kata “ mereka “  jadi “ kudung “ saja. Sehingga terbentuk kata baru menjadi kalimat perintah “ menutupkan kain kudung kedadanya “. Akhirnya seolah-olah Alquran dikesan kan “  mewajibkan kudung “ . Saya ingin bertanya kepada para Ulama Depag di bagian terjemahan  , mengapakah kata “ mereka “ dibelakang kata “ kudung “ dihapus ? sehingga terbentuk kata “ menutupkan kain kudung ke dadanya “ bukannya “ menutupkan kain kudung mereka ke dada mereka “ ? .  Apakah para ulama kita dengan sengaja menghapus , agar terkesan seolah –olah Alquran menyuruh berkerudung ? Padahal dengan kalimat diayat itu berbunyi  “ kudung mereka “ itu sudah menjelaskan bahwa “ mereka  sudah berkerudung “ , jadi ayat ini bukan ayat yang mewajibkan kerudung ! Karena mereka sudah berkerudung !  Bila ini di sengaja maka  , saya sangat prihatin beraninya manusia mengubah Alquran .Walaupun bahasa Arabnya tak di ubah , tapi seluruh pembaca muslim memahami bahwa “ Alquran  mewajibkan kerudung “. Sungguh memprihatinkan , kitab yang suci ini di ubah-ubah.  Dampaknya sekarang antar umat Islam dengan mudahnya mengatakan kerudung adalah wajib, tidak memakai kerudung adalah kafir { tidak patuh Alquran ) dengan menunjukkan ayat An Nur 31 ini. Saya mohon dengan sangat, mudah mudahan para penerjemah di Departemen Agama mau merevisi terjemahannya sesuai apa adanya. Marilah kita kembali ke ajaran Tuhan / Allah yang sebenarnya.
          Gambar 5b : Alquran terbitan lama : Al-Furqon , tafsir Quran tjetakan ke 9 , oleh A. Hasan Guru Persatuan Islam , Penerbit PT Bina Ilmu Jl. Genteng Kali 9 Surabaya  , cetakan ke-empat atas pesanan khusus angkatan darat 1962 . Alquran ini diterbitkan sebelum tahun 1979 ketika Revolusi Islam Iran terjadi. Para Saat itu para ulama kita menerjemahkan Alquran seperti apa adanya. “ Hendaklah mereka menutup dada-dada mereka dengan kerudung-kerudung mereka “.

          Gambar 6b : Terjemahan ke dalam Bahasa Inggris oleh Marmaduke Picktall. “ to draw their veils “ artinya menguurkan kerudung-kerudung mereka. 

      2. Ayat kedua : Al Ahzab 59 
BEDA ULAMA TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL
                   
Sebelumnya kita harus memahami beda ULAMA TEKSTUAL yang menfasirkan berdasar Teks  dan ULAMA KONTEKSTUAL yang menafsirkan ayat berdasar konteks saat turunnya ayat tersebut ( sejarah ). Agar mudah dipahami saya akan memberikan contoh yang identik ( intinya sama tetapi kejadian berbeda ) yang terjadi sekarang di Indonesia.

              Pada suatu hari terjadi pelecehan terhadap siswa wanita SMA di kota Yogyakarta , yang mengenakan kebaya saat perayaan hari Kartini. Pelecehan menimpa para siswa wanita  yang memakai pakaian “ kebaya sexy “ ( gambar 1) karena di kira “ wanita nakal “. Pemakai “ kebaya wajar “  (gambar 2 ) tidak ada gangguan. Untuk melindungi para siswa wanita dari gangguan pemuda iseng maka dikeluarkanlah  aturan : Hendaklah mereka ( siswa wanita SMA itu )  mengulurkan kebayanya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka  lebih mudah untuk dikenal , karena itu mereka tidak di ganggu ( pemuda iseng ). Demikian pengumuman aturan dari pihak SMA. Ulama Tekstualmenafsirkan aturan tersebut “ mengulurkan kain kebayanya “ sebagai wajib kebaya“ karena ada teks “ mengulurkan kebayanya “. Sedang Ulama Kontekstualmenafsirkan aturan itu agar siswa wanita SMA tersebut , mengulurkan kebayanya agar mudah di kenal bukan sebagai “ wanita nakal “ , sehingga tidak diganggu pemuda iseng. Ulama kontekstual memahami maksud dari peraturan itu “ agar siswa wanita SMA itu berbeda dengan wanita nakal sehingga tidak diganggu “, bukannya untuk mewajibkan kebaya seperti tafsir Ulama Tekstual.

 

             Demikian pula saat turunnya Al Ahzab 59 , banyak wanita Islam yang baru merdeka secara adat mereka wajib memakai  Jilbab ( kerudung dan Jubah ) tapi pakaiannya banyak bagian yang terbuka.  Kewajiban ini akibat aturan nenek moyangnya di kerajaan Assyria 1075 SM ( ibaratnya kerajaan Majapahit di Indonesia )  . Tapi karena mereka tidak terbiasa memakai jilbab saat menjadi budak ( secara adat budak dan pelacur tidak boleh memakai Jibab ) , pakaian jilbabnya banyak yang terbuka seperti gambar 1 , sehingga mereka dilecehkan oleh para pria iseng. Akibat peristiwa itulah turun Al Ahzab 59 : 

 

              “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah merekamengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.


ULAMA DULU : AL AHZAB 59 AYAT TERKAIT SEJARAH
ULAMA SEKARANG : AYAT PEWAJIB ILBAB

Agar berbeda dengan budak , bukan wajib jilbab

            Sebelumnya kita harus paham dulu suasana budaya di Arab Saudi abad ke 7 saat turunnya ayat Al Ahzab 59 ini. Saat itu para wanita bangsawan dan para wanita merdeka wajib memakai Jilbab ( seperti gambar 1.2 dan 3 dibawah ini ). Para budak ( hamba sahaya ) dan pelacur tidak boleh memakai jilbab. Hal ini karena pengaruh dari Kerajaan besar Assyria ( daerah Mesopotamia sekarang Irak ) yang luas pengaruhnya sampai ketetangga propinsi selatannya yaitu Arab Saudi. Google ketik: Middle Assyrian Law Code - Jewish and Christian Literature….Lihat A40. Kejadian ini seperti Kerajaan Mataram di Jawa Tengah / Yogyakarta yang pengaruhnya sampai Jawa Timur. Sayangnya , para wanita muslim yang baru saja di merdekakan oleh Nabi Muhammad itu , mengenakan pakaian Jilbab ( yang wajib itu ) secara asal-asalan ( lihat gambar 4 di bawah ini ). Mungkin mereka masih risih , tidak terbiasa memakai jilbab saat menjadi budak. Sehingga dilecehkan pria iseng. 

             Para Perawi / periwayat Hadis dan Ulama dulu yang kontekstual , menafsirkan Al Ahzab 59 dan Anur 31 bukanlah ayat yang mewajibkan Jilbab tetapi di tafisrkan sesuai dengan konteks / sejarah saat itu. Dimana para wanita muslim saat itu memakai Jilbab yang asal-asalan dengan banyak bagian tubuh terbuka / terlihat maka turunlah perintah Tuhan di Al Ahzab 59 , agar para wanita muslim yang baru saja merdeka dari perbudakan itu “ menjulurkan Jilbabnya “ agar berbeda dari para budak yang kerap di ganggu / dilecehkan secara sexual. Ini berbeda dengan ulama / ustadz kita sekarang yang tekstual , menafsirkan  kata-kata “ menjulurkan Jilbabnya “ di Alquran itu dipahami sebagai “ wajib Jilbab “. Ini dua hal yang berbeda. Karena mereka sudah berjilbab tapi tidak benar ( perhatikan gambar 4 dibawah). Semua ini akibat peristiwa politik Revolusi Islam Iran 1979 yang mengambil identitas budaya Arab Baduy sebagai simbol perlawan terhadap barat. Sumber google : Historia : Membuka bab sejarah Jilbab. Mari kita perhatikan baik-baik dua kalimat dari ayat itu secara utuh.  Dari ayat tersebut : “ Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.".Jelaslah saat itu wanita muslim disarankan untuk mengulurkan jilbabnya agar mreka tidak di ganggu.  Para perawi / periwayat Hadis seperti Abu Malik , Al Hasan dan Muhammad bin Ka’b al-Quraizhi menjelaskan bahwa turunnya ayat itu agar para wanita muslim itu berbeda dengan budak. Sehingga mereka lebih mudah dikenal dan tidak mudah diganggu “. Bukannya disuruh atau di wajibkan memakai jilbab. 

           “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. ( Al Ahzab 59 )

                Al Ahzab 59 sebagai perintah memakai Jilbab adalah berita yang tidak benar alias Hoax ,  akibat dari pengaruh politik Revolusi Islam Iran  1979 yang maha dahsyat. Peristiwa ini membuat Islam berganti wajah , yang sebelumnya mewajibkan budaya lokal ( sesuai Al Isra 84 ) menjadi mewajibkan budaya Arab Baduy ( sesuai kitab Hadis ).  Mari kita teliti pengaruh revolusi itu pada tafsir ayat ini kata perkata. Ulama sekarang yang tekstual dan tentu saja di ikuti oleh umat Islam sekarang , mengartikan ayat itu sebagai kalimat perintah memakai jilbab , hanya karena ada teks Jilbab atau ada kata Jilbabnya. Padahal ayat tersebut memerintahkan untuk  “ mengulurkan jilbabnya “ tidak ada hubungannya dengn perintah memakai jilbab.

       Tetapi sebelumnya kita harus mengerti dulu tentang situasi tentang cara berpakaian umat islam yang baru saja di bebaskan dari budak oleh Nabi Muhammad. 

             Keterangan gambar 1 , 2 dan 3 : Model pakaian jilbab wanita merdeka dan bangsawan yang diwajibkan oleh Kerajaan Assyria ( lihat profile kerajaannya : google : Kerajaan Assyria ) pada tahun 1075 SM membuat undang – undang yang dikenal sebagai The Assyrian Code ( Hulkum atau peraturan dari Kerajaan Assyria ) . Tertulis dalam Hukum Assyrian (. Google ketik: Middle Assyrian Law Code - Jewish and Christian Literature….Lihat A40. ) : Kewajiban Jilbab untuk para wanita merdeka dan bangsawan itu agar berbeda dengan wanita budak dan pelacur yang tidak boleh berjilbab. Gambar 4 : pakaian wanita muslim yang sudah merdeka yang sebelumnya budak. Perhatikan pakaian-nya yang banyak anggota badan yang terbuka. Kebiasaan dulu yang tidak berjilbab menyebabkan mereka risih bila di haruskan / diwajibkan mengenakan pakaian jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya gambar 1 . 2 dan 3. Pakaian yang serba tanggung ini yang menyebabkan mereka diganggu kaum munafikun karena dikira budak. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab turunnya ayat Al Ahzab 59, agar mereka " mengulurkan jilbabnya ". Gambar 5 : Jilbab model Indonesia. Wanita Indonesia yang memahaminya dengan salah kaprah , mengartikan kerudung adalah Jilbab. Padahal Jilbab atau Jalaba adalah model pakaian dengan kerudung dan jubahnya seperti gambar 1, 2 dan 3. 

        Diatas adalah  QS Al Ahzab ( 33 : 59 ) : Ayat ini adalah ayat yang turun berhubungan dengan konteks ( dengan sejarah saat itu ) dimana para wanita muslim saat itu adalah bekas budak / hamba sahaya yang sudah merdeka ( karena dibeli oleh Nabi Muhammad dan dimerdekakan )  dan sudah memakai Jilbab . Hal ini akibat pengaruh Hukum Assyria 1075 SM ( lihat atas ) yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari/adat mereka. Hukum / aturan itu mewajibkan wanita bangsawan dan wanita merdeka wajib memakai Jilbab .  Tapi wanita muslim yang memakai pakaian jilbab ( jubah dan kerudung ) itu  tidak sempurna menutup seluruh tubuhnya , sehingga diganggu oleh lelaki hidung belang atau lelaki iseng karena dikira budak yang tidak punya pelindung. Mari kita perhatikan ayat itu tidak ada kata yang bermakna  perintah :  “ pakailah jilbab “ atau kata yang senada. Frasa  “ mengulurkan jilbabnya “ Al Ahzab 59 versi Bahasa Indonesia maupun Inggris , memberi informasi kepada kita bahwa kaum wanita muslim saat itu sudah memakai Jilbab dan jilbab itu harus di ulurkan atau di julurkan .  1 : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka . Gambar 2 : “ to draw their veil “ artinya sama dengan mengulurkan jilbab-jilbabnya “ 3. “ to draw a part of their outer coverings around them “ yang bermakna sama yaitu “ mengulurkan bagian dari baju-baju yang menyelubungi mereka “ . Semuanya versi Indonesia dan Inggris sama , yaitu perintah “ mengulurkan jilbabnya “  bukannya perintah untuk memakai Jilbab atau “ pakailah jilbab ”.  Dua kata yang tidak sama dan tidak bisa disama-samakan.


Al Ahzab 59 turun karena banyak wanita muslim diganggu karena dikira Budak

           Ulama dulu yang kontekstual ( memperhatikan sejarah saat ayat ini turun ) menafsirkan Al Ahzab 59  , agar berbeda dengan budak . Sedang Ulama sekarang karena pengaruh politik Revolusi Islam Iran 1979 menjadi Tekstual. Menafsirkan ayat ini sebagai wajib jilbab hanya karena ada kata “ mengulurkan jilbab “. 

Al Ahzab 59 dan Asbabun Nuzul-nya.

                  QS Surah Al Ahzab ( 33 : 59 )  : “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.

              Asbabun Nuzul (sebuah peristiwa penyebab turunnya ayat ) Al Ahzaab 59 : Istri Rasullulah pernah keluar malam untuk buang hajat (buang air). Pada waktu itu kaum munafikun mengganggu dan menyakiti istri Rasulullah tersebut. Hal ini diadukan kepada Rasulullah SAW, sehingga Rasulullah pun menegur kaum munafikun. Tetapi mereka menjawab, “Kami hanya mengganggu hamba sahaya (budak).” Turunnya ayat ini (QS 33 Al-Ahzaab : 59) sebagai perintah untuk berpakaian tertutup agar kaum Muslimah berbeda dari para budak. Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d, di dalam kitab Ash-Thabaqat yang bersumber dari Abu Malik ( periwayat hadis )  . Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’ad  yang bersumber dari Al Hasan dan Muhammad bin Ka’b al-Quraizhi ( keduanya periwayat hadis ) (8).
Sumber Asbabun Nuzul : 

               Keterangan : Fotocopy diatas (  Gbr 1 ) diambil dari buku “ Asbabun Nuzul “ hal. 442 . Karangan : Saleh,K.H.Q., Dahlan,H.A.A, ( Bandung: CV Penerbit    Diponegoro, 2007) cetakan ke 10. Dalam Asbabun Nuzul Al Ahzab 59 diatas  Ulama dulu , Ulama Besar Ibnu Sa’ad ( lahir 784 M ) dalam tulisannya di kitab Ash-Thabaqat ( Gbr 2 ) mengutip cerita para periwayat hadis Abu Malik , Al Hasan dan Muhammad bin Ka’b al-Quraizhi. Yang menafsirkan Al Ahzab 59 “ bukanlah ayat yang mewajibkan jilbab “ tapi “ sebagai perintah untuk berpakaian tertutup agar berbeda dengan budak ( hamba sahaya ) “

        3. Hadis Mursal atau Hadis Tidak Shahih

HADIS MURSAL DARI ABU DAUD

Hadis Jilbab yang ditolak oleh periwayatnya sendiri

     Ulama sekarang mewajibkan jilbab berdasarkan Hadis dari Aisyah yang diriwayatkan dari Khalid bin Darik.  Abu Daud dalam sunannya dari Khalid bin Darik dari Aisyah :
        
              “ Hai Asma  , Wanita yang sudah haid tidak layak terlihat darinya kecuali ini , beliau menunjuk wajah dan dua telapak tangan “ 

          Catatan penting : Tapi Ulama dulu Abu Daud ( lahir 817 M ) yang meriwayatkan  dan Abu Hatim ar-Razi menyatakan hadis ini Mursal , hadis yang tertolak , tidak bisa diterima .

          Catatan ini diambil dari buku Tafsir Ibnu Katsir ( lahir 1302 M ) jilid III hal 489 (58). : penerbit Gema Insani Press ( more info google: Ibnu Katsir wikipedia) seorang Ulama besar yang tidak usah disangsikan lagi ke ilmuannya dibawah ini :      

            Gambar kiri : buku Sunan Abu Dawud/Daud ( lahir 817 ), seorang peneliti Hadis. Gambar kanan : Copy buku Karangan Ibnu Katsir( lahir 1302 M )  yang mengutip dari buku Sunan Abu Dawud/Daud.


Ada beberapa tafsir untuk Hadis mursal ini.

             Fakta itu satu tapi tafsir itu bisa banyak. Sebuah fakta bisa di baca oleh 10 orang dengan 15 Tafsir / pendapat yang berbeda. Demikian pula Hadis ini bisa ditafsirkan banyak sekali , tapi saya hanya akan menafsirkan 2 buah. Tentang kebenarannya kita kembalikan ke  konsep dasar Islam : Wallahu A’lam bishawab. Hanya Tuhan yang mengetahui jawaban yang sebenar-benarnya. 

  1. 1. Hadis Hoax 

           Dalam bukunya Prof. DR. Quraish Shihab menyatakan bahwa, Khalid bin Darik yang meriwayatkan dari Aisyah tidak mungkin mendengar dari Aisyah karena tidak sezaman.( 5:90-91 ). Seperti kita ketahui Hadis di tulis 717 M , tahun dimana Khalid bin Darik menuliskan hadisnya . Beliau berkata mendengar dari Aisyah ( istri Nabi ) yang hidup tahun 600an . Tidak mungkin Khalid bin Darik medengar langsung dari Aisyah yang hidup 100 tahun sebelumnya. Misalnya, katakanlah kita atau penulis yang kelahiran 1960 ini , tidak mungkin mendengar langsung secara pribadi kata2 yang diucapkan Pangeran Diponegoro yang hidup 100 tahun yang lalu. Seperti kita ketahui perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830 . Kalau saya berkata : “ saya mendengar langsung dari pangeran Diponegoro berkata ini - itu “ berarti saya berbohong. Maka apa yang dikatakan Abu Daud ( lahir 817 M ) bahwa hadis ini hadis palsu ( mursal ) maka Khalid bin Darik termasuk salah seorang yang paling awal menciptakan “ Hoaks “. Seolah beliau bertemu dengan Aisyah yang mendengar perkataan Nabi ( hadis)  , padahal tidak. Tentu saja semua ini dilandasi dengan tujuan baik. Dengan begitu para kaum wanitanya mau mengenakan busana daerahnya , lantaran yang menyuruh Nabi Muhammad. Seperti bila kita menasehati anak kita yang tidak mau belajar. Kemudian agar anak kita mau belajar kita berbohong dengan tujuan baik. “ Nak , kemarin gurumu bilang kamu harus banyak belajar ..!  “ . Padahal kita tidak bertemu dengan sang guru.            

            2. Tafsir yang berlebihan

            Dalam Hadis itu , Nabi Muhammad sedang menasehati Aisyah r.a agar memakai jilbab dengan model  sesuai adat kesopanan budaya Arab Baduy beliau . Dalam hadis itu jelas , bahwa ini bukan untuk umat Islam secara umum , tapi hanya berbicara untuk Aisyah.  Para Ulama Arab memaksakan ucapan atau Hadis ( hadis artinya ucapan )  Nabi Muhammad tafsir yang seolah-olah Nabi mewajibkan untuk umatnya. Seolah-olah Nabi  Muhammad sedang berkata : “ Hai umatku , sejak hari ini aku wajibkan kepadamu untuk memakai Jilbab yang hanya terlihat wajah dan telapak tangan “. Ada maksud baik dibalik tafsir itu , agar berpakaian sopan sesuai adat disana. Tapi sayang Ulama kita sekarang kehilangan sikap kritisnya. Bahwa Nabi Muhammad sedang berbicara kebaikan suai adat beliau. Bukan adat kita. Berbeda dengan Ulama kita dulu termasuk walisongo yang tetap berpegang teguh pada Alquran , yang mewajibkan setiap orang berbuat sesuai keadaan adat budayanya masing-masing ( Al Isra 84 ). Sehingga terciptalah pakaian daerah yang berwarna-warni dengan keindahan yang dikagumi oleh bangsa lain membuat ekonomi kreatif yang menyejahterakan rakyat kecil pembuatnya.

DAMPAK PERUBAHAN TAFSIR SETELAH 1979

Perubahan di Iran dan Afghanistan setelah 1979

           Tafsir Ulama berubah akan diikuti seluruh umatnya. Setelah Revolusi Islam Iran 1979 para Ulama Islam seluruh dunia berubah. Jilbab dan budaya Arab Baduy yang sebelumnya dianggap bukan termasuk ajaran Islam kemudian dimasukkan sebagai ajaran Islam. Dan An Nur 31 dan Al Ahzab 59 yang oleh para Ulama sebelumnya dianggap bukan ayat yang mewajibkan Jilbab , setelahnya menjadi ayat yang mewajibkan Jilbab. Akhirnya masyarakat Islam diseluruh duniapun berubah. Foto-foto dibawah ini sebagai penggambarannya.


 NABI MENGELUH UMAT ISLAM MENGACUHKAN  ALQURAN

Dari Alquran ke Hadis

         Alquran mewajibkan / mengharuskan setiap orang berbuata sesuai keadaan adat budayanya masing-masing ( Al Isra 84 ) . Hadis di utamakan , Alquran di nomor duakan. Hal ini karena hadis dianggap asli dari Nabi dan dianggap 100 persen benar. Saat ini di tahun 2020 , umat Islam lebih senang memperbincangkan ajaran Hadis daripada ajaran Tuhan /Allah sang pencipta Alam semesta didalam  Alquran. Apakah kejadian sekarang ini merupakan pengulangan kejadian yang menjadi penyebab turunnya ayat dibawah ini ( Asbabun Nuzul ) , dimana Sang Nabi Muhammad mengeluh kepada Sang pencipta ? Wallahu a’lam Bishawab. Hanya Tuhanlah yang mengetahui jawaban yang sebenar-benarnya.

          Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”. ( Al-Furqan 25:30)

         Dibawah ini dapat dilihat perubahan kebiasaan / adat budaya lokal menjadi kebiasaan / adat budaya Arab Baduy pedesaan gurun pasir yang tampak nyata setelah Revousi islam Iran 1979. 

Perubahan di Indonesia dan Pakistan setelah 1979

Perubahan : Islam Budaya Arab Baduy di Aceh

               Aceh telah kehilangan sebagian besar budayanya. Virus penerapan budaya Arab Baduy pedesaan padang pasir yang terjadi di Iran tahun 1979 itu , 25 tahun kemudian akhirnya sampai juga di Aceh. Viral itu mewujud dengan penerapan “ Syariat Islam “ ( sebuah “ hukum Islam “ yang bermuara pada kesepakatan tafsir Ulama-ulama Bangsa Arab yang tentunya berbudaya Arab Baduy nenek moyangnya ) di Aceh tahun 2001 . Para murid dan pengikut aliran Mazhab Syafi’I yang telah berubah pandangan ke-Islamannya dibanding Ulama senior mereka sebelum tahun 1979 , membuat Perda ( peraturan daerah / Undang-undang ) . Perda yang dideklrasikan tahun 2001 itu terkait budaya Arab Baduy seperti : wajib Jilbab , pemisahan pria dan wanita dsb yang bukan budaya mereka. 



             Keterangan gambar : Ulama adalah panutan umatnya. Ulama berubah , berubah juga umatnya. Pakaian tradisi adalah “ fosil “ atau artefak peninggalan sejarah yang masih “ hidup “ di masyarakat. Pakaian tradisi itu sebagai bukti ajaran Ulama masa lalu tentang tatacara berpakaian. Masyarakat kita sekarang terpecah-pecah keyakinan Islam nya. Sebagian kecil masih memegang ajaran Ulama dulu ( termasuk Walisongo ) yang tidak mewajibkan jilbab akibat terdesak pengaruh politik Revolusi Islam Iran 1979 . Tetapi sebagian besar lagi memegang ajaran Ulama sekarang , yang memasukkan jilbab sebagai ajaran Islam ( Syariat Islam atau hukum Islam yang wajib dilaksanakan ) . Ulama sekarang pun terbagi 3  : Ulama pertama : yang masih memegang ajaran Alquran dan Ulama Arab penyebar Islam awal termasuk keturunannya Wali songo . Ulama dulu seperti Prof. DR. Quraish Shihab , Gusdur , Nurcholish Majid dan ulama sekarang Prof Nadirsyah Hosen cendekiawan NU yang mengajar di Monash Univ. Australia. Selengkapnya di Google : Jilbab tidak wajib kata Nadirsyah Hosen. Atau bila ingin pencerahannya yang lain di Instagramnya  : Nadirsyahhosen_official. Ulama kedua yang mewajibkan jilbab dengan model wajah dan telapak tangan tampak  ( Mazhab Syafi’I ) , Ulama ketiga ; kedua mata tampak dan seluruh tubuh tidak tampak / tertutup  ( Mazhab Hambali / Wahhabi / Salafi ) .  Gambar 1: Tarian Jawa yang sebagian di gubah Walisongo ( Info google : Walisongo ) , tampak wanita mengenakan busana yang terlihat wajah , seluruh leher , sebagian dada atas , telinga. Gambar 2 : pakaian tradisi aceh yang indah yang masih memperlihatkan wajah , leher dan telinga . Gambar 3 : Para wanita aceh sekarang . Gambar 4 : Contoh aturan yang menekan , menjadikan jilbab sekarang dipakai mayoritas umat Islam. Setelah Revolusi Islam Iran 1979 , Ulama Mazhab Syafi’I kita ( yang terpengaruh Revolusi ini ) merebut pengaruh pemerintah terhadap umat Islam. Ulama Mazhab beserta para muridnya ( yang sekolah di Pondok Pesantren dan sekolah umum yang mengajarkan budaya Arab  Baduy ) beserta pengikutnya yang menjadi bupati , camat , kepala dinas , kepala desa , kepala Universitas , kepala sekolah-sekolah , SD , SMP , SMA , Pondok Pesantren , menggunakan kekuasaannya untuk mewajibkan jilbab di institusinya masing-masing. Tanpa seorangpun yang berani melawannya . Sebuah tiruan mini Revolusi Islam Iran !979 , dimana Ulama Mazhab , para murid dan pengikutnya  menggunakan kekuasaanya untuk mewajibkan jilbab dan budaya Arab Baduy lainnya.  Itulah sebabnya sekarang ditahun 2019 , jilbab dipakai diseluruh Indonesia sampai pelosok-pelosok desa. 

EVOLUSI WANITA INDONESIA DARI ALQURAN KE HADIS



             Keterangan gambar: Dalam realoitas kehidupan , rambut adalah anggota badan yang biasa tampak. Karena sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu anggota badan ini biasa tampak dalam masyarakat Indonesia.  Sehingga tidak termasuk aurat. Lain halnya dengan payudara , pantat , alat kelamin ( maaf ) semua itu anggota badan yang tidak biasa tampak. Sehingga bila diperlihatkan kepada umum menjadi Aurat ( aurat artinya : Tabu , tidak sopan , saru dalam  bhs : jawa , tidak senonoh ) .  Dengan terlihatnya rambut seperti remaja kita di tahun 70an itu sudah SESUAI AJARAN ALQURAN tentang aturan berpakaian pria dan wanita agar sopan sesuai kebiasaan / adat sekitar dalam An Nur 31 ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka ”  . Sumber foto atas ketik Google gambar : foto SMA jadul

Westernisasi bisa di tolak , Arabisasi tidak
            Seorang anak muda pembaca saya dengan cerdas menyatakan hal itu.  Ke barat-baratan atau Westernisasi melanda tren anak muda karena hanya sebatas mode / cara berpakaian. Sedang Arabisasi bukan hanya sekedar mode berpakaian tapi cara berpakaian itu yang dikait-kaitkan  dengan Surga dan Neraka oleh para Ulama . Dan Alquran dan Hadis-pun dibawa-bawa sebagai pembenar. Sehingga Arabisasi sebuah wabah berbudaya Arab Baduy termasuk Jilbab didalamnya tidak bisa ditolak. Apalagi hal ini terkait dengan masalah politik yang dampaknya tentu sangat besar.  


Dari Mazhab Syafi’I berangsur ke Mazhab Hambali / Wahhabi / Salafi


            Keterangan Gambar atas : Ulama kita sekarang beraliran / Mazhab Imam Syafi’i  ( lahir di Gaza 767 M – w 819 M di Mesir) yang mencintai budaya Arabnya sehingga mengacu pada ucapan / Hadis ( Hadis artinya ucapan ) Ibnu Abbas ( seorang Sahabat lahir 619 ) . Ini adalah hal yang wajar dan manusiawi. Hal yang sama juga dilakukan Bung Karno ketika beliau yang keturunan orang jawa pedesaan , menyuruh istri-istrinya berpakaian khas adat Jawa : kebaya dengan rambut terbuka. Apakah bangsa kita harus mengikuti budaya Arab Baduy sehingga memusnahkan budaya kita sendiri ? Padahal Tuhan dalam Alquran dengan sangat adil dan bijaksana menjelaskan bahwa , setiap orang harus / wajib  berperilaku sesuai keadaan adat budaya/ kepercayaannya masing-masing . 

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

Sudahkah kita melaksanakan perintahnya ?

              Keterangan Gambar atas :  Pakaian bercadar ini adalah pakaian Mazhab Hambali ( lahir 780 M ) yang juga Mazhab dari Muhammad bin Abdul Wahhab ( lahir 1701 ) pendiri Mazhab Wahhabi / Salalfi. Pakaian ini mengacu pada ucapan / Hadis ( Hadis artinya ucapan )  para Sahabat Nabi Muhammad yaitu Ibnnu Mas’ud ra  , Abidah as-Salamani, As-Suddi dkk. Kembali kita bertanya dengan pertanyaan yang sama ,  Apakah bangsa kita harus mengikuti budaya Arab Baduy sehingga memusnahkan budaya kita sendiri ?  Padahal Tuhan dalam Alquran dengan sangat adil dan bijaksana menjelaskan bahwa , setiap orang harus / wajib  berperilaku sesuai keadaan adat budaya/ kepercayaannya masing-masing .

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya “. ( Al Isra 84 )

Sudahkah kita melaksanakan perintahnya ?
       

EVOLUSI WANITA INDONESIA DAN WANITA ARAB

Dunia yang terbalik


Paling atas sumber gambar : google Images : Cover majalah Gadis jadul

Jilbab di Iran dan Afghanistan

         Gambar diatas memperlihatkan kehidupan sehari-hari para Remaja wanita Iran dan Afghanistan. Mereka muslim tapi model jilbabnya dengan rambut terlihat . Ini sangat berbeda dengan remaja wanita kita. Hal ini membuktikan bahwa pandangan Rambut adalah aurat yang harus ditutup dengan Jilbab memang kontroversi ( banyak pendapat ) dikalangan ulama sendiri. Karena memang di Alquran tidak ada kata-kata rambut adalah aurat. Demikianlah kita tidak dididik Pluarisme ( ada banyak pendapat Ulama ). Hampir semua Ulama / Ustadz kita kita seolah menyembunyikan kebenaran ini ( bahwa banyak ulama berbeda pendapat ). Dimana-mana kita mendengar hanya satu kalimat seolah kebenaran hanya satu : seluruh tubuh adalah aurat kecuali “ wajah dan telapak tangan “. Dan dikatakan itulah satu-satunya ajaran Islam  Ini tidak benar dan jelas keliru . Karena ini adalah ucapan Ibnu Abbas dan para sahabat lain yang berbudaya jilbab model tersebut sebagai reaksi turunnya penggalan pertama An Nur 31 :   ”.. janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali (anggota badannya) yang (biasa) nampak dari mereka.”  Itulah sebabnya bila kita cari di Alquran tidak ada kalimat “  seluruh tubuh adalah aurat kecuali  wajah dan telapak tangan “. Bila para ulama ini memang tidak tahu bahwa kalimat itu bukan kalimat Tuhan / Alquran maka hal ini tidak apa-apa. Tapi kalau tahu kemudian kekeliruan ini ( bahwa di Alquran tidak ada ) sengaja tidak diberitahukan kepada jamaahnya atau disembunyikan maka Tuhan mengingatkan kondisi ini di Al Baqarah 42 :

        “ Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar (  hak ) dengan yang keliru ( bathil ) dan janganlah kamu sembunyikan yang benar (  hak ) itu, sedang kamu mengetahui “. 

Sumber gambar google Images : Veil Iran Women dan Robotics Team Afghanistan Build Ventilator

RANG ARAB MEMAKAI KEBAYA,
ORANG INDONESIA MEMAKAI JILBAB

Kesalahan Tafsir : Orang Indonesia jadi orang Arab, orang Arab jadi orang Indonesia.   

                                           
     Gambar atas : Sebagai orang Arab yang mewarisi langsung ajaran Islam dari Nabi Muhammad , tentulah mereka sangat paham daripada kita. Karena Alquran Bahasa Arab dan mereka orang Arab tidak ada kendala mereka untuk memahaminya. Bila Jilbab memang wajib dengan konsekuensi masuk neraka bila tak memakainya , tentulah para putri-putri Kerajaan Arab Saudi ini mustahil berpakaian tanpa jilbab. Para Ulama mereka akan marah. Bapak ibu mereka akan mereka akan marah. Saudara , lingkungan akan marah. Nyatanya hal itu tidak terjadi. Mereka paham bahwa Jilbab yang sekarang merebak di dunia Islam , bukanlah hal yang wajib. Ini hanyalah sebuah aliran Islam budaya Arab Baduy yang diwajibkann karena dampak peristiwa politik Revolusi Islam Iran.1979. Gambar 1 : Ameera al Taweel seorang putri Raja Arab Saudi memakai Baju Kebaya Indonesia dengan model Kuthu Baru. Gambar 2 : Sara bint Talal juga seorang putri raja Saudi. Beliau sedang memberi ceramah, dengan pakaian yang tampak wajar dan sopan . Ketik : google images : Ameera al Taweel Princess Saudi dan Sara bint Talal Princess Saudi . Mereka sekarang sadar pentingnya Ilmu Pengetahuan yang paling utama (ayat Alquran menyinggung Ilmu sebanyak 26 ayat ). Jilbab, pakaian adat mereka , dipakai hanya saat tertentu.

                 Gambar atas : Perbandingan cara berpakaian anak-anak di Arab Saudi ( atas ) dan anak di Indonesia ( bawah ).

          Gambar atas : Orang Arab/TImur Tengah ramai-ramai menanggalkan jilbab, orang indonesia ramai-ramai memakai jilbab . Gambar diatas ketika Wisuda Dokter di Universitas Gajah Mada tahun 1980 , ketika umat Islam kita masih berpedoman pada Walisongo dengan busana daerah lengkap dengan segala model sanggulnya. Gambar 2 :  Universitas Gajah Mada tahun 2014 , setelah pengaruh Politik dari Revolusi Islam Iran 1979 yang mewajibkan budaya Arab Baduy bagi warganya dengan undang-undang negara. Karena menggunakan kata-kata “ Revolusi Islam “ , maka kondisi ini menjadi berita seolah-olah budaya Arab Baduy seperti Jilbab inilah ajaran Islam yang sebenarnya. Hoax ( berita yang tidak benar ) ini menjadi viral ke seluruh dunia , sampai juga ke Indonesia.  Gambar kiri : sumber koleksi pribadi

ARAB SAUDI 2019 : JILBAB TIDAK WAJIB

Lain di Indonesia lain di Arab Saudi

            Ketika di Indonesia para remaja wanita berlomba-lomba berubah berbusana seperti orang Arab , orang Arab malah berpenampilan seperti remaja Indonesia seperti tahun 1980 an. 

             Keterangan atas : Generasi wanita Arab Saudi sekarang dengan budaya perkotaan ( budaya Urban ) yang terlihat rambut dan sebagian besar lengan/ tangan tapi tetap sopan dan terhormat. Kelak 20 tahun lagi wanita Arab Saudi akan berpenampilan mayoritas seperti ini. Gambar 1 : Dalam foto tampak remaja putri Arab Saudi di bolehkan menonton pertandingan sepak bola dan mulai menanggalkan Jilbab. Wanita Indonesia malah semakin fanatik dan ekstrim mengenakan jilbab. Gambar 2 : Putra Mahkota Arab Saudi mengatakan wanita tidak perlu pakai kerudung / Jilbab asalkan memakai pakaian  yang sopan dan terhormat. Saya tidak bisa membayangkan bila beliau kelak menjadi Raja Arab Saudi. Tentu Undang-Undang wajib jilbab akan di cabut. Pastilah para wanita mereka akan melepas semua jilbabnya . Akhirnya orang Arab memakai pakaian Indonesia , orang Indonesia akan memakai pakaian Arab.  Gambar 3 : Seorang wanita di Arab Saudi ( berbaju oranye ) nekat tidak memakai jilbab sebagai protes adanya undang-undang wajib jilbab . Gambar 4 : Para puteri kerajaan Arab Saudi sejak dulu  tak memakai jilbab di luar Arab. Para anggota kerajaan , masyarakat Arab Saudi mengerti dan paham bahwa agama Islam / Alquran maupun Nabi Muhammad tidak mewajibkan jilbab. Mereka semuanya mengerti bahwa adanya Undang – Undang yang mewajibkan jilbab hanyalah pengaruh gempa politik  yang maha hebat ,  yang merubah wajah Islam di seluruh dunia. Peristiwa politik itu adalah berkuasanya Ulama Hadis ( yang terkait budaya Arab Baduy ) dan para muridnya yaitu Ulama Khomeini yang beraliran Syah, berkuasa pada Revolusi Islam Iran 1979. Selengkapnya di  Google : Arab Saudi dalam kondisi tidak normal pada 30 tahun terakhir dan Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam ' .Dan : Revolusi Islam Iran 1979

Budaya Rural dan Budaya Urban 

            Mengenai pengaruh Revolusi Islam Irang 1979 ini , penulis berpendapat bahwa tidak ada yang lebih hebat dari pengaruh politik yang mengatas namakan Agama Islam , Alquran dan Hadis . Sebagai contoh  peristiwa pemberontakan yang mengatas namakan Negara Islam ( ISIS ) di Irak dapat mempengaruhi  seseorang di Indonesia , yang dengan rela membunuh dirinya sambil membunuh dengan kejam ratusan orang yang tidak tahu apa-apa di gereja , di hotel , di Kafe - kafe di Jakarta , Bali dengan Bom. Begitu juga wajib jilbab yang mengatas namakan Agama Islam ini ,  , hampir semua  orang Indonesia baik pria maupun wanita , karena ketidak tahuannya ,  beramai-ramai menolak pakaian adat budaya nenek moyangnya sendiri , dengan mengatakan jilbab adalah sebuah kewajiban agama. Maka punahlah budaya Indonesia. Ironisnya Bangsa Arab sekarang sedang semangat-semangatnya mengikis pengaruh budaya pedesaan ( Budaya Rural ) nenek moyangnya itu yang hidup di padang pasir dengan membolehkan wanita berpakaian budaya perkotaan ( Budaya Urban ) yang bersifat universal dengan rambut terlihat. Akibatnya orang Indonesia seperti orang Arab , orang Arab seperti orang Indonesia. 

ARAB SAUDI 2019 : HARI VALENTINE DI BOLEHKAN

Arab Saudi kembali ke Budaya Urban ( perkotaan )

           Budaya Arab Saudi , seperti semua budaya yang ada di di suku-suku di seluruh dunia , terdiri dari budaya asli yang masih ada di pedesaan / budaya desa ( budaya rural ) dan budaya kota ( budaya Urban ). Sebagai contoh budaya orang Jawa yang di pedesaan di Yogyakarta tentu berbeda dengan budaya orang Jawa Yogyakarta yang berdiam di Jakarta. Demikian pula budaya orang Dayak yang masih tinggal di pedesaan yang masih murni di dalam hutan , tentu berbeda dengan budaya orang Dayak yang tinggal di Bandung. Sama halnya pula budaya orang Arab di pedesaan gurun pasir yang kering dan panas tentu berbeda dengan budaya orang Arab yang tinggal di perkotaan Mekah , Madinah , Riyad , Jeddah. Pada awalnya sebelum Revolusi Islam Iran 1979 mereka yang di perkotaan masih berpakaian universal yang terlihat rambutnya dan memakai Rok bukan Jilbab Arab ( yang model memakai jubah )  seperti sekarang ini. . Baca sub judul diatas : Saat wanita Arab Saudi memakai rok tahun 1950an atau silahkan buka Google : Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam Tetapi setelah peristiwa itu , Ulama Wahhabi / Ulama Hadis ( yang terkait  budaya Arab Baduy pedesaan ) yang berkolaborasi dengan para politisi di pemerintahan / kerajaan ( seperti yang terjadi di Aceh ) , maka di buatlah Undang-Undang yang mewajibkan setiap orang harus berbudaya seperti nenek moyangnya itu. Syukurlah Ulama mereka yang berpaham Wahhabi dan politisi dari kerajaan / putra Mahkota Muhammad bin Saud ( MBS ) kembali ke budaya kota / budaya Urban mereka sebelum tahun 1979. Kembalinya Budaya Arab perkotaan yang universal itu dengan tujuan agar Arab Saudi tidak hanya tergantung pada ekonomi minyak tapi juga pada ekonomi Kebudayaan seperti halnya Dubai.

        Selengkapnya di  Google : Arab Saudi dalam kondisi tidak normal pada 30 tahun terakhir dan Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal ' Pemulihan Islam ' .

       
         Keterangan gambar atas :  Ulama Wahhabi  yang  sebelumnya menolak semua budaya luar dengan mengatakan haram , sebagian dari mereka membolehkan masyarakatnya kembali ke Budaya Urban ( budaya perkotaan ) seperti sebelum Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang membolehkan setiap budaya . Asalkan sopan dan terhormat , demikian kata calon pewaris Raja Arab Saudi Muhammad bin Salman. Gambar diatas para wanita dan pria saling mengirim bunga mawar sebagai ucapan rasa cinta kepada pasangannya , yang sebelumnya dinyatakan Haram. Gambar paling kanan para wanita di bolehkan mengemudi keluar rumah dan tanpa pengawalan muhrimnya ( saudaranya ) . Sebelumnya mereka di kekang tak boleh keluar rumah seperti untuk bekerja , menyopir , bepergian persis seperti wanita Indonesia di tahun 1800an sebelum jamannya R.A. Kartini. Sekarang nasib bangsa ini di tangan para Ulama sebagai panutan umat . Apakah kelak bangsa Indonesia menjadi Bangsa Arab dan Bangsa Arab seperti bangsa Indonesia ? 

 Wanita dan pria bercampur dalam ruangan

             Melihat menonton Festival , Band  maupun Sepak bola secara bersama antara wanita dan pria di lapangan / stadion yang luas , adalah budaya di kota-kota di seluruh dunia.  Semua itu adalah budaya kota.

       
         Keterangan gambar diatas : Gambar 1 : Para wanita suporter sepakbola di Arab Saudi yang sudah tidak berjilbab . Gambar 2 : Para penonton Festival pria dan wanita bercampur baur di dalam stadion . Gambar 3 : Di Aceh penyelenggara konser dihukum tidak boleh menyelenggarankan even selama 2 tahun karena tidak memisahkan pria dan wanita . Ini disebakan karena para Ulama dan para penyelenggara pemerintahan / politisi di Aceh telah menerapkan  budaya Arab Baduy pedesaan / Rural seperti keharusan memakai Jilbab , memisahkan pria dan wanita dengan Undang-Undang . Hal ini seperti Undang-Undang wajib helm di kota-kota di Indonesia . Bagi pelanggar ada hukumannya. Tetapi lain di Indonesia lain di Arab Saudi sekarang. Mereka mulai membolehkan campurnya wanita dan pria dalam satu ruangan dan membolehkan wanita tak berjilbab. Mereka sadar bahwa pemisahan pria dan wanita dan pewajiban Jilbab bukanlah ajaran Islam tapi hanyalah Budaya nenek moyang mereka di pedesaan gurun pasir yang tidak diwajibkan Islam / Alquran. Kelak tidak ada lagi pemisahan pria dan wanita dan tidak ada lagi wanita di Arab yang memakai Jilbab. Lantas orang Indonesia akan mengekor kemana bila yang di ikuti Ulama / Negara Arab Saudi malah membolehkan pria dan wanita bercampur dan memakai pakaian yang tidak memakai kerudung / jilbab ( terlihat rambutnya ) seperti budaya perkotaan lainnya di dunia. 

BUDAYA ARAB BADUY MEMUSNAHKAN JUTAAN LAPANGAN PEKERJAAN

Mengembangkan budaya lokal memakmurkan rakyat

            Pelajaran dari virus corona yang menerjang Indonesia. Kegiatan masyarakat dibatasi seluruhnya dengan harus tetap berada dirumah dan tidak bepergian. Akibatnya banyak orang kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin dan kelaparan akibat sedikitnya kegiatan yang terkait dengan ekonomi. Pelajaran yang didapat adalah : semakin banyak kegiatan semakin banyak pekerjaan dan semakin banyak orang kaya / sejahtera secara halal. Hal ini bertentangan dengan Islam budaya Arab Baduy yang berkembang akhir-akhir ini yang Anti budaya lokal. Padahal Islam jelas mengajarkan umatnya kaya dengan uang halal. Buktinya , kewajiban seorang Islam adalah menolong orang lain seperti menolong anak yatim , menolong orang meminta-minta ( miskin ) , orang asing yang dalam kesulitan dalam perjalanan di daerah kita ( Al-Baqarah 2:177 ) . Apalagi kewajiban untuk menutut Ilmu Pengetahuan ( Al Mujadallah 58:11 ) , semua ini memerlukan biaya yang besar. Belum lagi uang untuk bayar asuransi kesehatan setiap bulan ( bpjs ) , makan , minum , membayar tagihan listrik PLN , membeli kendaraan untuk transportasi dan masih banyak lagi. Semua ini membutuhkan penghasilan bulanan dari pekerjaan berdagang ataupun bekerja di usaha milik orang lain. Sungguh aneh dan bertolak belakang bila ajaran Islam kemudian malah menghancurkan pekerjaan jutaan umat Islam sendiri. Tetulah hal ini salah tafsir.

            Keterangan Gambar 1 : Dalam dunia modern sekarang ini , kehilangan pekerjaaan adalah malapetaka hidup. Karena kebutuhan makan sekeluarga , sekolah anak , bayar rumah , uang untuk kesehatan butuh dana / uang. Umat Islam Indonesia butuh lapangan pekerjaan yang banyak. Karena masalah ekonomi dunia yang sedang lesu karena perang dagang Amerika dan Virus Corona yang merebak di seluruh dunia , sungguh ironi ketika para ulama kita sekarang sebagian besar malah secara salah kaprah mewajibkan budaya Arab Baduy dengan alasan kewajiban agama. Dengan demikian kita bangsa Indonesia akan digantikan dengan Budaya Arab Baduy dan kita akan kehilangan Budaya kita yang Indah itu. Akibatnya tidak ada wisatawan dalam negeri maupun luar negeri yang datang membawa pekerjaan. Gambar 2 , 3 :  Mengembangkan budaya akan memakmurkan masyarakat. Hotel yang penuh akan mempekerjakan ribuan karyawan , office boy , tukang masak , sopir dan rantai makanan seperti sayuran dipasar-pasar tradisional. Gambar 4 : Kebudayaan seperti ini akan menghidupkan Ekonomi Kreatif yang meliputi Fee atau gaji para penari , perias kostum , tukang jahit , pembuat baju , penabuh gamelan , tukang sewa sound sistem dan masih banyak lagi. Bila budaya Arab Baduy yang anti Kebudayaan seperti dalam kitab Hadis itu diwajibkan ( wajib wajib berjilbab misalnya ) menjadi Undang-undang seperti di Aceh , maka pakaian adat kita lenyap dan semua bentuk ekonomi Kreatif kita akan lenyap. Keindahan budaya kita saat para penari tradisi Jawa , Sulawesi , Sumatera diganti dengan jilbab pakaian tradisi Arab , sudah hilang keunikannya.  Dan dalam bentuknya yang asli , budaya Arab Baduy mengharamkan / melarang orang ( pria dan wanita )  menari, menyanyi , bermain alat musik , membuat patung , melukis  dsb. Karena memang di Padang pasir tidak ada apa-apa seperti pohon kapas yang bisa menghasil bermacam warna-warni pakaian. Pohon kayu jati, tanaman  yang bisa menghasilkan budaya seperti gitar , biola , gamelan dsb.. Kemudian adakah wisatawan mau kesini lagi ? Jutaan orang yang terkait ekonomi tradisi akan kehilangan hidup sejahtera karena hilangnya  kesempatan kerja.Bangsa Indonesia sedang bunuh diri dengan tangannya sendiri.  Marilah kita kembali ke ajaran Tuhan/Alquran yang mewajibkan / menghimbau  setiap orang berbuat sesuai dengan budaya lokalnya masing-masing ( Al Isra 84 ). 

RAMBUT : KARUNIA TUHAN YANG DISIA-SIAKAN

Wajib Jilbab menciptakan jutaan pengangguran 

                Tuhan/ Allah yang maha mengetahui ,  sudah berkata / berfirman betapa sifat manusia yang senang memaksakan pendapat , akan berakhir dengan tidak beruntung alias  kerugian manusia itu sendiri . Sifat dasar manusia yang mendapat kepuasaan bila pendapat kelompoknya di anut orang lain semakin terlihat akhir -akhir ini. Kelompok penganut Budaya Arab Baduy , dengan senang hati dan bersungguh –sungguh mengatakan “  ini haram , itu halal “ se-olah olah yang dikatakan itu adalah ucapan Tuhan. Padahal tak satupun yang dikatakan itu ada di Alquran. Contoh yang sering kita dengar , bersalaman dengan orang lain yang bukan saudara haram , memperlihatkan rambut haram , memelihara anjing haram  , menggantung atau mengkoleksi lukisan mahluk bernyawa haram , berfoto haram , mamakai tato haram , wanita merias wajah haram , laki laki berkumpul dengan wanita pada satu ruang haram sehingga harus di pisah dengan tabir kain , mencat rambut warna hitam haram dan masih banyak haram - haram yang lain.  Padahal semua ini tidak ada di Alquran.  Marilah kita ingat lagi peringatan Tuhan di bawah ini : 

           “ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” . ( An Nahl 16 :116 )

        “..mengada-adakan kebohongan terhadap Allah..”  maksudnya mengatas namakan Tuhan, padahal Tuhan tidak memberi keterangan di Alquran.


              Keterangan gambar  kiri : Dalam kebudayaan terdapat potensi jutaan lapangan pekerjaan , termasuk budaya / adat memotong rambut oleh wanita kita dulu sebelum tahun 1979 , dengan model yang bermacam-macam. Rambut yang setiap hari memanjang adalah karunia Tuhan untuk lapangan kerja yang tiada habisnya. Potensi jutaan lapangan pekerjaan ini sekarang telah disia-siakan oleh umatnya sendiri dengan suatu ajaran yang tidak ada di alquran ,  “ rambut adalah aurat yang harus ditutup dengan jilbab “ . Rambut jelas bukan Aurat bagi wanita Indonesia. Aurat ( bahasa Indonesia : Tabu , bhs. Jawa : saru ) adalah anggota badan yang tidak layak diperlihatkan kepada masyarakat umum. , seperti halnya payudara , pantat , alat kelamin dan bagian-bagian anggota badan yang biasa tertutup lainnya. Akibatnya , jangan disalahkan sebagai tidak Islami , ketika sampai di rumah ,  para Ibu rumah tangga dan pelajar kita , melepas jilbabnya  ke warung tetangga sebelah . Selain merasa sumuk ( panas dan lembab ) mereka juga merasa rambut bukan hal tidak senonoh untuk diperlihatkan di jalanan , karena merasa rambut bukanlah aurat ( lihat gambar atas paling kiri ). Karena hasil indoktrinasi/tekanan dari teman dan lingkungannya , akhirnya rambut sekedar hanya “ aurat-auratan” alias bukan aurat sebenarnya. 

            Gambar tengah : Wisuda Fak. Kedokteran UGM 1986 dimana para wanita masih memakai pakaian tradisi dengan bawahan batik dan masih tampak rambutnya. Pakaian jilbab dan gamis yang bermotif polos , bila semakin meluas dipakai oleh ratusan juta wanita Indonesia akan membangkrutkan jutaan pedagang kecil di pasar-pasar lantaran tidak ada lagi yang membeli kain batik. Bila kembali ke ajaran Alquran yang mewajibkan / mengharuskan berpakaian sesuai keadaan adatnya masing-masing ( Al Isra 84 )  , maka  tafsir ini betul -betul menjadi rahmat bagi para pedagang kecil pasar itu. Karena ratusan juta wanita kembali berbelanja pakaian adatnya masing-masing di seluruh Indonesia. Inilah tafsir yang paling tepat sesuai dengan Rahmatan lil alamin ( rahmat bagi seluruh alam semesta ) , bukan hanya rahmat bagi orang Arab ataupun rahmat bagi pedagang jilbab saja. 

            Gambar kanan : karena Ulama sekarang mewajibkan Budaya Arab Baduy / jibab beserta jubahnya  maka permintaan konsumen untuk memotong rambut dan merias pakaian tradisi menurun , banyak usaha salon yang mati. Ini berbeda dengan jaman saya , di tahun 1980an kebawah , 1970 an , 1960an , yang bisa menjadi lapangan pekerjaan jutaan wanita. Bahkan orang yang tidak mampu seperti anak tukang becak , anak buruh tani dapat berkesempatan untuk memperoleh penghasilan yang baik. Tidak usah sekolah kedokteran , ekonomi , arsitektur , siapa saja yang bisa dilatih kemudian dapat hidup dengan sejahtera. Sekarang di tahun 2020 tarif potong untuk pria 10 rb rupiah dan wanita 30 rb rupiah. Sehari mereka mencukur 3 orang saja para tukang cukur pria mendapat 900.000 per bulan. Dan salon wanta 3 orang perhari mendapat hampir 3 juta ruiah per bulan . Sungguh memecahkan masalah kemiskinan dan menyejahterakan muslim Indonesia. Contohnya nenek dari ibu saya , yang menjanda dengan anak 8 orang , karena kakek saya meninggal kecelakaan. Beliau akhirnya dapat menyekolahkan seluruh anaknya hingga SMA dan perguruan Tinggi dengan membuka salon di tahun 1960an. Dengan menurunnya usaha salon ,  akhirnya yang jadi korban , wanita juga. Tapi sebaliknya bila para Ulama sekarang kembali seperti Ulama dulu yang berpedoman pada Alquran yang membolehkan semua budaya , dengan mengatakan jilbab tidak wajib , tapi hanya pilihan ( siapa yang suka boleh mengenakan , yang senang tradisi Indonesia juga boleh )  , maka terciptalah jutaan lapangan kerja bagi wanita di seluruh Indonesia. Tapi apakah Ulama kita mau ?

TAK ADA SEORANGPUN DI INDONESIA YANG MENUTUP AURAT  
        
Salah kaprah ajaran orang dianggap ajaran Agama ( Tuhan )

Rambut hanya aurat-auratan. Sungguh menyedihkan kondisi umat Islam sekarang. Ucapan / Firman Tuhan sebagai Fokus utama ajaran Islam agar menjadi Orang Saleh yaitu orang beriman yang bermanfaat bagi orang lain karena selalu berbuat baiik/jujur kepada orang lain beralih fokus menjadikan umat Islam menjadi berbudaya Arab. Ucapan manusia dianggap ajaran Tuhan , dan mereka tak menyadarinya karena mereka tidak diberi tahu para Ustadz yang berperan sebagai guru.  “ Seluruh tubuh adalah aurat kecuali WAJAH dan TELAPAK TANGAN “ , ucapan Ibnu Abbas ini sekarang dianggap ajaran Tuhan / ajaran Islam. Dengan begitu pakaian yang benar adalah MUKENA saat seorang wanita sedang melaksanakan shalat (lihat gambar 1). Tapi saya bertanya kepada para wanita kita , apakah ada wanita Indonesia yang mau keluar rumah , ke mall , kuliah  memakai Mukena? Hampir tidak ada yang mau , kecuali tentu beberapa gelintir orang saja diatara ratusan juta umat Islam. Marilah kita perhatikan pada gambar 2 , wanita pemegang kertas “ aurat terbuka dijilat api neraka “  padahal mereka sendirilah yang tidak menutup aurat-nya , kan jelas aturannnya “ seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan” .Dengan begitu   Aurat para wanita pendemo itu terbuka  yaitu punggung tangan dan 10 cm lengan bawah keatas. Nah , bagaimana mereka ini ?  Kalau benar begitu dia dan kelompoknya akan “ di jilat di api neraka !!! “. Karena telah memperlihatkan aurat , punggung tangan sampai 10 cm ke atas lengan bawah ( lihat gambar bawah ). Tetapi  untunglah “ Aurat terbuka di jilat api neraka “ hanyalah kata-kata yang mengada adakan kebohongan atas nama Allah/Tuhan. karena Kata kata ini tidak ada di Alquran. Bukankah seseorang masuk neraka atau tidak adalah Hak Allah semata? Ternyata mereka ini seperti dikatakan Cak Nun , telah bertindak seperti panitiya masuk neraka. 


Mengada-ada  : “ ini halal dan ini haram” tertimpa azab pedih.

          Ini juga bahan kajian kita bersama bagi para ulama di NU dan Muhammdyah , mengapakah sistem pendidikan agama kita sekarang mengasilkan banyak Ulama dan wanita yang cenderung merasa pendapatnya paling bernar sendiri , menganggap orang lain salah/sesat . Sistem pendidikan ini hanya menghasilkan orang yang akan menjadi ganas , peneror mental orang lain , sampai orang lain mengikuti pendapat mereka yang belum tentu juga benar. Di tingkat Ulama , saya sering saat jumatan mendengar Ulama golongan A yang mengharamkan tahlilan , ziarah kubur atau menabur bunga  , suatu kebiasaan dari orang sesama Islam dari golongan B . Silahkan ketik Google : Tahlilan Bid’ah. Tapi ada golongan Islam C yang menganggap bukan golongannya sebagai Kafir. Tidak tanggung-tanggung bila Gol. A dan B shalat di mesjid mereka , bekas telapak kaki dan tangan saat shalat pun di pel karena dianggap kafir. Google : bekas shalat di pel.  Perilaku yang merasa sombong dan bertindak sebagai hakim ,  menganggap orang lain keliru. 
           Kini , hampir semua wanita berjilbab karena hasil Teror mental dan intimidasi. Anda bisa lihat gambar diatas , perilaku mahasiswi kita  , yang bahagia dan senang men-teror dan mengintimidasi . Mereka menakut –nakuti masuk neraka , seperti para pendemo itu  yang mengatakan “ aurat terbuka di jilat api neraka “. Mereka mengharamkan rambut terlihat . Mereka menyerang para wanita yang terlihat rambutnya . Dan bersikap menghakimi , bahwa mereka akan di jilat masuk api neraka. Mereka ini bersikap seolah-olah seperti Tuhan sendiri , dengan mengatakan dengan lidahnya  “ ini halal dan ini haram “  . Kemudian dengan pendapatnya yang halal dan yang haram itu  memasukkan orang lain ke surga atau Neraka.  Padahal itu hanya hasil opini mereka saja. Tidak pernah Tuhan di Alquran menyatakan , “ Rambut adalah aurat  , haram di perlihatkan “ atau  “ aurat terbuka dijilat api neraka “. Hasil teror mental itu berhasil memaksa/menakut-nakuti hampir semua wanita Indonesia untuk memakai jilbab.  Tapi masalahnya ini adalah ajaran orang  bukan ajaran Tuhan . Kalau anda sangsi silahkan cari sendiri di Alquran  kata – kata ini “ rambut aurat , haram di perlihatkan  “  atau aurat terbuka di jilat api neraka “. Silahkan juga tanya kepada para Ulama anda , pasti mereka membenarkan ucapan saya. Kata-kata ini tidak ada di Alquran.  Tiba-tiba saya teringat Firman Tuhan di Alquran :

          “Katakanlah: ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji….melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, ….dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui ”. (QS. al-A’raaf: 33)

               Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini Haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. 16:116) (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. (QS. 16:117)” (an-Nahl: 116-117)

          Gambar ke 3 dan ke 4, adalah para sahabat wanita  penulis di tahun 1970an para mahasiswa UGM dan mahasiswa UII Yogyakarta . Sebagai catatan mahasiswa UII tersebut adalah lulusan dari SMA  Muhammadyah 1 ( MUHI ). Perhatikan dulu institusi Islam tak berjilbab. Mereka itu , walaupun tak berjilbab , tak ada pemisahan laki laki dan perempuan ,  perilaku mereka sangat sopan , santun ,saling menghargai pendapat orang lain . Tidak pernah sekalipun ada perilaku yang meneror orang lain untuk memaksakan pendapatnya , seperti sebagian  mahasiswa kita sekarang ini. Saat itu hidup terasa nyaman penuh persahabatan. 

Penulis :

 

dr. Surya Habsara Sp. B

Dokter Spesialis Bedah bekerja di

Rumah Sakit Panembahan Senopati.

Bantul. Yogyakarta . Indonesia.

suryahabsara@yahoo.com

Hp : 085228443333


Sumber penulisan :


1. Esposito ,John L (ed), Sains-sains Islam (Jakarta:Inisiasi Press, 2004).
2. V.Barus ( et.al).Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar, ( Jakarta: PT Ichtiar baru Van Hoeve ,2002).
3, Harian KOMPAS. 4 oktober 2009 (kompas) 4. Majalah Femina no. 42/XXXVI, 23-29 Oktober 2008. 5. Shihab,M. Quraish, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah, ( Jakarta: Lentera Hati, 2004 ) 6.Al-Albani,Muhammad Nashiruddin, Mendudukkan Polemik Berjilbab, ( Jakarta: Pustaka Azzam, 2004) 7. El Guindi,Fadwa, Jilbab antara kesalehan,Kesopanan dan Perlawanan. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta: 2003 ) cet. Ke 2.

8. Sholeh,K.H.Q., Dahlan,H.A.A, Asbabun Nuzul, ( Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2007) cetakan  ke 10. 

9. Armstrong, Karen,Sejarah Muhammad, (Magelang: Pustaka Horizona, 2007) cet. ke1.
10. Yasid, Abu, Dr,LL.M., Nalar dan Wahyu, ( Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007)
11. Misrawi,Zuhairi, Hadrassyaikh Hasyim Asy’ari, moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan, ( Jakarta: PT.Kompas Media Nusantara, 2010)
12. Refleksi pemikiran Nurcholis Majid, Menembus batas tradisi , menuju masa depan yang membebaskan, ( Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2006) .
13. Syadid, Abu Abdillah Akira , Hikmah sang Nabi, (Yogyakarta: Nuqthoh,2006). Cetakan pertama.
14. Razwi, Sayeds Ali Asgher, Muhammad rasulullah Saw , sejarah perjuangan Nabi Islam menurut sejarawan timur dan barat, ( Jakarta: Pustaka Zahra,1997)  
15. Bucaille, Maurice , Dr, Firaun dalam bibel dan Al-Quran, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007).
16. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/05/studi-sejarah-hadis/
17. Hitti, Philip K , History of the Arabs , ( Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008).
18. Kamus besar Bahasa Indonesia. ( Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2002)
19. Lings, Martin , Muhammad, ( Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta,2008)
20.Armstrong, Karen. Islam : A Short History , ( Surabaya : Ikonteralitera, cetakan ke- - empat Agustus, 2004)
21. Sya’rawi , M,Mutawalli, Prof.DR, Anda bertanya Islam Menjawab, ( Jakarta : . .Gema insani Press,cetakan ke tujuh 1991 )
22. Buletin berkala. Ulil Albab, edisi khusus Maulud Nabi Muhammad SAW , ( Yogyakarta: Pimpinan cabang Pemuda Muhammadyah Pakualaman Jogjakarta, maret 2008 )
23. http://sy99.wordpress.com/2009/05/03/sejarah-penulisan-al-quran/
24.http://kampusislam.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=278
25.http://muslimsaja.wordpress.com/2010/09/04/jejak-sejarah-larangan-penulisan-hadits/
26. Haq Vidyarthi Abdul, Ahad Dawud ‘ Abdul, “Ramalan tentang Muhammad saw. Dalam kitab suci agama Zoroaster,Hindu, Budha dan Kristen”
27. V.Barus ( et.al).Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar, ( Jakarta: PT Ichtiar baru Van Hoeve ,2002). 28.http://mycompilations.blogspot.com/2010/03/jilbab-antara-kesucian-dan-resistensi.html 29.http://namakugusti.wordpress.com/2010/10/13/kerudung-dalam-tradisi-yahudi-kristen/.
30. http://www.aliciapatterson.org/APF001970/Stern/Stern05/Stern05.html
31. Muhammad Ali, Wan Muhammad , Hijab Pakaian penutup Aurat Istri Nabi, ( Jogjakarta: Citra Risalah . cetakan pertama april 2008)
32. Utsman, Fathi , Ijtihad Pakar Islam Masa Lalu, ( Solo : CV. Pustaka Mantiq, juni 1994).
33.Utsman, Muhammad Ali , Para Seniman Muslim, (Yogyakarta, Pilar Religia, Juli 2005)
34. Chirzin, Muhammad, DR, Nabi Muhammad & Dua Wajah Islam Dari Negeri Spinx, ( Yogyakarta, Ad-Dawa’Jogjakarta, cetakan pertama, April 2004)
35, Sucipto , Hery, The Great Muslim Scientist, ( Jakarta Selatan : Grafindo Khazanah Ilmu , cetakan pertama 2008).
36. http://www.outlookindia.com/article.aspx?237883
37. http://uin-suka.info/ejurnal/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=24
38. http://alim-online.blogspot.com/2009/12/hadis-pada-masa-rasulullah-saw.html
39. Soelaiman , Kasim, Salman Al Farisi, ( Jakarta, : P.T. Sastra Hudaya , cetakan kedua 1982)
40.http://pasektangkas.blogspot.com/2007/10/puasa-menurut-hindu.html 41.http://abhicom2001.multiply.com/journal/item/83/Fashion_by_Ziryab_sebuah_gaya_hidup
42. http://en.wikipedia.org/wiki/Ziryab
43. Replubika senin, 11 April 2011.
44. http://web1.kunstkamera.ru/exhibition/kavkaz/eng/xixc.htm
45. Armstrong, Karen, Satu Kota Tiga Iman, ( Surabaya, : Risalah Gusti , cetakan pertama 2004)
46. Selidik National geographic : Arkeologi menguak rahasia masa lampau India kuno.( Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2011)
47. http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu
48. Alqaththan,Manna’, Syeikh, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Jakarta Timur, : Pustaka Al Kautsar, cetakan ke lima November 2010 )
49. Yamani ,Ja’far Khadim, Dr. “Sejarah Kedokteran Islam Dari Masa Ke Masa”, (Bandung : Dzikra , cetakan pertama mei 2005 )
50. Al-Hasan, Muhammad Alki . Dr. Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Quran, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2007. 51. The World Encyclopedia no 11. Publishers Company inc. Washington D.C. USA.1965.
52. Budiawan. Anak Bangsawan bertukar jalan. Yogyakarta, : LKiS , cetakan 1 : November 2006.
53. Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadits Jilid 1. Penerbit : PT Sapta Sentosa .Cetakan ke IV juni 2010.
54. http://ruangpelangi.wordpress.com/2011/05/28/kesamaan-islam-dengan-hindu/
55. Ma’ arif , Majid , Dr. “ Sejarah Hadis “ . Penerbit : Nur Al – Huda . Cetakan I Februari 2012
56.http://news.nationalgeographic.com/news/2009/12/091209-ancient-tablets-decoded/
57. Sheikh Saad Said Al Ghamidi . Qari CD for Digital Alquran ,

58. Tafsir Ibnu Katsir III . : penerbit Gema Insani Press .             


0 comments:

Post a Comment